Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim. Terutama saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya. Apakah itu kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya. Karenanya, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Apalagi seorang dai. Jika orang banyak mengatakan dia ”sama saja”, tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati orang-orang yang didakwahinya. Dakwahnya layu sebelum berkembang. Karena itu, setiap mukmin, terutama para dai, harus menjadikan zuhud sebagai perhiasan jati dirinya. Rasulullah saw. bersabda,”Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu” (HR Ibnu Majah, tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Makna dan Hakikat Zuhud
Makna dan hakikat zuhud banyak diungkap Al-Qur’an, hadits, dan para ulama. Misalnya surat Al-Hadiid ayat 20-23 berikut ini.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Ayat di atas tidak menyebutkan kata zuhud, tetapi mengungkapkan tentang makna dan hakikat zuhud. Ayat ini menerangkan tentang hakikat dunia yang sementara dan hakikat akhirat yang kekal. Kemudian menganjurkan orang-orang beriman untuk berlomba meraih ampunan dari Allah dan surga-Nya di akhirat.
Selanjutnya Allah menyebutkan tentang musibah yang menimpa manusia adalah ketetapan Allah dan bagaimana orang-orang beriman harus menyikapi musibah tersebut. Sikap yang benar adalah agar tidak mudah berduka terhadap musibah dan apa saja yang luput dari jangkauan tangan. Selain itu, orang yang beriman juga tidak terlalu gembira sehingga hilang kesadaran terhadap apa yang didapatkan. Begitulah metodologi Al-Qur’an ketika berbicara tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengarahkan manusia untuk bersikap zuhud.
Dari ayat itu juga, kita mendapat pelajaran bahwa akhlak zuhud tidak mungkin diraih kecuali dengan mengetahui hakikat dunia –yang bersifat sementara, cepat berubah, rendah, hina dan bahayanya ketika manusia mencintanya– dan hakikat akhirat –yang bersifat kekal, baik kenikmatannya maupun penderitaannya.
Demikian juga ketika Rasulullah saw., ingin membawa para sahabatnya pada sikap zuhud, beliau memberikan panduan bagaimana seharusnya orang-orang beriman menyikapi kehidupannya di dunia. Rasulullah bersabda, ”Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.”(HR Bukhari). Selanjutnya Rasulullah mencontohkan langsung kepada para sahabat dan umatnya bagaimana hidup di dunia. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih, paling semangat dalam ibadah, paling gigih dalam berjihad. Tetapi pada saat yang sama beliau tidak mengambil hasil dari semua jerih payahnya di dunia berupa harta dan kenikmatan dunia. Kehidupan Rasulullah saw. sangat sederhana dan bersahaja. Beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di akhirat dan keridhaan Allah swt. Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)
Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i, zuhud bermakna mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Abu Idris Al-Khaulani berkata, ”Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah lebih menyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Dan jika kita ditimpa musibah, maka kita sangat berharap untuk mendapatkan pahala. Bahkan ketika musibah itu masih bersama kita, kita pun berharap bisa menambah dan menyimpan pahalanya.” Ibnu Khafif berkata, ”Zuhud adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.” Ibnu Taimiyah berkata, ”Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti.”
Keutamaan Zuhud terhadap Dunia
Zuhud merupakan sifat mulia orang beriman karena tidak tertipu oleh dunia dengan segala kelezatannya baik harta, wanita, maupun tahta. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Tapi, orang beriman beramal shalih di dunia, memakmurkan bumi, dan berbuat untuk kemaslahatan manusia, kemudian mereka meraih hasilnya di dunia berupa fasilitas dan kenikmatan yang halal di dunia. Pada saat yang sama, hati mereka tidak tertipu pada dunia. Mereka meyakini betul bahwa dunia itu tidak kekal dan akhiratlah yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, orang-orang beriman beramal di dunia dengan segala kesungguhan bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, tetapi untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat.
Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa Hadits yang menerangkan keutamaan zuhud terhadap dunia:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 14-15).
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al-Kahfi: 45-46)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al-Ankabut: 64).
Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Rasulullah saw. mengabarkan kepada kita bahwa didatangkan orang yang paling senang di dunia sedang dia adalah ahli neraka di hari kiamat, dicelupkan ke dalam api neraka satu kali celupan. Kemudian ditanya, ”Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah engkau merasakan kenikmatan (di dunia)?” Maka dia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.” Kemudian didatangkan orang yang paling menderita di dunia dan dia ahli surga, dicelupkan satu kali celupan di surga. Kemudian ditanya, ”Wahai Anak Adam, apakah engkau pernah menderita kesulitan? Apakah lewat padamu suatu kesusahan (di dunia)?” Maka ia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah aku mengalami kesusahan dan kesulitan sedikitpun.” (HR Muslim)
Rasulullah bersabda, “Demi Allah, perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang menyelupkan tangannya ke dalam lautan, lihatlah apa yang tersisa.” (HR Muslim)
Tanda-tanda Zuhud
Imam Al-Ghazali menyebutkan ada 3 tanda-tanda zuhud, yaitu: pertama, tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang. Kedua, sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan. Ketiga, hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan. Apakah cinta Allah atau cinta dunia. Dan keduanya tidak dapat bersatu.
Jadi, tanda zuhud adalah tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan, kemuliaan dan kehinaan, pujian dan celaan karena adanya dominasi kedekatan kepada Allah.
Yahya bin Yazid berkata, ”Tanda zuhud ada dermawan dengan apa yang ada.” Imam Ahmad bin Hambal dan Sufyan r.a. berkata, ”Tanda zuhud adalah pendeknya angan-angan.”
Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para sahabatnya: Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman. Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”
Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, ”Dimana orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?” Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya balik bertanya, ”Bukankah kalian bertanya tentang mereka?”
Abu Sulaiman berkata, ”Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya.”
Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya. Pemerintahan Islam berhasil menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Perdaban dibangun atas dasar keimanan dan moral. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling zuhud, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi.
Tingkatan Zuhud
Zuhud orang-orang beriman memiliki tingkatan. Zuhud terhadap yang haram, zuhud terhadap yang makruh, zuhud terhadap yang syubhat, dan zuhud terhadap segala urusan dunia yang tidak ada manfaatnya untuk kebaikan hidup di akhirat.
Zuhud terhadap yang haram hukumnya wajib. Orang-orang beriman harus zuhud atau meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah. Bahkan sifat-sifat orang beriman, bukan hanya meninggalkan yang diharamkan, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Kualitas keimanan dan keislaman seseorang sangat terkait dengan kemampuannya dalam meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Allah swt. berfirman, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 3). Rasulullah saw. bersabda, ”Diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)
Imam Ahmad mengatakan, ”Zuhud ada tiga bentuk. Pertama, meninggalkan sesuatu yang haram, dan ini adalah zuhudnya orang awwam. Kedua, meninggalkan berlebihan terhadap yang halal, ini adalah zuhudnya golong yang khusus. Ketiga, meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkannya dari mengingat Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”
Hal yang berkaitan dengan zuhud ada 6 perkara. Seseorang tidak berhak menyandang sebutan zuhud sehingga bersikap zuhud terhadap 6 perkara tersebut, yaitu; harta, rupa (wajah), kedudukan (kekuasaan), manusia, nafsu, dan segala sesuatu selain Allah. Namun demikian, ini bukan berarti menolak kepemilikan terhadapnya. Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. adalah orang yang paling zuhud di zamannya, tetapi memiliki banyak harta, wanita, dan kedudukan.
Nabi Muhammad saw. adalah nabi yang paling zuhud, tetapi juga punya beristri lebih dari satu. Sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga tanpa hisab, kecuali Ali bin Abi Thalib, semuanya kaya raya, tetapi pada saat yang sama mereka adalah orang yang paling zuhud. Mereka adalah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Said bin Abdullah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling zuhud. Meskipun demikian ketika meninggal dunia, beliau meninggalkan 21 wanita: 4 orang istri merdeka dan 17 budak wanita.
Setiap orang beriman harus senantiasa meningkatkan kualitas zuhudnya. Itulah yang akan memberinya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta meraih ridha Allah swt. Orang-orang yang berkerja keras mencari nafkah dengan cara yang halal. Ketika berhasil meraih banyak harta kemudian menunaikan kewajiban atas harta tersebut, seperti zakat, infak, dan lainnya. Dengan berlaku seperti itu, dia termasuk orang zuhud. Orang-orang yang beriman yang memiliki istri lebih dari satu untuk membersihkan dirinya (iffah) adalah termasuk orang yang zuhud.
Sedangkan orang kafir, karakteristiknya adalah rakus terhadap kehidupan dunia dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bagi mereka tidak ada istilah halal dan haram. Mereka tidak mengenal perbedaan antara nikah dengan zina, antara hadiah dengan suap, antara bisnis dengan riba, antara makanan halal dengan yang haram. Bahkan pada hal yang dianggap tabu saja orang-orang kafir berupaya menghalakan semuanya. Perzinaan mereka menghalalkan dengan dalil hak asasi manusia.
Berawal dari kebebasan hak untuk membuka aurat dalam berbusana. Permisif dalam pergaulan dengan membolehkan berduaan di tempat sepi. Berciuman di tempat umum dijadikan hal lumrah. Sehingga, perilaku perzinaan menjadi berita yang selalu dipertontonkan di teve dan dikabarkan di tabliod. Dari mulai perzinaan lelaki dengan perempuan yang belum menikah, perzinaan lelaki dan perempuan yang sudah menikah, sampai perzinaan sejenis: lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan. Dari perzinaan inces sampai perzinaan yang dilakukan bukan pada tempatnya. Begitulah kehidupan orang kafir. Mereka seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)
Fudhail bin ‘Iyyadh berkata, “Allah menjadikan segenap keburukan dalam sebuah rumah, dan menjadikan kuncinya adalah cinta dunia. Dan Allah menjadikan segenap kebaikan dalam sebuah rumah, dan menjadikan kuncinya adalah zuhud dari dunia.”
Tragisnya, kepemimpinan dunia saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Sehingga, kerusakannya sangat dahsyat. Jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Pola hidup materialisme mendominasi di hampir semua lapangan kehidupan. Tolok ukur kesusesan diukur dari sejauh mana berhasil meraup sebanyak-banyak materi, tanpa memperhatikan ukuran agama dan moral. Maka berlomba-lombalah setiap orang menjual diri dan harga diri untuk meraih sebanyak-banyaknya materi. Dan mayoritas umat Islam terimbas budaya materialisme itu. Pola hidupnya mirip dengan orang kafir sehingga terjadilah kerusakan yang sangat dahsyat. Realitas seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya dimana umat Islam terkena virus wahn (cinta dunia dan takut mati) dan berpola hidup materialisme hampir sama dengan orang kafir.
Cinta dunia dan rakus terhadap harta adalah penyakit yang paling berbahaya. Segala bentuk kejahatan bermuara dari kerakusan terhadap dunia dan pola hidup materialisme: perzinaan dan seks bebas, penjualan bayi, narkoba, perjudian, riba, korupsi, dan lain sebagainya. Karenanya, Rasulullah saw. mengingatkan akan bahaya rakus terhadap harta, ”Tidaklah dua serigala lapar yang dikirim pada kambing melebihi bahayanya daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi)
Upaya penyadaran kembali umat Islam tentang hakikat dunia dan akhirat sangat penting. Bahwa keimanan terhadap hari akhir adalah prinsip yang harus terus menerus diingat dan ditanamkan kepada umat Islam sehingga motivasi dan tujuan hidup mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam. Semakin kuat keimanan seseorang kepada hari akhir, akan semakin baik dan semakin zuhud. Sebaliknya, semakin lemah keimanan seseorang kepada hari akhir, akan semakin jahat dan semakin rakus.
Dalam sebuah riwayat disebutkan dua orang zuhud bertemu, Ibrahim bin Adham dan Syaqiq Al-Balkhi. Syaqiq bertanya kepada Ibrahim, “Apa yang Anda ketahui tentang dunia?” Ibrahim balik bertanya, “Kalau menurut Anda, bagaimana?” Syaqiq menjawab, “Jika kami tidak mendapatkanya, maka kami harus bersabar. Dan jika mendapatkannya, maka kami harus bersyukur.” Ibrahim bin Adham berkata, “Kalau seperti itu, maka anjing Balakh (sebuah kota di Afghanistan) pun melakukannya.” Syaqiq bertanya, “Lalu, bagaimana menurut pendapat anda?” Ibrahim menjawab, “Jika tidak mendapatkan dunia, kami bersyukur. Dan jika mendapatnya, kami itsaar (mengutamakannya untuk orang lain).” Demikianlah bahwa zuhud memang memiliki tingkatan.
Kesalahpahaman terhadap Zuhud
Banyak orang yang salah paham terhadap zuhud. Banyak yang mengira kalau zuhud adalah meninggalkan harta, menolak segala kenikmatan dunia, dan mengharamkan yang halal. Tidak demikian, karena meninggalkan harta adalah sangat mudah, apalagi jika mengharapkan pujian dan popularitas dari orang lain. Zuhud yang demikian sangat dipengaruhi oleh pikiran sufi yang berkembang di dunia Islam. Kerja mereka cuma minta-minta mengharap sedekah dari orang lain, dengan mengatakan bahwa dirinya ahli ibadah atau keturunan Rasulullah saw. Padahal Islam mengharuskan umatnya agar memakmurkam bumi, bekerja, dan menguasai dunia, tetapi pada saat yang sama tidak tertipu oleh dunia.
Segala yang halal itu jelas dan segala yang haram itu jelas, di antara keduanya ada yang syubhat yang harus kita jauhi dan tinggalkan. Semoga Allah menjadi kita bagian orang yang zuhud dan diberi kita pemimpin zuhud yang membimbing kita dalam memakmurkan dunia.
www.tips-fb.com By Imam Handoko Kurniawan
MUDHOROBAH CLUB (ALIKS COLLECTION) MEMPRODUKSI LEBIH 400 MODEL SANDAL SEPATU PRIA & WANITA (SANDAL: Santai, Spon/mika, Weekend/Selop, Bapao, Wedges, Gladiator, Batik, Kelom, Sandal Gunung. SEPATU: Balet, Kanvas, Wedges, Safety Shoes, Kulit Asli/Sapi, Batik, Pantopel, Casual, Sepatu Haji/Umroh, Sepatu Olahraga). JUGA MELAYANI MAKLON (MODEL/MERK SENDIRI) HUB.0251-8636024 Hp.0813-10620-126 (PIC: ALIK) atau langsung ke: BUKIT ASRI Blok D-14 No.18-19 CIOMAS BOGOR
Selasa, 10 Maret 2009
Senin, 09 Maret 2009
Kisah Nabi Ismail
Nabi Ismail adalah seorang nabi dalam kepercayaan agama samawi. Ismail adalah putera dari Ibrahim dan Hajar, kakak kandung dari Ishaq. Ia hidup pada era sekitar 1911-1779 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1850 SM. Ia tinggal di Amaliq dan berdakwah untuk Qabilah Yaman, Mekkah. Namanya disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Quran. Ia meninggal pada tahun 1779 SM di Mekkah.
Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestin. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehinya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi (setagen) ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahsia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya seorang isteri sebagai Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai seorang dayangnya yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s. Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. lebih banyak mendekati Hajar karena merasa sgt gembira dengan puteranya yang tunggal dan pertama itu, hal ini yang menyebabkan permulaan ada keretakan dalam rumah tangga Nabi Ibrahim a.s. sehingga Siti Sarah merasa tidak tahan hati jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi Ibrahim a.s. supaya menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di lain tempat.
Untuk suatu hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi Ibrahim Allah s.w.t. mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah isterinya dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah ke suatu tempat di mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail puteranya bersama ibunya akan di tempatkan dan kepada siapa akan ditinggalkan.
Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang menghembur-hamburkan debu-debu pasir.
Ismail dan Ibunya Hajar Ditingalkan di Makkah
Setelah berminggu-minggu berada dalam perjalanan jauh yang memenatkan tibalah pada akhirnya Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya di Makkah kota suci dimana Kaabah didirikan dan menjadi pujaan manusia dari seluruh dunia. di tempat di mana Masjidil Haram sekarang berada, berhentilah unta Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya dan disitulah ia meninggalkan Hajar bersama puteranya dengan hanya dibekali dengan serantang bekal makanan dan minuman sedangkan keadaan sekitarnya tiada tumbuh-tumbuhan, tiada air mengalir, yang terlihat hanyalah batu dan pasir kering.
Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan ditinggalkan oleh Ibrahim seorang diri bersama dengan anaknya yang masih kecil di tempat yang sunyi senyap dari segala-galanya kecuali batu gunung dan pasir. Ia seraya merintih dan menangis, memegang kuat-kuat baju Nabi Ibrahim memohon belas kasihnya, janganlah ia ditinggalkan seorang diri di tempat yang kosong itu, tiada seorang manusia, tiada seekor binatang, tiada pohon dan tidak terlihat pula air mengalir, sedangkan ia masih menanggung beban mengasuh anak yang kecil yang masih menyusu. Nabi Ibrahim mendengar keluh kesah Hajar merasa tidak tergamak meninggalkannya seorang diri di tempat itu bersama puteranya yang sangat disayangi akan tetapi ia sedar bahwa apa yang dilakukan nya itu adalah kehendak Allah s.w.t. yang tentu mengandungi hikmat yang masih terselubung baginya dan ia sedar pula bahwa Allah akan melindungi Ismail dan ibunya dalam tempat pengasingan itu dan segala kesukaran dan penderitaan. Ia berkata kepada Hajar :
"Bertawakkallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan Dialah yang akan melindungi mu dan menyertaimu di tempat yang sunyi ini. Sesungguh kalau bukan perintah dan wahyunya, tidak sesekali aku tergamak meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat ku cintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak akan melantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk selamanya, insya-Allah."
Mendengar kata-kata Ibrahim itu segeralah Hajar melepaskan genggamannya pada baju Ibrahim dan dilepaskannyalah beliau menunggang untanya kembali ke Palestin dengan iringan air mata yang bercurahan membasahi tubuh Ismail yang sedang menetak. Sedang Nabi Ibrahim pun tidak dapat menahan air matanya keetika ia turun dari dataran tinggi meninggalkan Makkah menuju kembali ke Palestin di mana isterinya Sarah dengan puteranya yang kedua Ishak sedang menanti. Ia tidak henti-henti selama dalam perjalanan kembali memohon kepada Allah perlindungan, rahmat dan barakah serta kurniaan rezeki bagi putera dan ibunya yang ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia berkata dalam doanya:" Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di dekat rumah-Mu { Baitullahil Haram } di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan solat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lazat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu."
Mata Air Zamzam
Sepeninggal Nabi Ibrahim tinggallah Hajar dan puteranya di tempat yang terpencil dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib yang telah ditakdirkan oleh Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh akan perlindungan-Nya. Bekalan makanan dan minuman yang dibawanya dalam perjalanan pada akhirnya habis dimakan selama beberapa hari sepeninggalan Nabi Ibrahim. Maka mulailah terasa oleh Hajar beratnya beban hidup yang harus ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suaminya. Ia masih harus meneteki anaknya, namun air teteknya makin lama makin mengering disebabkan kekurangan makan .Anak yang tidak dapat minuman yang memuaskan dari tetek ibunya mulai menjadi cerewet dan tidak henti-hentinya menangis. Ibunya menjadi panik, bingung dan cemas mendengar tangisan anaknya yang sgt menyayat hati itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri serta lari ke sana ke sini mencari sesuap makanan atau seteguk air yang dapat meringankan kelaparannya dan meredakan tangisan anaknya, namun sia-sialah usahanya. Ia pergi berlari harwalah menuju bukit Shafa kalau-kalau ia boleh mendapatkan sesuatu yang dapat menolongnya tetapi hanya batu dan pasir yang didapatnya disitu, kemudian dari bukit Shafa ia melihat bayangan air yang mengalir di atas bukit Marwah dan larilah ia berharwahlah ke tempat itu namun ternyata bahwa yang disangkanya air adalha fatamorangana {bayangan} belaka dan kembalilah ke bukit Shafa karena mendengar seakan-akan ada suara yang memanggilnya tetapi gagal dan melesetlah dugaannya. Demikianlah maka karena dorongan hajat hidupnya dan hidup anaknya yang sangat disayangi, Hajar mundar-mundir berlari sampai tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah yang pada akhirnya ia duduk termenung merasa penat dan hampir berputus asa.
Diriwayatkan bahwa selagi Hajar berada dalam keadaan tidak berdaya dan hampir berputus asa kecuali dari rahmat Allah dan pertolongan-Nya datanglah kepadanya malaikat Jibril bertanya:" Siapakah sebenarnya engkau ini?" " Aku adalah hamba sahaya Ibrahim". Jawab Hajar." Kepada siapa engkau dititipkan di sini?"tanya Jibril." Hanya kepad Allah",jawab Hajar.Lalu berkata Jibril:" Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih, yang akan melindungimu, mencukupi keperluan hidupmu dan tidak akan mensia-siakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya."
Kemudian diajaklah Hajar mengikuti-nya pergi ke suatu tempat di mana Jibril menginjakkan telapak kakinya kuat-kuat di atas tanah dan segeralah memancur dari bekas telapak kaki itu air yang jernih dengan kuasa Allah .Itulah dia mata air Zamzam yang sehingga kini dianggap keramat oleh jemaah haji, berdesakan sekelilingnya bagi mendapatkan setitik atau seteguk air daripadanya dan karena sejarahnya mata air itu disebut orang " Injakan Jibril ".
Alngkah gembiranya dan lega dada Hajar melihat air yang mancur itu. Segera ia membasahi bibir puteranya dengan air keramat itu dan segera pula terlihat wajah puteranya segar kembali, demikian pula wajah si ibu yang merasa sgt bahagia dengan datangnya mukjizat dari sisi Tuhan yang mengembalikan kesegaran hidup kepadanya dan kepada puteranya sesudah dibayang-bayangi oleh bayangan mati kelaparan yang mencekam dada.
Mancurnya air Zamzam telah menarik burung-burung berterbangan mengelilingi daerah itu menarik pula perhatian sekelompok bangsa Arab dari suku Jurhum yang merantau dan sedang berkhemah di sekitar Makkah. Mereka mengetahui dari pengalaman bahwa di mana ada terlihat burung di udara, nescaya dibawanya terdapat air, maka diutuslah oleh mereka beberapa orang untuk memeriksa kebenaran teori ini. Para pemeriksa itu pergi mengunjungi daerah di mana Hajar berada, kemudian kembali membawa berita gembira kepada kaumnya tentang mata air Zamzam dan keadaan Hajar bersama puteranya. Segera sekelompok suku Jurhum itu memindahkan perkhemahannya ke tempat sekitar Zamzam ,dimana kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Hajar karena adanya sekelompok suku Jurhum di sekitarnya, ia memperolehi jiran-jiran yang akan menghilangkan kesunyian dan kesepian yang selama ini dirasakan di dalam hidupnya berduaan dengan puteranya saja.
Hajar bersyukur kepada Allah yang dengan rahmatnya telah membuka hati orang-orang itu cenderung datang meramaikan dan memecahkan kesunyian lembah di mana ia ditinggalkan sendirian oleh Ibrahim.
Nabi Ismail Sebagai Qurban
Nabi Ibrahim dari masa ke semasa pergi ke Makkah untuk mengunjungi dan menjenguk Ismail di tempat pengasingannya bagi menghilangkan rasa rindu hatinya kepada puteranya yang ia sayangi serta menenangkan hatinya yang selalu rungsing bila mengenangkan keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus, jauh dari masyarakat kota dan pengaulan umum.
Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah , maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Ia duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikurniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan ,seorang putera yang telah mencapai usia di mana jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah , seorang putera yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyampung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oelh tangan si ayah sendiri.
Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah ,menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, isteri, harta benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.
Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:" Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalahnya." Nabi Ibrahim tidak membuang masa lagi, berazam {niat} tetap akan menyembelih Nabi Ismail puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya.Dan berangkatlah serta merta Nabi Ibrahim menuju ke Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah perintahkan.
Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sgt taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berpikir panjang berkata kepada ayahnya:" Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya."Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata:" Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah."
Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke parang yang mengilap di tangannya, seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan di lakukan . Akan tetapi apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu ternyata menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.
Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan, sampai-sampai terjadi seketika merasa bahwa parang itu tidak lut memotong lehernya, berkatalah ia kepada ayahnya:" Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku."Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail walau ia telah ditelangkupkan dan dicoba memotong lehernya dari belakang.
Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya:" Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu, demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikkan. ."Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa Ismail telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh beliau dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia.
Referensi :
http://kisah25nabi.blogspot.com/2007/12/nabi-ismail-as.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Isma'il
http://id.wikipedia.org/wiki/Rasul
Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestin. Ia telah membawa pindah juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehinya sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.
Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi (setagen) ialah Hajar ibu Nabi Ismail tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahsia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya seorang isteri sebagai Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai seorang dayangnya yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s. Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. lebih banyak mendekati Hajar karena merasa sgt gembira dengan puteranya yang tunggal dan pertama itu, hal ini yang menyebabkan permulaan ada keretakan dalam rumah tangga Nabi Ibrahim a.s. sehingga Siti Sarah merasa tidak tahan hati jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi Ibrahim a.s. supaya menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di lain tempat.
Untuk suatu hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi Ibrahim Allah s.w.t. mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah isterinya dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah ke suatu tempat di mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail puteranya bersama ibunya akan di tempatkan dan kepada siapa akan ditinggalkan.
Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang menghembur-hamburkan debu-debu pasir.
Ismail dan Ibunya Hajar Ditingalkan di Makkah
Setelah berminggu-minggu berada dalam perjalanan jauh yang memenatkan tibalah pada akhirnya Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya di Makkah kota suci dimana Kaabah didirikan dan menjadi pujaan manusia dari seluruh dunia. di tempat di mana Masjidil Haram sekarang berada, berhentilah unta Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya dan disitulah ia meninggalkan Hajar bersama puteranya dengan hanya dibekali dengan serantang bekal makanan dan minuman sedangkan keadaan sekitarnya tiada tumbuh-tumbuhan, tiada air mengalir, yang terlihat hanyalah batu dan pasir kering.
Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan ditinggalkan oleh Ibrahim seorang diri bersama dengan anaknya yang masih kecil di tempat yang sunyi senyap dari segala-galanya kecuali batu gunung dan pasir. Ia seraya merintih dan menangis, memegang kuat-kuat baju Nabi Ibrahim memohon belas kasihnya, janganlah ia ditinggalkan seorang diri di tempat yang kosong itu, tiada seorang manusia, tiada seekor binatang, tiada pohon dan tidak terlihat pula air mengalir, sedangkan ia masih menanggung beban mengasuh anak yang kecil yang masih menyusu. Nabi Ibrahim mendengar keluh kesah Hajar merasa tidak tergamak meninggalkannya seorang diri di tempat itu bersama puteranya yang sangat disayangi akan tetapi ia sedar bahwa apa yang dilakukan nya itu adalah kehendak Allah s.w.t. yang tentu mengandungi hikmat yang masih terselubung baginya dan ia sedar pula bahwa Allah akan melindungi Ismail dan ibunya dalam tempat pengasingan itu dan segala kesukaran dan penderitaan. Ia berkata kepada Hajar :
"Bertawakkallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan Dialah yang akan melindungi mu dan menyertaimu di tempat yang sunyi ini. Sesungguh kalau bukan perintah dan wahyunya, tidak sesekali aku tergamak meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat ku cintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak akan melantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk selamanya, insya-Allah."
Mendengar kata-kata Ibrahim itu segeralah Hajar melepaskan genggamannya pada baju Ibrahim dan dilepaskannyalah beliau menunggang untanya kembali ke Palestin dengan iringan air mata yang bercurahan membasahi tubuh Ismail yang sedang menetak. Sedang Nabi Ibrahim pun tidak dapat menahan air matanya keetika ia turun dari dataran tinggi meninggalkan Makkah menuju kembali ke Palestin di mana isterinya Sarah dengan puteranya yang kedua Ishak sedang menanti. Ia tidak henti-henti selama dalam perjalanan kembali memohon kepada Allah perlindungan, rahmat dan barakah serta kurniaan rezeki bagi putera dan ibunya yang ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia berkata dalam doanya:" Wahai Tuhanku! Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di dekat rumah-Mu { Baitullahil Haram } di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mereka mendirikan solat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan yang lazat, mudah-mudahan mereka bersyukur kepada-Mu."
Mata Air Zamzam
Sepeninggal Nabi Ibrahim tinggallah Hajar dan puteranya di tempat yang terpencil dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib yang telah ditakdirkan oleh Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh akan perlindungan-Nya. Bekalan makanan dan minuman yang dibawanya dalam perjalanan pada akhirnya habis dimakan selama beberapa hari sepeninggalan Nabi Ibrahim. Maka mulailah terasa oleh Hajar beratnya beban hidup yang harus ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suaminya. Ia masih harus meneteki anaknya, namun air teteknya makin lama makin mengering disebabkan kekurangan makan .Anak yang tidak dapat minuman yang memuaskan dari tetek ibunya mulai menjadi cerewet dan tidak henti-hentinya menangis. Ibunya menjadi panik, bingung dan cemas mendengar tangisan anaknya yang sgt menyayat hati itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri serta lari ke sana ke sini mencari sesuap makanan atau seteguk air yang dapat meringankan kelaparannya dan meredakan tangisan anaknya, namun sia-sialah usahanya. Ia pergi berlari harwalah menuju bukit Shafa kalau-kalau ia boleh mendapatkan sesuatu yang dapat menolongnya tetapi hanya batu dan pasir yang didapatnya disitu, kemudian dari bukit Shafa ia melihat bayangan air yang mengalir di atas bukit Marwah dan larilah ia berharwahlah ke tempat itu namun ternyata bahwa yang disangkanya air adalha fatamorangana {bayangan} belaka dan kembalilah ke bukit Shafa karena mendengar seakan-akan ada suara yang memanggilnya tetapi gagal dan melesetlah dugaannya. Demikianlah maka karena dorongan hajat hidupnya dan hidup anaknya yang sangat disayangi, Hajar mundar-mundir berlari sampai tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah yang pada akhirnya ia duduk termenung merasa penat dan hampir berputus asa.
Diriwayatkan bahwa selagi Hajar berada dalam keadaan tidak berdaya dan hampir berputus asa kecuali dari rahmat Allah dan pertolongan-Nya datanglah kepadanya malaikat Jibril bertanya:" Siapakah sebenarnya engkau ini?" " Aku adalah hamba sahaya Ibrahim". Jawab Hajar." Kepada siapa engkau dititipkan di sini?"tanya Jibril." Hanya kepad Allah",jawab Hajar.Lalu berkata Jibril:" Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih, yang akan melindungimu, mencukupi keperluan hidupmu dan tidak akan mensia-siakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya."
Kemudian diajaklah Hajar mengikuti-nya pergi ke suatu tempat di mana Jibril menginjakkan telapak kakinya kuat-kuat di atas tanah dan segeralah memancur dari bekas telapak kaki itu air yang jernih dengan kuasa Allah .Itulah dia mata air Zamzam yang sehingga kini dianggap keramat oleh jemaah haji, berdesakan sekelilingnya bagi mendapatkan setitik atau seteguk air daripadanya dan karena sejarahnya mata air itu disebut orang " Injakan Jibril ".
Alngkah gembiranya dan lega dada Hajar melihat air yang mancur itu. Segera ia membasahi bibir puteranya dengan air keramat itu dan segera pula terlihat wajah puteranya segar kembali, demikian pula wajah si ibu yang merasa sgt bahagia dengan datangnya mukjizat dari sisi Tuhan yang mengembalikan kesegaran hidup kepadanya dan kepada puteranya sesudah dibayang-bayangi oleh bayangan mati kelaparan yang mencekam dada.
Mancurnya air Zamzam telah menarik burung-burung berterbangan mengelilingi daerah itu menarik pula perhatian sekelompok bangsa Arab dari suku Jurhum yang merantau dan sedang berkhemah di sekitar Makkah. Mereka mengetahui dari pengalaman bahwa di mana ada terlihat burung di udara, nescaya dibawanya terdapat air, maka diutuslah oleh mereka beberapa orang untuk memeriksa kebenaran teori ini. Para pemeriksa itu pergi mengunjungi daerah di mana Hajar berada, kemudian kembali membawa berita gembira kepada kaumnya tentang mata air Zamzam dan keadaan Hajar bersama puteranya. Segera sekelompok suku Jurhum itu memindahkan perkhemahannya ke tempat sekitar Zamzam ,dimana kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Hajar karena adanya sekelompok suku Jurhum di sekitarnya, ia memperolehi jiran-jiran yang akan menghilangkan kesunyian dan kesepian yang selama ini dirasakan di dalam hidupnya berduaan dengan puteranya saja.
Hajar bersyukur kepada Allah yang dengan rahmatnya telah membuka hati orang-orang itu cenderung datang meramaikan dan memecahkan kesunyian lembah di mana ia ditinggalkan sendirian oleh Ibrahim.
Nabi Ismail Sebagai Qurban
Nabi Ibrahim dari masa ke semasa pergi ke Makkah untuk mengunjungi dan menjenguk Ismail di tempat pengasingannya bagi menghilangkan rasa rindu hatinya kepada puteranya yang ia sayangi serta menenangkan hatinya yang selalu rungsing bila mengenangkan keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus, jauh dari masyarakat kota dan pengaulan umum.
Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah , maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Ia duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikurniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan ,seorang putera yang telah mencapai usia di mana jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah , seorang putera yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyampung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oelh tangan si ayah sendiri.
Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah ,menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, isteri, harta benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.
Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:" Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalahnya." Nabi Ibrahim tidak membuang masa lagi, berazam {niat} tetap akan menyembelih Nabi Ismail puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya.Dan berangkatlah serta merta Nabi Ibrahim menuju ke Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah perintahkan.
Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sgt taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berpikir panjang berkata kepada ayahnya:" Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya."Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata:" Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah."
Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke parang yang mengilap di tangannya, seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan di lakukan . Akan tetapi apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu ternyata menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.
Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan, sampai-sampai terjadi seketika merasa bahwa parang itu tidak lut memotong lehernya, berkatalah ia kepada ayahnya:" Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku."Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail walau ia telah ditelangkupkan dan dicoba memotong lehernya dari belakang.
Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya:" Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu, demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikkan. ."Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa Ismail telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh beliau dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia.
Referensi :
http://kisah25nabi.blogspot.com/2007/12/nabi-ismail-as.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Isma'il
http://id.wikipedia.org/wiki/Rasul
Di Belakang Seorang Lelaki Hebat, Berdiri Tegar Seorang Wanita Hebat
Sumber : Qudwah's Weblog
Seorang direktur sebuah perusahaan yang sangat sukses, sedang berjalan-jalan dengan istrinyakarena memang lagi santai dia nyetir sendiri
Setelah lama keliling-keliling, tak terasa indikator bensin di mobilnya hampir menyentuh huruf E alias minta diisi. Maka mampirlah mereka ke sebuah pompa bensin..
Salah seorang kru SPBU mengarahkan mobil sang direktur tsb untuk diisi
Silahkan Pak, mau yang biasa apa yang super.? tanya petugas pom bensin tsb dgn sopan.
Yang super donk full ya..! sang direktur memberikan instruksi dengan loud and clear
Baik Pak, dimulai dari angka nol ya Pak jawab si petugas dengan full senyum sesuai SOP.
Menunggu mobilnya diisi bensin sang direktur dan istrinya tetap berada dalam mobil sambil berbincang-bincang ttg keadaan ekonomi rumah tangga dan keluarga mereka yang tentu sudah termasuk golongan the have persis seperti mereka yang demo busway di pondok indah. Anak-anak? Jangan tanya. Anak-anak mereka sdg kuliah di luar negeri
Di tengah asyiknya ngobrol sang istri tiba-tiba melirik ke kaca spion dan terlihatlah si petugas pom yang lagi ngisi bensin dan mulai berkerut dahinya sambil tersenyum Pah..Pah kayaknya aku kenal petugas pom itu sebentar ya Pah, aku mau turun dulu! ujar sang istri segera keluar dari mobil tanpa menunggu reaksi suaminya. Tinggallah sang direktur sendirian di dalam mobil, dia melihat istrinya menyapa petugas itu dari kaca spion mereka ngobrol.. ehh koq akrab sekali ya kelihatannya.. dilihatnya sang istri dan petugas pom bensin tsb ketawa-ketawa seru Ah, biarlah.. mungkin kenalan dia.. gumam sang direktur.
Acara ngisi bensin pun selesai sang direktur bayar bon dan sang istri masuk kembali ke dalam mobil tidak lupa dia pamitan ke petugas pom bensin tsb sambail melambaikan tangan sang direktur melongo, tapi pura-pura cuek aja mobil pun jalan tak kuat memendam kepenasaran sang direktur angkat bicara.. Siapa tadi Mah? tanyanya dengan lembut Sang istri menjawab, Oh. Itu kenalan lama.. teman SMA dulu jawab sang istri datar saja. Teman apa Temen? sang direktur mencoba menggoda istrinya Emangnya kenapa Pah?
Nggaaak, .. itu tadi koq ngobrolnya aku perhatikan seru banget sich! kata sang direktur Yaaa., yang namanya teman udah lama sekali nggak ketemu, gimana gitu loch jawab sang istri Oohh, teman apa teman nich.. koq kalian akrab sekali? kata sang direktur dengan mata melirik ke arah istrinya dia mempraktekkan apa yang dilakukan KPK ketika menginterview dirinya, pertanyaan dangan penuh nada selidik he..he..
Papah ini lho.. cemburu ya? tanya sang istri dengan senyum menggoda. Ah nggak tuch Cuma penasaran aja, ketemunya di mana sama orang itu Mah? kembali pertanyaan selidik dikeluarkan sang direktur Bener nich mau tau ceritanya? Ntar cemburu lagi canda sang istri Swear.. I promise.. aku nggak bakalan cemburu.. so..tell the story, pls..!.
Sang istri pun mulai bercerita tentang pertemuannya dengan petugas pom tadi.. ternyata memang mereka teman SMA dan pernah ada hubungan khusus di antara mereka yang hampiiiirrrr saja berlanjut ke pelaminan, hanya karena satu dan lain hal (Force Majeur) hubungan itu kandas tapi mereka tetap menjadi teman baik Sang direktur mendengar dengan penuh antusias cerita dari istrinya Setelah mendengar semua keterangan istrinya tsb, baru dia mengeluarkan komentar., Wah seru juga ceritamu Mah, kamu harus bersyukur untung kamu ketemu aku.. kalau enggak.. kamu sekarang jadi istri petugas pom bensin bukan istri direktur celetuk sang direktur penuh kemenangan (dada sedikit membusung dan hidung kembang kempis plus senyum menyeringai)
Sang istri tersenyum menimpali, Yang harus bersyukur itu kamu Pah, untung kamu ketemu aku, makanya sekarang jadi direktur.. kalau enggak.. mungkin.. kamu yang jadi petugas pom bensin itu!
Seorang direktur sebuah perusahaan yang sangat sukses, sedang berjalan-jalan dengan istrinyakarena memang lagi santai dia nyetir sendiri
Setelah lama keliling-keliling, tak terasa indikator bensin di mobilnya hampir menyentuh huruf E alias minta diisi. Maka mampirlah mereka ke sebuah pompa bensin..
Salah seorang kru SPBU mengarahkan mobil sang direktur tsb untuk diisi
Silahkan Pak, mau yang biasa apa yang super.? tanya petugas pom bensin tsb dgn sopan.
Yang super donk full ya..! sang direktur memberikan instruksi dengan loud and clear
Baik Pak, dimulai dari angka nol ya Pak jawab si petugas dengan full senyum sesuai SOP.
Menunggu mobilnya diisi bensin sang direktur dan istrinya tetap berada dalam mobil sambil berbincang-bincang ttg keadaan ekonomi rumah tangga dan keluarga mereka yang tentu sudah termasuk golongan the have persis seperti mereka yang demo busway di pondok indah. Anak-anak? Jangan tanya. Anak-anak mereka sdg kuliah di luar negeri
Di tengah asyiknya ngobrol sang istri tiba-tiba melirik ke kaca spion dan terlihatlah si petugas pom yang lagi ngisi bensin dan mulai berkerut dahinya sambil tersenyum Pah..Pah kayaknya aku kenal petugas pom itu sebentar ya Pah, aku mau turun dulu! ujar sang istri segera keluar dari mobil tanpa menunggu reaksi suaminya. Tinggallah sang direktur sendirian di dalam mobil, dia melihat istrinya menyapa petugas itu dari kaca spion mereka ngobrol.. ehh koq akrab sekali ya kelihatannya.. dilihatnya sang istri dan petugas pom bensin tsb ketawa-ketawa seru Ah, biarlah.. mungkin kenalan dia.. gumam sang direktur.
Acara ngisi bensin pun selesai sang direktur bayar bon dan sang istri masuk kembali ke dalam mobil tidak lupa dia pamitan ke petugas pom bensin tsb sambail melambaikan tangan sang direktur melongo, tapi pura-pura cuek aja mobil pun jalan tak kuat memendam kepenasaran sang direktur angkat bicara.. Siapa tadi Mah? tanyanya dengan lembut Sang istri menjawab, Oh. Itu kenalan lama.. teman SMA dulu jawab sang istri datar saja. Teman apa Temen? sang direktur mencoba menggoda istrinya Emangnya kenapa Pah?
Nggaaak, .. itu tadi koq ngobrolnya aku perhatikan seru banget sich! kata sang direktur Yaaa., yang namanya teman udah lama sekali nggak ketemu, gimana gitu loch jawab sang istri Oohh, teman apa teman nich.. koq kalian akrab sekali? kata sang direktur dengan mata melirik ke arah istrinya dia mempraktekkan apa yang dilakukan KPK ketika menginterview dirinya, pertanyaan dangan penuh nada selidik he..he..
Papah ini lho.. cemburu ya? tanya sang istri dengan senyum menggoda. Ah nggak tuch Cuma penasaran aja, ketemunya di mana sama orang itu Mah? kembali pertanyaan selidik dikeluarkan sang direktur Bener nich mau tau ceritanya? Ntar cemburu lagi canda sang istri Swear.. I promise.. aku nggak bakalan cemburu.. so..tell the story, pls..!.
Sang istri pun mulai bercerita tentang pertemuannya dengan petugas pom tadi.. ternyata memang mereka teman SMA dan pernah ada hubungan khusus di antara mereka yang hampiiiirrrr saja berlanjut ke pelaminan, hanya karena satu dan lain hal (Force Majeur) hubungan itu kandas tapi mereka tetap menjadi teman baik Sang direktur mendengar dengan penuh antusias cerita dari istrinya Setelah mendengar semua keterangan istrinya tsb, baru dia mengeluarkan komentar., Wah seru juga ceritamu Mah, kamu harus bersyukur untung kamu ketemu aku.. kalau enggak.. kamu sekarang jadi istri petugas pom bensin bukan istri direktur celetuk sang direktur penuh kemenangan (dada sedikit membusung dan hidung kembang kempis plus senyum menyeringai)
Sang istri tersenyum menimpali, Yang harus bersyukur itu kamu Pah, untung kamu ketemu aku, makanya sekarang jadi direktur.. kalau enggak.. mungkin.. kamu yang jadi petugas pom bensin itu!
Seputar Nuzulul Qur’an (Turunnya Al-Qur’an)
by rohisaluswah
Al-Qur'an, Secara umum sebagai sebuah kitab suci- turun pertama kali kepada Rasulullah pada malam al-Qadr (Lailatul Qadr) pada bulan Ramadlan. Hal ini didukung oleh firman Allah Ta’ala (artinya):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam al-Qadr (yang mulia)”. (Q.s.,al-Qadr: 1)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (Q.s., al-Baqarah:185)
Yang membawa turun al-Qur’an dari Allah Ta’ala adalah malaikat Jibril, salah satu malaikat yang dekat kepada Allah dan mulia. Allah Ta’ala berfirman mengenai al-Qur’an (artinya):
“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), [193]. ke dalam hatimu (Muahammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, [194]. dengan bahasa Arab yang jelas”.[195]. {Q.s., asy-Syu’arâ`: 193-195}
Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang bibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),[19]. yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy”[20]. {Q.s.,at-Takwir: 19-20}
Allah Ta’ala telah menjelaskan kepada kita sifat-sifat Jibril yang membawa turun al-Qur’an dari sisi-Nya. Sifat-sifat itu juga menunjukkan betapa agungnya al-Qur’an dan ‘inayah Allah terhadapnya sebab Dia tidak mengutus orang yang agung kecuali dengan hal-hal yang agung pula.
Ayat-Ayat al-Qur’an Pertama Yang Turun
Ayat al-Qur’an pertama yang turun adalah lima ayat pertama dari surat al-‘Alaq. Kemudian wahyu mengalami masa stagnan (terputus untuk beberapa waktu), kemudian barulah turun lima ayat pertama dari surat al-Muddatstsir.
Di dalam kitab ash-Shahîhain, dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha di dalam kitab ‘Bad`ul Wahyi, dia berkata: “…hingga akhirnya kebenaran datang kepada beliau saat berada di Gua Hira`, lalu datanglah malaikat sembari berkata kepadanya: “Bacalah!”. Lalu Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Selanjutnya di dalam hadits tersebut malaikat membacakan firman-Nya Surat Al-Alaq ayat 1-5.
Dalam kitab yang sama dari Jabir bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika bercerita tentang masa stagnan turunnya wahyu: “Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit…”. (Dalam hal ini, beliau menyebutkan seterusnya cerita itu, di dalamnya beliau bersabda lagi) “…Maka Allah turunkanlah firman-Nya:
“ Hai orang yang berkemul (berselimut), [1]. bangunlah, lalu berilah peringatan!,[2]. dan Rabbmu agungkanlah, [3]. dan pakaianmu bersihkanlah, [4]. dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, [5]”. (Q,.s.al-Muddatstsir/74: 1-5).
Permulaan turunnya al-Qur’an yang disebutkan oleh Jabir tersebut dilihat dari aspek ayat pertama kali turun setelah masa stagnan turunnya wahyu atau ayat pertama kali turun berkenaan dengan ‘kerasulan’ beliau sebab ayat-ayat pada surat al-‘Alaq yang diturunkan tersebut menetapkan nubuwwah beliau sedangkan ayat-ayat pada surat al-Muddatstsir diturunkan dalam rangka menetapkan risalah (kerasulan) beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yaitu dalam firman-Nya (artinya): “Bangunlah, lalu berilah peringatan!”.
Para ulama berkata: “Sesungguhnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai Nabi melalui ayat ‘Iqra`’ dan diangkat sebagai Rasul melalui surat ‘al-Muddatstsir’.
Turunnya al-Qur’an bersifat ‘Ibtidâ`iy’ dan ‘Sababy’
Al-Qur’an turun dalam dua klasifikasi:
Pertama, Secara Ibtidâ`iy’ ; yaitu turunnya tidak didahului oleh sebab-sebab tertentu. Kondisi seperti inilah yang lebih dominan terjadi pada kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an. Diantaranya :
Firman-Nya (artinya): “Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah:’Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh’” . (Q,.s.at-Tawbah/09: 75).
Ayat tersebut turun secara Ibtidâ`iy untuk menjelaskan kondisi sebagian orang-orang Munafiq. Sedangkan riwayat yang masyhur di kalangan banyak orang bahwa ia turun terhadap seorang shahabat, Tsa’labah bin Hathib dalam kisah yang amat panjang dan banyak sekali para Ahli Tafsir yang menyinggungnya serta sering dipublikasikan oleh para penceramah; riwayat tersebut Dla’if (lemah), tidak shahih sama sekali.
Kedua, Secara sababy ; yaitu turunnya didahului oleh sebab tertentu, diantara sebabnya tersebut:
* Bisa jadi berupa pertanyaan yang dijawab oleh Allah, seperti ayat (artinya):
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji’.” (Q.s.,al-Baqarah:189)
o Atau Suatu peristiwa yang terjadi dan memerlukan penjelasan dan peringatan, seperti firman-Nya:
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ’Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’ .” (Q.s.at-Tawbah:65)
Dua ayat tersebut turun terhadap seorang Munafiq yang berkata pada waktu perang (Ghazwah) Tabuk di dalam satu majlis: “Kita tidak pernah melihat orang seperti para Qurrâ` kita tersebut, lebih besar perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut ketika bertemu musuh”. Yang mereka tembak adalah Rasulullah dan para shahabatnya. Lantas hal itu sampai ke telinga Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan al-Qur’anpun sudah turun. Lalu datanglah seorang laki-laki ingin meminta ma’af kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawabnya:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?.” (Q.s.,at-Tawbah:65)
Atau suatu perbuatan yang terjadi dan ia butuh penjelasan tentang hukumnya, seperti firman Allah:
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.s.,al-Mujâdilah:1)
Diedit dari alsofwah.or.id
Al-Qur'an, Secara umum sebagai sebuah kitab suci- turun pertama kali kepada Rasulullah pada malam al-Qadr (Lailatul Qadr) pada bulan Ramadlan. Hal ini didukung oleh firman Allah Ta’ala (artinya):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam al-Qadr (yang mulia)”. (Q.s.,al-Qadr: 1)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (Q.s., al-Baqarah:185)
Yang membawa turun al-Qur’an dari Allah Ta’ala adalah malaikat Jibril, salah satu malaikat yang dekat kepada Allah dan mulia. Allah Ta’ala berfirman mengenai al-Qur’an (artinya):
“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), [193]. ke dalam hatimu (Muahammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, [194]. dengan bahasa Arab yang jelas”.[195]. {Q.s., asy-Syu’arâ`: 193-195}
Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang bibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),[19]. yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy”[20]. {Q.s.,at-Takwir: 19-20}
Allah Ta’ala telah menjelaskan kepada kita sifat-sifat Jibril yang membawa turun al-Qur’an dari sisi-Nya. Sifat-sifat itu juga menunjukkan betapa agungnya al-Qur’an dan ‘inayah Allah terhadapnya sebab Dia tidak mengutus orang yang agung kecuali dengan hal-hal yang agung pula.
Ayat-Ayat al-Qur’an Pertama Yang Turun
Ayat al-Qur’an pertama yang turun adalah lima ayat pertama dari surat al-‘Alaq. Kemudian wahyu mengalami masa stagnan (terputus untuk beberapa waktu), kemudian barulah turun lima ayat pertama dari surat al-Muddatstsir.
Di dalam kitab ash-Shahîhain, dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha di dalam kitab ‘Bad`ul Wahyi, dia berkata: “…hingga akhirnya kebenaran datang kepada beliau saat berada di Gua Hira`, lalu datanglah malaikat sembari berkata kepadanya: “Bacalah!”. Lalu Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Selanjutnya di dalam hadits tersebut malaikat membacakan firman-Nya Surat Al-Alaq ayat 1-5.
Dalam kitab yang sama dari Jabir bahwasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika bercerita tentang masa stagnan turunnya wahyu: “Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit…”. (Dalam hal ini, beliau menyebutkan seterusnya cerita itu, di dalamnya beliau bersabda lagi) “…Maka Allah turunkanlah firman-Nya:
“ Hai orang yang berkemul (berselimut), [1]. bangunlah, lalu berilah peringatan!,[2]. dan Rabbmu agungkanlah, [3]. dan pakaianmu bersihkanlah, [4]. dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, [5]”. (Q,.s.al-Muddatstsir/74: 1-5).
Permulaan turunnya al-Qur’an yang disebutkan oleh Jabir tersebut dilihat dari aspek ayat pertama kali turun setelah masa stagnan turunnya wahyu atau ayat pertama kali turun berkenaan dengan ‘kerasulan’ beliau sebab ayat-ayat pada surat al-‘Alaq yang diturunkan tersebut menetapkan nubuwwah beliau sedangkan ayat-ayat pada surat al-Muddatstsir diturunkan dalam rangka menetapkan risalah (kerasulan) beliau Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yaitu dalam firman-Nya (artinya): “Bangunlah, lalu berilah peringatan!”.
Para ulama berkata: “Sesungguhnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai Nabi melalui ayat ‘Iqra`’ dan diangkat sebagai Rasul melalui surat ‘al-Muddatstsir’.
Turunnya al-Qur’an bersifat ‘Ibtidâ`iy’ dan ‘Sababy’
Al-Qur’an turun dalam dua klasifikasi:
Pertama, Secara Ibtidâ`iy’ ; yaitu turunnya tidak didahului oleh sebab-sebab tertentu. Kondisi seperti inilah yang lebih dominan terjadi pada kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an. Diantaranya :
Firman-Nya (artinya): “Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah:’Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh’” . (Q,.s.at-Tawbah/09: 75).
Ayat tersebut turun secara Ibtidâ`iy untuk menjelaskan kondisi sebagian orang-orang Munafiq. Sedangkan riwayat yang masyhur di kalangan banyak orang bahwa ia turun terhadap seorang shahabat, Tsa’labah bin Hathib dalam kisah yang amat panjang dan banyak sekali para Ahli Tafsir yang menyinggungnya serta sering dipublikasikan oleh para penceramah; riwayat tersebut Dla’if (lemah), tidak shahih sama sekali.
Kedua, Secara sababy ; yaitu turunnya didahului oleh sebab tertentu, diantara sebabnya tersebut:
* Bisa jadi berupa pertanyaan yang dijawab oleh Allah, seperti ayat (artinya):
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji’.” (Q.s.,al-Baqarah:189)
o Atau Suatu peristiwa yang terjadi dan memerlukan penjelasan dan peringatan, seperti firman-Nya:
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ’Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’ .” (Q.s.at-Tawbah:65)
Dua ayat tersebut turun terhadap seorang Munafiq yang berkata pada waktu perang (Ghazwah) Tabuk di dalam satu majlis: “Kita tidak pernah melihat orang seperti para Qurrâ` kita tersebut, lebih besar perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut ketika bertemu musuh”. Yang mereka tembak adalah Rasulullah dan para shahabatnya. Lantas hal itu sampai ke telinga Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan al-Qur’anpun sudah turun. Lalu datanglah seorang laki-laki ingin meminta ma’af kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawabnya:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?.” (Q.s.,at-Tawbah:65)
Atau suatu perbuatan yang terjadi dan ia butuh penjelasan tentang hukumnya, seperti firman Allah:
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.s.,al-Mujâdilah:1)
Diedit dari alsofwah.or.id
Minggu, 08 Maret 2009
Menitikkan Air Mata Membaca Kisah Qurban Bu Sumi (Cerita pedagang hewan Qurban)
Menitikkan Air Mata Membaca Kisah Qurban Bu Sumi
(Cerita pedagang hewan Qurban)
Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun setiap ingin memasuki Idul Adha saya selalu teringat dengan kejadian yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah melupakannya.
Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor lakuterjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak sayauntuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.
Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami, Syukur saya dalam hati.
Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya Ibu itu mau beli ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya Cuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.
Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, Kalau yang itu berapa bang ? Ibu itu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang itu harganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, gak usah tawar lagi ya
bu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya memang dari harga segitu keuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. Uang saya Cuma ada 450 ribu, boleh ga. Waduh... saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu untuk berqurban. Sepakat kami berempat. Tapi bawa sendiri ya.. ? akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallaah..... Astaghfirullaah.....
Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tersebut.
Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas divan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam kondisi sakit. Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apaân (oh ternyata ibu
ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar. Ini ibu saya bang.... ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kaget namun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alaahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.
Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman.
Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibu ini. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.
Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar. Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
http://www.puarman-asuransi-syariah.blogspot.com/
(Cerita pedagang hewan Qurban)
Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun setiap ingin memasuki Idul Adha saya selalu teringat dengan kejadian yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah melupakannya.
Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor lakuterjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak sayauntuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.
Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami, Syukur saya dalam hati.
Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya Ibu itu mau beli ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya Cuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.
Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, Kalau yang itu berapa bang ? Ibu itu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang itu harganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, gak usah tawar lagi ya
bu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya memang dari harga segitu keuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. Uang saya Cuma ada 450 ribu, boleh ga. Waduh... saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu untuk berqurban. Sepakat kami berempat. Tapi bawa sendiri ya.. ? akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallaah..... Astaghfirullaah.....
Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tersebut.
Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas divan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam kondisi sakit. Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apaân (oh ternyata ibu
ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar. Ini ibu saya bang.... ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kaget namun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alaahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.
Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman.
Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibu ini. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.
Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar. Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
http://www.puarman-asuransi-syariah.blogspot.com/
Cerita Haru yang Tersisa dari Kurban Tahun Lalu
Irwan Kelana/Republika
Cerita Haru yang Tersisa dari Kurban Tahun Lalu
REPUBLIKA.CO.ID, KEDIRI--Tahun lalu, saat prosesi distribusi kurban di perkampungan lereng Gunung Wilis, Jawa Timur, tatapan saya tak lepas pada keluarga Sartono. Ia membaur di antara ratusan warga yang menunggu giliran jatah sekerat daging qurban hari itu. Mengapa sekerat? Tiga ekor kambing dari Al-Azhar Peduli Ummat dibagi rata untuk 200 keluarga.
Bahkan kulit kambing yang bagi sebagian masyarakat dijual murah begitu saja, ikut dibersihkan bulunya kemudian dicacah kecil-kecil hingga terbagi rata. Pada saat prosesi ini, siapapun yang menyaksikan tak kuat menahan haru. Tiba giliran Sartono mengambil sejumput daging yang terbungkus daun pisang. Petani yang sehari-hari menggarap lahan hutan itu, kemudian bergegas pulang ke rumahnya. Di halaman, tiga anak Sartono yang masih kecil menyerbu girang.
“Iwak wedhus yo pak, enak to pak (daging kambing ya pak, enak kan pak)," cecar anak pertama Sartono yang duduk di bangku SD kelas 4. Sartono hanya senyum, kemudian menyerahkan bungkusan daun pisang itu pada istrinya. Anak-anak Sartono tak mau jauh sejengkal pun, dari bungkusan itu. Bahkan saat ibunya menyiapkan perapian di tungku dapur yang terbuat dari tanah liat, ketiga anak Sartono setia menunggui. Mereka seakan tak rela, jika seekor lalat pun hinggap.
Di atas tungku dapur, istri Sartono merebus air di dalam panci yang sudah tampak usang. Kemudian bungkusan itu dibuka, tanpa dicuci lebih dulu. Tampak sejimpit daging, ditimpali potongan tulang. Jika ditimbang, tak lebih dari seperempat kilogram. Amat sedikit, jika dimakan satu orang saja kurang. Tak ada bumbu istimewa diracik, hanya garam dan bawang merah.
Suasana jadi merinding, saat anak-anak Sartono tak beringsut dari tungku dapur. Marno, anak nomor dua bahkan menundukkan wajahnya tepat di atas panci. Kemudian ia mengisap dalam-dalam asap dari dalam panci yang berbau kuah kambing itu. “Hmmm, seger yo kang. Enak. Jajalo. (segar ya mas. Enak. Cobalah)," kata Marno pada kakaknya.
Tak lama kemudian, sang kakak mengikuti saran adiknya. Kemudian diikuti adiknya yang paling kecil. “Iyo enak. Wedhus teko ngendi to pake, (iya enak. Kambing dari mana pak)," tanya anak tertua Sartono padanya. “Orang Jakarta," jawab Sartono singkat. Sekilas, lelaki paruh baya itu matanya berkaca-kaca.
“Mohon dimaklumi anak-anak saya, Mas. Malu saya, maklum bocah gunung nggak pernah makan daging," Sartono berusaha menjelaskan. Setelah satu jam berlalu, istri Sartono memberi isyarat masakan sudah matang. Saat itulah, anak-anak Sartono meninggalkan sekerat tulang yang direbus itu dari sejak ayahnya datang. Mereka berburu mengambil piring. Di atas lantai tanah, anak-anak itu duduk bersila menunggu Sang Ibu membagi kuah dan keratan tulang kambing.
Di atas piring sudah diisi nasi tiwul tanpa campuran beras sedikit pun. Tiwul (nasi dari singkong kering) masih jadi makanan pokok, bagi sebagian masyarakat di lereng Gunung Wilis. Anak-anak Sartono makan, begitu lahapnya. Tak ketinggalan istri Sartono juga ikut bergabung. Disusul kemudian Sartono sendiri menyantap menu qurban hari itu. Saya memilih makan nasi tiwul, ditemani sambel teri dan lalapan daun singkong masakan istri Sartono. Sungguh nikmat, meski haru mencabik-cabik.
Makan siang usai. Tapi, lagi-lagi ada yang janggal. Menengok piring makan anak-anak Sartono masih menyisakan keratan tulang. Hanya suiran daging sedikt yang dimakan. Mendadak, Marno yang paling banyak ngomongnya nyeletuk. “Bu disimpan buat makan nanti sore. Jangan hilang ya," tenggorokan saya terasa tercekat. Mendadak ingat daging yang melimpah di Arab Saudi melengkapi prosesi haji. Juga terbayang pesta daging kurban di kota-kota besar yang orang kaya pun ikut menikmati.
Siang itu, raut wajah gembira tersaji murni. Senyum simpul anak-anak Sartono nyaris sulit ditulis. Tapi, cerita ini harus saya bagi dengan Anda semua. Bahwa sekerat daging bisa jadi bagi kita tak berarti, tapi bagi keluarga Sartono sepotong tulang pun asupan gizi yang tak tentu setahun sekali dinikmati.
Rep: Sunaryo Adhiatmoko
Sumber: Al Azhar Peduli Ummat
Cerita Haru yang Tersisa dari Kurban Tahun Lalu
REPUBLIKA.CO.ID, KEDIRI--Tahun lalu, saat prosesi distribusi kurban di perkampungan lereng Gunung Wilis, Jawa Timur, tatapan saya tak lepas pada keluarga Sartono. Ia membaur di antara ratusan warga yang menunggu giliran jatah sekerat daging qurban hari itu. Mengapa sekerat? Tiga ekor kambing dari Al-Azhar Peduli Ummat dibagi rata untuk 200 keluarga.
Bahkan kulit kambing yang bagi sebagian masyarakat dijual murah begitu saja, ikut dibersihkan bulunya kemudian dicacah kecil-kecil hingga terbagi rata. Pada saat prosesi ini, siapapun yang menyaksikan tak kuat menahan haru. Tiba giliran Sartono mengambil sejumput daging yang terbungkus daun pisang. Petani yang sehari-hari menggarap lahan hutan itu, kemudian bergegas pulang ke rumahnya. Di halaman, tiga anak Sartono yang masih kecil menyerbu girang.
“Iwak wedhus yo pak, enak to pak (daging kambing ya pak, enak kan pak)," cecar anak pertama Sartono yang duduk di bangku SD kelas 4. Sartono hanya senyum, kemudian menyerahkan bungkusan daun pisang itu pada istrinya. Anak-anak Sartono tak mau jauh sejengkal pun, dari bungkusan itu. Bahkan saat ibunya menyiapkan perapian di tungku dapur yang terbuat dari tanah liat, ketiga anak Sartono setia menunggui. Mereka seakan tak rela, jika seekor lalat pun hinggap.
Di atas tungku dapur, istri Sartono merebus air di dalam panci yang sudah tampak usang. Kemudian bungkusan itu dibuka, tanpa dicuci lebih dulu. Tampak sejimpit daging, ditimpali potongan tulang. Jika ditimbang, tak lebih dari seperempat kilogram. Amat sedikit, jika dimakan satu orang saja kurang. Tak ada bumbu istimewa diracik, hanya garam dan bawang merah.
Suasana jadi merinding, saat anak-anak Sartono tak beringsut dari tungku dapur. Marno, anak nomor dua bahkan menundukkan wajahnya tepat di atas panci. Kemudian ia mengisap dalam-dalam asap dari dalam panci yang berbau kuah kambing itu. “Hmmm, seger yo kang. Enak. Jajalo. (segar ya mas. Enak. Cobalah)," kata Marno pada kakaknya.
Tak lama kemudian, sang kakak mengikuti saran adiknya. Kemudian diikuti adiknya yang paling kecil. “Iyo enak. Wedhus teko ngendi to pake, (iya enak. Kambing dari mana pak)," tanya anak tertua Sartono padanya. “Orang Jakarta," jawab Sartono singkat. Sekilas, lelaki paruh baya itu matanya berkaca-kaca.
“Mohon dimaklumi anak-anak saya, Mas. Malu saya, maklum bocah gunung nggak pernah makan daging," Sartono berusaha menjelaskan. Setelah satu jam berlalu, istri Sartono memberi isyarat masakan sudah matang. Saat itulah, anak-anak Sartono meninggalkan sekerat tulang yang direbus itu dari sejak ayahnya datang. Mereka berburu mengambil piring. Di atas lantai tanah, anak-anak itu duduk bersila menunggu Sang Ibu membagi kuah dan keratan tulang kambing.
Di atas piring sudah diisi nasi tiwul tanpa campuran beras sedikit pun. Tiwul (nasi dari singkong kering) masih jadi makanan pokok, bagi sebagian masyarakat di lereng Gunung Wilis. Anak-anak Sartono makan, begitu lahapnya. Tak ketinggalan istri Sartono juga ikut bergabung. Disusul kemudian Sartono sendiri menyantap menu qurban hari itu. Saya memilih makan nasi tiwul, ditemani sambel teri dan lalapan daun singkong masakan istri Sartono. Sungguh nikmat, meski haru mencabik-cabik.
Makan siang usai. Tapi, lagi-lagi ada yang janggal. Menengok piring makan anak-anak Sartono masih menyisakan keratan tulang. Hanya suiran daging sedikt yang dimakan. Mendadak, Marno yang paling banyak ngomongnya nyeletuk. “Bu disimpan buat makan nanti sore. Jangan hilang ya," tenggorokan saya terasa tercekat. Mendadak ingat daging yang melimpah di Arab Saudi melengkapi prosesi haji. Juga terbayang pesta daging kurban di kota-kota besar yang orang kaya pun ikut menikmati.
Siang itu, raut wajah gembira tersaji murni. Senyum simpul anak-anak Sartono nyaris sulit ditulis. Tapi, cerita ini harus saya bagi dengan Anda semua. Bahwa sekerat daging bisa jadi bagi kita tak berarti, tapi bagi keluarga Sartono sepotong tulang pun asupan gizi yang tak tentu setahun sekali dinikmati.
Rep: Sunaryo Adhiatmoko
Sumber: Al Azhar Peduli Ummat
Sapa Ramadhan : Siap Lahir Batin Hadapi Ramadhan
By PKPU Online
Dari Abi Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda "Rasulullah SAW bersumpah tidak ada bulan yang paling baik bagi orang beriman kecuali bulan Ramadhan, dan tidak ada bulan yang paling buruk bagi orang munafik kecuali bulan Ramadhan, ..." (HR. Imam Ahmad).
Cici Tegal, artis yang saat ini menjadi duta Zakat Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU). Saat Ramadhan, selain ia menjaga stamina tubuh juga konsen menjaga kebersamaan dengan keluarga." Saya saat Ramadhan, walau kesibukan bertambah tapi fokus kebersamaan keluarga tetap dijaga, apalagi ibu saya sudah lanjut usia" ucap Cici yang memang jadwal Ramadhan sangat padat.
Itulah Ramadhan. Banyak hal yang dirindukan setiap orang. Selama bulan ini, hamba dengan Tuhannya serasa tak berjarak. Ramadhan juga sering disebut sebagai bulan penempaan. Selama Bulan Suci, jiwa umat selalu dijaga agar tidak 'membelok' ke jalur yang salah menurut agama.
Setiap detik ibadah di jaga, tak ayal bulan ini dinamakan bulan meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Semua berlomba-lomba untuk mencari ridho Allah Swt. Siapapun manusia dunia yang menginginkan bulan suci Ramadhan dianjurkan memperbanyak amalan sunnah. Lalu amalan sunnah seperti apa yang harus dilakukan?
Menurut Muhammad Arifin Ilham, seorang dai muda yang rutinitas hidupnya sudah terjadwal, mempunyai cara tersendiri dalam memperbanyak amalan sunnah," Biasanya pada bulan Ramadhan saya selalu berada di rumah, berbanyak sholat malam dan berzikir. Ramadhan adalah bulan pengendalian diri, dan bukan lebih banyak beraktifis," ucap Arifin yang biasanya sebelum Ramadhan pergi Umroh.
Selain itu para ahli dakwah juga berpendapat ada beberapa hal yang harus kita persiapkan secara lahir batin dalam menggapai amalan sunnah. Berzikir dan membaca (tilawah) alquran. Semua dilakukan, agar kita mampu untuk mengisi bulan yang penuh berkah ini dengan kegiatan yang dapat menambah bobot umur ketika kita menghadap Allah Swt. Secara pribadi setidaknya setiap manusia mempersiapkan kedatangan bulan ini secara optimal, karena persiapan ini akan mempengaruhi baik tidaknya mengisi amaliah Ramadhan.
Menumbuhnya Rasa Kedermawanan
Imam Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin berkata "Ketahuilah bahwa puasa terbagi dalam 3 tingkatan, puasa umum, puasa khusus, dan puasa khususil khusus" (Ihya-jld 1/277). Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata "Tingkatan kedua orang puasa adalah yang puasa di dunia ini karena karena Allah, maka ia menjaga kepala dan apa yang dibawahnya, menjaga perut dan apa yang di sekelilingnya dan mengingat mati serta pasca kematian, orientasi hidupnya akherat maka hari Iednya adalah hari bertemu dengan Tuhan-Nya dan hari kebahagiannya adalah hari ketika ia melihat Tuhan-Nya".
Perkataan dua ulama ini menunjukan bahwa ada diantara orang yang berpuasa hanya mendapatkan keletihan tanpa ada keistemewaan yang ia dapatkan dan ada juga jenis orang yang berpuasa dan mendapatkan keistimewaan yaitu orang yang dapat mempersiapkan diri dari sisi ahklaq, karena tanpa persiapan sisi ini puasa hanya akan menahan lapar dan haus saja tanpa mampu menjaga akhlaq sehingga puasa kita menjadi nihil dari sisi pahala.
Disamping hal tersebut diatas persiapan dari sisi materi penting juga kita laksanakan agar kita dapat mencontoh Rasulullah dari kedermawanan yang beliau contohkan ketika datang bulan Ramadhan sebagaimana yang riwayatkan dari banyak hadits. Dari kitab Shahihain Ibnu 'Abbas ra berkata " Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadan ketika berjumpa dengan Jibril untuk bertadarus Al-Quran, kedermawanan Rasulullah ketika itu bagaikan
angin yang berhembus".
Jadi semua kembali pada manusianya, karena diantara akhlak atau sikap yang harus dijaga saat ini sikap keridhaan dalam kedermawanan, karena menurut Manajer Pembinaan Insani PKPU ustadz M. Suharsono, Lc, "Ada perbuatan paling terpuji yang juga dianjurkan yaitu shadaqah. Dalam bershadaqah terkadang menjadi sebuah amalan yang amat berat, atau berat-berat ringan. Berat karena memang secara fitrahnya manusia
mempunyai kecenderungan untuk mencintai harta" ujar ustadz muda ini. Namun kini yang terjadi di tengah masyarakat adalah sebaliknya.
Semakin dekat waktunya Ramadhan. Semakin tak peduli. Perhatian malah difokuskan
pada persiapan perayaan Idul Fitri. Ini terjadi akibat pemahaman yang salah terhadap Ramadhan. memandang bahwa puasa Ramadhan hanyalah sebuah ritual belaka. Bagaimana dengan Kita ?. Wallahu'alam
Membekali Kemenangan Ramadhan
Krisis multidimensi yang melanda negeri ini luar biasa. Betapapun sulit dijangkau nyatanya memang harus dihadapi.Sesungguhnya, jika semua manusia berpikir positif barangkali setiap point permasalahan dapat ditanggulangi. Bagaimana dengan Ramadhan. Dapatkah bulan penuh ampunan ini, menjadikan jalan penyelesaian?
Untuk pendekatkan sasaran tersebut, pastinya Allah menciptakan Ramadhan penuh dengan keutamaan-keutamaan dan kemuliaan. Untuk itu diperlukan dalam mempelajari dan memahami dengan bekal-bekal yang harus dimiliki oleh kita. Diantara bekal itu adalah persepsi Ramadhan yang sesunguhnya, fiqih puasa serta makna Idul Fitri.
Mengenai persepsi Ramadhan. Rasulullah SAW, sebelum Ramadhan datang mengumpulkan para sahabatnya dan berkhutbah tentang Ramadhan. Adapun isi khutbah diantaranya sbb : " .. bulan yang sangat agung yang penuh dengan barokah, yang didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana yang Allah telah menjadikan puasa didalamnya sebagai puasa wajib, qiyamullailnya sunnah, ...dst. (HR. Ibnu Hujaimah, beliau berkata: hadis ini adalah hadis sahih) Selain itu Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada kita untuk melakukan ibadah puasa di bulan Sya'ban. Dengan banyak berpuasa di bulan Sya'ban berarti kita telah mengkondisikan diri, baik dari sisi ruhiyah atau jasadiah. Nantinya tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dalam proses penyesuaian. Seperti banyak terjadi pada orang yang pertama kali berpuasa, misalnya lemas, badan terasa panas, tidak bersemangat, banyak mengeluh, dsb. Untuk dapat mengkondisikan hal tersebut, kita diwajibkan untuk menjaga ruhiyah (hati) dengan memperbanyak membaca (tilawah) Alquran.
Dalam Alquran di katakan, "Bulan Ramadhan bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) maka barang siapa mendapatkan hendaklah ia puasa (QS : Al-Baqarah : 185)
Itulah Ramadhan. Bulan penuh dengan godaan dan hasrat. Namun alangkah indah jika ditambah ilmu yang cukup. Ilmu yang menjadikan Ramadhan dalam meningkatkan kualitas iman dan taqwa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Banyak orang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar. Dan banyak orang shalat malam, tidak mendapat apa-apa dari shalatnya kecuali bergadang. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah).
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda : "Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya". (HR. Bukhori)
Dari dua hadits diatas bisa disimpulkan bahwa membekali diri dengan segala ilmu yang berkaitan dengan puasa, sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita. Dengan meningkatkan kualitas ketaqwaanlah nantinya bulan Ramadhan yang mulia ini dapat dinikmati hingga akhir.
Dari Abi Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda "Rasulullah SAW bersumpah tidak ada bulan yang paling baik bagi orang beriman kecuali bulan Ramadhan, dan tidak ada bulan yang paling buruk bagi orang munafik kecuali bulan Ramadhan, ..." (HR. Imam Ahmad).
Cici Tegal, artis yang saat ini menjadi duta Zakat Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU). Saat Ramadhan, selain ia menjaga stamina tubuh juga konsen menjaga kebersamaan dengan keluarga." Saya saat Ramadhan, walau kesibukan bertambah tapi fokus kebersamaan keluarga tetap dijaga, apalagi ibu saya sudah lanjut usia" ucap Cici yang memang jadwal Ramadhan sangat padat.
Itulah Ramadhan. Banyak hal yang dirindukan setiap orang. Selama bulan ini, hamba dengan Tuhannya serasa tak berjarak. Ramadhan juga sering disebut sebagai bulan penempaan. Selama Bulan Suci, jiwa umat selalu dijaga agar tidak 'membelok' ke jalur yang salah menurut agama.
Setiap detik ibadah di jaga, tak ayal bulan ini dinamakan bulan meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Semua berlomba-lomba untuk mencari ridho Allah Swt. Siapapun manusia dunia yang menginginkan bulan suci Ramadhan dianjurkan memperbanyak amalan sunnah. Lalu amalan sunnah seperti apa yang harus dilakukan?
Menurut Muhammad Arifin Ilham, seorang dai muda yang rutinitas hidupnya sudah terjadwal, mempunyai cara tersendiri dalam memperbanyak amalan sunnah," Biasanya pada bulan Ramadhan saya selalu berada di rumah, berbanyak sholat malam dan berzikir. Ramadhan adalah bulan pengendalian diri, dan bukan lebih banyak beraktifis," ucap Arifin yang biasanya sebelum Ramadhan pergi Umroh.
Selain itu para ahli dakwah juga berpendapat ada beberapa hal yang harus kita persiapkan secara lahir batin dalam menggapai amalan sunnah. Berzikir dan membaca (tilawah) alquran. Semua dilakukan, agar kita mampu untuk mengisi bulan yang penuh berkah ini dengan kegiatan yang dapat menambah bobot umur ketika kita menghadap Allah Swt. Secara pribadi setidaknya setiap manusia mempersiapkan kedatangan bulan ini secara optimal, karena persiapan ini akan mempengaruhi baik tidaknya mengisi amaliah Ramadhan.
Menumbuhnya Rasa Kedermawanan
Imam Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin berkata "Ketahuilah bahwa puasa terbagi dalam 3 tingkatan, puasa umum, puasa khusus, dan puasa khususil khusus" (Ihya-jld 1/277). Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata "Tingkatan kedua orang puasa adalah yang puasa di dunia ini karena karena Allah, maka ia menjaga kepala dan apa yang dibawahnya, menjaga perut dan apa yang di sekelilingnya dan mengingat mati serta pasca kematian, orientasi hidupnya akherat maka hari Iednya adalah hari bertemu dengan Tuhan-Nya dan hari kebahagiannya adalah hari ketika ia melihat Tuhan-Nya".
Perkataan dua ulama ini menunjukan bahwa ada diantara orang yang berpuasa hanya mendapatkan keletihan tanpa ada keistemewaan yang ia dapatkan dan ada juga jenis orang yang berpuasa dan mendapatkan keistimewaan yaitu orang yang dapat mempersiapkan diri dari sisi ahklaq, karena tanpa persiapan sisi ini puasa hanya akan menahan lapar dan haus saja tanpa mampu menjaga akhlaq sehingga puasa kita menjadi nihil dari sisi pahala.
Disamping hal tersebut diatas persiapan dari sisi materi penting juga kita laksanakan agar kita dapat mencontoh Rasulullah dari kedermawanan yang beliau contohkan ketika datang bulan Ramadhan sebagaimana yang riwayatkan dari banyak hadits. Dari kitab Shahihain Ibnu 'Abbas ra berkata " Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadan ketika berjumpa dengan Jibril untuk bertadarus Al-Quran, kedermawanan Rasulullah ketika itu bagaikan
angin yang berhembus".
Jadi semua kembali pada manusianya, karena diantara akhlak atau sikap yang harus dijaga saat ini sikap keridhaan dalam kedermawanan, karena menurut Manajer Pembinaan Insani PKPU ustadz M. Suharsono, Lc, "Ada perbuatan paling terpuji yang juga dianjurkan yaitu shadaqah. Dalam bershadaqah terkadang menjadi sebuah amalan yang amat berat, atau berat-berat ringan. Berat karena memang secara fitrahnya manusia
mempunyai kecenderungan untuk mencintai harta" ujar ustadz muda ini. Namun kini yang terjadi di tengah masyarakat adalah sebaliknya.
Semakin dekat waktunya Ramadhan. Semakin tak peduli. Perhatian malah difokuskan
pada persiapan perayaan Idul Fitri. Ini terjadi akibat pemahaman yang salah terhadap Ramadhan. memandang bahwa puasa Ramadhan hanyalah sebuah ritual belaka. Bagaimana dengan Kita ?. Wallahu'alam
Membekali Kemenangan Ramadhan
Krisis multidimensi yang melanda negeri ini luar biasa. Betapapun sulit dijangkau nyatanya memang harus dihadapi.Sesungguhnya, jika semua manusia berpikir positif barangkali setiap point permasalahan dapat ditanggulangi. Bagaimana dengan Ramadhan. Dapatkah bulan penuh ampunan ini, menjadikan jalan penyelesaian?
Untuk pendekatkan sasaran tersebut, pastinya Allah menciptakan Ramadhan penuh dengan keutamaan-keutamaan dan kemuliaan. Untuk itu diperlukan dalam mempelajari dan memahami dengan bekal-bekal yang harus dimiliki oleh kita. Diantara bekal itu adalah persepsi Ramadhan yang sesunguhnya, fiqih puasa serta makna Idul Fitri.
Mengenai persepsi Ramadhan. Rasulullah SAW, sebelum Ramadhan datang mengumpulkan para sahabatnya dan berkhutbah tentang Ramadhan. Adapun isi khutbah diantaranya sbb : " .. bulan yang sangat agung yang penuh dengan barokah, yang didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana yang Allah telah menjadikan puasa didalamnya sebagai puasa wajib, qiyamullailnya sunnah, ...dst. (HR. Ibnu Hujaimah, beliau berkata: hadis ini adalah hadis sahih) Selain itu Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada kita untuk melakukan ibadah puasa di bulan Sya'ban. Dengan banyak berpuasa di bulan Sya'ban berarti kita telah mengkondisikan diri, baik dari sisi ruhiyah atau jasadiah. Nantinya tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dalam proses penyesuaian. Seperti banyak terjadi pada orang yang pertama kali berpuasa, misalnya lemas, badan terasa panas, tidak bersemangat, banyak mengeluh, dsb. Untuk dapat mengkondisikan hal tersebut, kita diwajibkan untuk menjaga ruhiyah (hati) dengan memperbanyak membaca (tilawah) Alquran.
Dalam Alquran di katakan, "Bulan Ramadhan bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) maka barang siapa mendapatkan hendaklah ia puasa (QS : Al-Baqarah : 185)
Itulah Ramadhan. Bulan penuh dengan godaan dan hasrat. Namun alangkah indah jika ditambah ilmu yang cukup. Ilmu yang menjadikan Ramadhan dalam meningkatkan kualitas iman dan taqwa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Banyak orang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar. Dan banyak orang shalat malam, tidak mendapat apa-apa dari shalatnya kecuali bergadang. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah).
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda : "Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya". (HR. Bukhori)
Dari dua hadits diatas bisa disimpulkan bahwa membekali diri dengan segala ilmu yang berkaitan dengan puasa, sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita. Dengan meningkatkan kualitas ketaqwaanlah nantinya bulan Ramadhan yang mulia ini dapat dinikmati hingga akhir.
Kamis, 05 Maret 2009
Kejujuran Tuna Wisma di Bales Berkat Berlipat Ganda
Second Brain
Bagi sebagian orang, menemukan uang dalam jumlah banyak milik orang merupakan rezeki nomplok. Namun, tidak demikian dengan seorang tuna wisma di Amerika Serikat (AS) berikut ini.
Menemukan uang yang nilainya setara dengan puluhan juta rupiah, gelandangan bernama Dave Tally itu tidak gelap mata. Dia justru mengembalikan uang itu kepada pemiliknya. Kendati tanpa pamrih, niat baik Tally itu mendapat balasan lebih dua kali lipat dari nilai uang yang dia temukan.
Kantor berita Associated Press pada 10 Desember 2010 menuturkan, tunawisma asal Kota Tempe di negara bagian Arizona itu suatu ketika menemukan tas berisikan uang sebesar US$3.300 atau sekitar Rp. 29,7 juta. Tally baru saja sembuh dari kecanduannya terhadap obat-obatan terlarang dan alkohol.
Dia menemukan kantong tas berisi uang tersebut sepulangnya dari membetulkan sepeda. Tanpa pikir panjang, Tally langsung memberikan tas beserta isinya ke sebuah komunitas pelayan tunawisma di Tempe. Lelaki berusia 49 tahun itu tidak mengambil sepeserpun dari uang tersebut, padahal uang di kantongnya telah habis untuk membetulkan sepeda.
Setelah ditelusuri, ternyata gepokan uang di dalam tas tersebut milik Bryan Belanger, seorang mahasiswa di Universitas Negeri Arizona yang kehilangan tas ketika hendak membeli mobil bekas. Bersama dengan Stephen Spark, staf komunitas pelayan tunawisma, Tally mengembalikan uang tersebut kepada Belanger. Kisah Tally ini diberitakan oleh radio KTAR yang langsung menjadi pembicaraan seluruh kota.
Atas kejujurannya ini, Tally dipuji sebagai pahlawan para tunawisma karena telah merubah citra mereka yang buruk. Dewan kota Tempe yang tersentuh dengan kejujurannya, membuat rekening untuk sumbangan seluruh kota. Banyak warga yang kagum juga memberikan cek kepadanya yang jumlahnya bahkan melebihi uang yang dia temukan, yaitu senilai US$8.000 (Rp.72 juta). Tidak sedikit dari warga juga menawarkan pekerjaan kepadanya agar Tally dapat mandiri.
Seorang dokter gigi bahkan memberikan perawatan gigi dan memberikan gigi palsu secara gratis kepada Tally. Seorang pengacara menawarkan jasa pro-bono kepadanya untuk menangani kasus-kasus lama yang menimpanya. Walikota Tempe, Hugh Hallman, menjadikan hari ditemukannya uang tersebut sebagai hari Dave Tally.
“Saya tidak menyangka semua berakhir seperti ini. Saya hanya berpikir untuk mengembalikan tas tersebut dan semuanya selesai,” ujar Tally.
Dulunya, Tally adalah seorang pengawas di sebuah perusahaan kontraktor. Dia kehilangan pekerjaannya ketika pada tahun 1999 dia didakwa karena mengendara dalam keadaan mabuk. Karena itu juga dia kehilangan izin mengemudinya. Tally mengaku dia memang pernah kecanduan alkohol dan obat-obatan.
Tally mengatakan akan menggunakan uang yang dia peroleh dari sumbangan untuk merencanakan hidupnya. Dia mengatakan ingin membuka sebuah pusat pelatihan komputer. Dia juga mengatakan akan memilih pekerjaan yang ditawarkan kepadanya.
Pondok Cerita
Bagi sebagian orang, menemukan uang dalam jumlah banyak milik orang merupakan rezeki nomplok. Namun, tidak demikian dengan seorang tuna wisma di Amerika Serikat (AS) berikut ini.
Menemukan uang yang nilainya setara dengan puluhan juta rupiah, gelandangan bernama Dave Tally itu tidak gelap mata. Dia justru mengembalikan uang itu kepada pemiliknya. Kendati tanpa pamrih, niat baik Tally itu mendapat balasan lebih dua kali lipat dari nilai uang yang dia temukan.
Kantor berita Associated Press pada 10 Desember 2010 menuturkan, tunawisma asal Kota Tempe di negara bagian Arizona itu suatu ketika menemukan tas berisikan uang sebesar US$3.300 atau sekitar Rp. 29,7 juta. Tally baru saja sembuh dari kecanduannya terhadap obat-obatan terlarang dan alkohol.
Dia menemukan kantong tas berisi uang tersebut sepulangnya dari membetulkan sepeda. Tanpa pikir panjang, Tally langsung memberikan tas beserta isinya ke sebuah komunitas pelayan tunawisma di Tempe. Lelaki berusia 49 tahun itu tidak mengambil sepeserpun dari uang tersebut, padahal uang di kantongnya telah habis untuk membetulkan sepeda.
Setelah ditelusuri, ternyata gepokan uang di dalam tas tersebut milik Bryan Belanger, seorang mahasiswa di Universitas Negeri Arizona yang kehilangan tas ketika hendak membeli mobil bekas. Bersama dengan Stephen Spark, staf komunitas pelayan tunawisma, Tally mengembalikan uang tersebut kepada Belanger. Kisah Tally ini diberitakan oleh radio KTAR yang langsung menjadi pembicaraan seluruh kota.
Atas kejujurannya ini, Tally dipuji sebagai pahlawan para tunawisma karena telah merubah citra mereka yang buruk. Dewan kota Tempe yang tersentuh dengan kejujurannya, membuat rekening untuk sumbangan seluruh kota. Banyak warga yang kagum juga memberikan cek kepadanya yang jumlahnya bahkan melebihi uang yang dia temukan, yaitu senilai US$8.000 (Rp.72 juta). Tidak sedikit dari warga juga menawarkan pekerjaan kepadanya agar Tally dapat mandiri.
Seorang dokter gigi bahkan memberikan perawatan gigi dan memberikan gigi palsu secara gratis kepada Tally. Seorang pengacara menawarkan jasa pro-bono kepadanya untuk menangani kasus-kasus lama yang menimpanya. Walikota Tempe, Hugh Hallman, menjadikan hari ditemukannya uang tersebut sebagai hari Dave Tally.
“Saya tidak menyangka semua berakhir seperti ini. Saya hanya berpikir untuk mengembalikan tas tersebut dan semuanya selesai,” ujar Tally.
Dulunya, Tally adalah seorang pengawas di sebuah perusahaan kontraktor. Dia kehilangan pekerjaannya ketika pada tahun 1999 dia didakwa karena mengendara dalam keadaan mabuk. Karena itu juga dia kehilangan izin mengemudinya. Tally mengaku dia memang pernah kecanduan alkohol dan obat-obatan.
Tally mengatakan akan menggunakan uang yang dia peroleh dari sumbangan untuk merencanakan hidupnya. Dia mengatakan ingin membuka sebuah pusat pelatihan komputer. Dia juga mengatakan akan memilih pekerjaan yang ditawarkan kepadanya.
Pondok Cerita
Selasa, 03 Maret 2009
Sya'ban Gerbang Ramadhan
Waktu berjalan dengan begitu cepat, saat ini kita sudah menapaki hari-hari bulan sya’ban. Ramadhan telah tiba di hadapan, padahal seolah belum lama kita meninggalkan bulan mulia itu dengan suka cita hari raya. Maka benarlah apa yang diisyaratkan Rasulullah SAW dalam haditsnya : “ Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai daripadanya : kesehatan dan kesempatan (waktu luang) “ (HR Bukhori) . Karena itulah, mari kita segera berbenah diri sejak dini, menata hati dan langkah menyambut ramadhan, di mulai dari bulan Sya’ban ini.
Rasulullah SAW dan para sahabat sejak awal telah menjadikan bulan sya’ban sebagai bulan persiapan menyambut Ramadhan dengan memperbanyak puasa sunnah. Secara khusus disebutkan dalam hadits tentang keutamaan bulan sya’ban : Dari Usamah bin Zaid, ia bertanya pada Rasulullah SAW : “ Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan yang lebih banyak dari puasamu di bulan sya’ban ? “. Maka Rasulullah SAW menjawab : “ (Sya’ban) itu adalah bulan antara Rojab dan Ramadhan yang kebanyakan manusia melalaikannya. Sya’ban adalah bulan dimana amalan-amalan diangkat menuju sisi Tuhan Semesta Alam, karenanya aku suka ketika amal-amalku diangkat, sementara aku dalam keadaaan berpuasa “ (HR Nasa’i)
Ibaratnya kedatangan tamu mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan sambutan yang terbaik. Kita semua kaum muslimin adalah tuan rumah yang akan mempersiapkan kedatangan Ramadhan, mulai dari bulan Sya’ban ini. Adapun serangkaian persiapan di bulan Sya’ban yang bisa kita lakukan antara lain :
Pertama : Persiapan Keimanan dan Kejiwaan dengan Berdoa & Memperbanyak Ibadah
Perintah puasa sejatinya ditujukan kepada orang-orang beriman. Di dalam surat al-Baqoroh 183 begitu jelas keimanan kita disentuh dengan panggilan kesayangan: “ wahai orang-orang yang beriman” . Karenanya langkah awal persiapan di bulan Sya’ban ini adalah mengkondisikan keimanan kita, agar benar-benar layak dan siap untuk mengisi bulan mulia tersebut. Persiapan keimanan dan pengkondisian jiwa juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, bahkan sejak awal bulan Rajab. Dalam riwayat dari Anas bin Malik ra disebutkan : Bahwasanya Rasulullah SAW ketika memasuki bulan Rajab berdoa : “ Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (usia) kami pada bulan Ramadhan “ (HR Ahmad). Dengan berdoa dan memperbanyak ibadah, maka kondisi keimanan kita akan terjaga hingga Ramadhan menjelang. Begitu pula secara konsentrasi, pikiran dan jiwa kita akan fokus dalam menyambut tamu mulia itu.
Kedua : Memperbanyak Puasa dan Membayar Hutang Puasa
Selain persiapan keimanan, kita juga bisa melakukan persiapan Ramadhan secara lebih fokus yaitu dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW telah memberikan contoh begitu jelas pada kita –sebagaimana disebutkan dalam hadits terdahulu – betapa beliau lebih mengintensifkan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Bagi kita ini persiapan semacam ini tentu menjadi sangat penting, khususnya banyak dari kita yang melewati satu tahun dengan penuh kesibukan hingga jarang melakukan puasa sunnah. Begitu pula secara khusus bagi kaum wanita yang masih mempunyai tanggungan hutang puasa ramadhan di tahun lalu, maka bulan Sya’ban ini waktu yang tepat untuk segera melunasinya. Diriwayatkan pula dalam Shahih Bukhori, bagaimana Aisyah binti Abu Bakar ra, istri Rasulullah SAW pun baru bisa mengganti hutang puasanya di bulan Sya’ban, karena kesibukannya dalam membantu Rasulullah SAW .
Ketiga : Persiapan Ilmu
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang di dalamnya kita dianjurkan memperbanyak kebaikan. Banyak juga amalan-amalan lain di luar puasa yang semestinya kita lakukan di bulan Ramadhan, seperti : sedekah, memberi buka, tilawah dan tentu saja shalat tarawih. Anggapan Ramadhan sekedar bulan puasa hanya akan mengecilkan semangat kita dalam memperbanyak kebaikan di bulan mulia tersebut. Karenanya kita membutuhkan persiapan keilmuan sejak dini tentang bulan Ramadhan, agar saat bulan mulia itu menjelang, kita benar-benar tahu dan yakin tentang apa yang harus kita lakukan dalam mengisinya. Banyak kita saksikan di televisi dan media, saat Ramadhan telah beranjak setengah perjalanan masih saja banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar puasa, khususnya apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Ini menunjukkan kekurangsiapan kita dalam menjalani ibadah puasa.
Bulan Sya’ban ini adalah waktu yang tepat kita mempersiapkan keilmuan kita untuk mengoptimalkan pahala Ramadhan. Agar kita bisa mengisinya dengan optimal, dan berusaha menjalankan puasa dengan sempurna. Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang puasa yang sia-sia. Dari riwayat Abu Hurairah ra beliau bersabda : “ Betapa banyak orang berpuasa tapi tidak ada baginya pahala puasa kecuali lapar saja, dan betapa banyak orang sholat malam (tarawih), tapi tidak ada baginya pahala kecuali (kelelahan) begadang saja” (HR An-Nasa’i).
Akhirnya, marilah kita mengajak keluarga kita, saudara dan juga sahabat untuk bersama-sama menjadikan bulan Sya’ban ini sebagai bulan persiapan. Dari mulai persiapan keimanan hingga keilmuan, kita wujudkan satu demi satu pada hari-hari kita, pada rumah tangga dan lingkungan kita. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan. Wallahu a’lam.
Sumber : indonesiaoptimis.com
Rasulullah SAW dan para sahabat sejak awal telah menjadikan bulan sya’ban sebagai bulan persiapan menyambut Ramadhan dengan memperbanyak puasa sunnah. Secara khusus disebutkan dalam hadits tentang keutamaan bulan sya’ban : Dari Usamah bin Zaid, ia bertanya pada Rasulullah SAW : “ Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan yang lebih banyak dari puasamu di bulan sya’ban ? “. Maka Rasulullah SAW menjawab : “ (Sya’ban) itu adalah bulan antara Rojab dan Ramadhan yang kebanyakan manusia melalaikannya. Sya’ban adalah bulan dimana amalan-amalan diangkat menuju sisi Tuhan Semesta Alam, karenanya aku suka ketika amal-amalku diangkat, sementara aku dalam keadaaan berpuasa “ (HR Nasa’i)
Ibaratnya kedatangan tamu mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan sambutan yang terbaik. Kita semua kaum muslimin adalah tuan rumah yang akan mempersiapkan kedatangan Ramadhan, mulai dari bulan Sya’ban ini. Adapun serangkaian persiapan di bulan Sya’ban yang bisa kita lakukan antara lain :
Pertama : Persiapan Keimanan dan Kejiwaan dengan Berdoa & Memperbanyak Ibadah
Perintah puasa sejatinya ditujukan kepada orang-orang beriman. Di dalam surat al-Baqoroh 183 begitu jelas keimanan kita disentuh dengan panggilan kesayangan: “ wahai orang-orang yang beriman” . Karenanya langkah awal persiapan di bulan Sya’ban ini adalah mengkondisikan keimanan kita, agar benar-benar layak dan siap untuk mengisi bulan mulia tersebut. Persiapan keimanan dan pengkondisian jiwa juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, bahkan sejak awal bulan Rajab. Dalam riwayat dari Anas bin Malik ra disebutkan : Bahwasanya Rasulullah SAW ketika memasuki bulan Rajab berdoa : “ Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (usia) kami pada bulan Ramadhan “ (HR Ahmad). Dengan berdoa dan memperbanyak ibadah, maka kondisi keimanan kita akan terjaga hingga Ramadhan menjelang. Begitu pula secara konsentrasi, pikiran dan jiwa kita akan fokus dalam menyambut tamu mulia itu.
Kedua : Memperbanyak Puasa dan Membayar Hutang Puasa
Selain persiapan keimanan, kita juga bisa melakukan persiapan Ramadhan secara lebih fokus yaitu dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW telah memberikan contoh begitu jelas pada kita –sebagaimana disebutkan dalam hadits terdahulu – betapa beliau lebih mengintensifkan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Bagi kita ini persiapan semacam ini tentu menjadi sangat penting, khususnya banyak dari kita yang melewati satu tahun dengan penuh kesibukan hingga jarang melakukan puasa sunnah. Begitu pula secara khusus bagi kaum wanita yang masih mempunyai tanggungan hutang puasa ramadhan di tahun lalu, maka bulan Sya’ban ini waktu yang tepat untuk segera melunasinya. Diriwayatkan pula dalam Shahih Bukhori, bagaimana Aisyah binti Abu Bakar ra, istri Rasulullah SAW pun baru bisa mengganti hutang puasanya di bulan Sya’ban, karena kesibukannya dalam membantu Rasulullah SAW .
Ketiga : Persiapan Ilmu
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang di dalamnya kita dianjurkan memperbanyak kebaikan. Banyak juga amalan-amalan lain di luar puasa yang semestinya kita lakukan di bulan Ramadhan, seperti : sedekah, memberi buka, tilawah dan tentu saja shalat tarawih. Anggapan Ramadhan sekedar bulan puasa hanya akan mengecilkan semangat kita dalam memperbanyak kebaikan di bulan mulia tersebut. Karenanya kita membutuhkan persiapan keilmuan sejak dini tentang bulan Ramadhan, agar saat bulan mulia itu menjelang, kita benar-benar tahu dan yakin tentang apa yang harus kita lakukan dalam mengisinya. Banyak kita saksikan di televisi dan media, saat Ramadhan telah beranjak setengah perjalanan masih saja banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar puasa, khususnya apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Ini menunjukkan kekurangsiapan kita dalam menjalani ibadah puasa.
Bulan Sya’ban ini adalah waktu yang tepat kita mempersiapkan keilmuan kita untuk mengoptimalkan pahala Ramadhan. Agar kita bisa mengisinya dengan optimal, dan berusaha menjalankan puasa dengan sempurna. Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang puasa yang sia-sia. Dari riwayat Abu Hurairah ra beliau bersabda : “ Betapa banyak orang berpuasa tapi tidak ada baginya pahala puasa kecuali lapar saja, dan betapa banyak orang sholat malam (tarawih), tapi tidak ada baginya pahala kecuali (kelelahan) begadang saja” (HR An-Nasa’i).
Akhirnya, marilah kita mengajak keluarga kita, saudara dan juga sahabat untuk bersama-sama menjadikan bulan Sya’ban ini sebagai bulan persiapan. Dari mulai persiapan keimanan hingga keilmuan, kita wujudkan satu demi satu pada hari-hari kita, pada rumah tangga dan lingkungan kita. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan. Wallahu a’lam.
Sumber : indonesiaoptimis.com
Ramadhan Tetap Romantis
Bulan Ramadhan.........Lantas bagaimana dengan agenda mesra para suami istri ? Apakah romantis harus kita tangguhkan terlebih dahulu hingga lebaran tiba ? Sanggupkah kita ? Jika tidak, adakah alternatif lainnya ?.
Sebelum berbicara lebih jauh tentang kemesraan selama bulan Ramadhan, ada sebuah hadits yang perlu kita renungkan terlebih dahulu. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda ketika Ramadhan datang menjelang : " Sungguh telah datang padamu sebuah bulan yang penuh berkah dimana diwajibkan atasmu puasa di dalamnya, (bulan) dibukanya pintu-pintu surga, dan ditutupnya pintu-pintu neraka jahannam, dan dibelenggunya syaitan-syaitan, Di dalamnya ada sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Barang siapa diharamkan dari kebaikannya, maka telah diharamkan (seluruhnya) "(HR Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi)
Ramadhan sering datang dengan tiba-tiba, dan berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ia adalah momentum termahal yang pernah kita punya untuk mendulang pahala. Ini mirip bulan promosi dan besar-besaran yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Kebaikan nilai pahalanya menjadi berlipat-lipat, semua orang berburu memborongnya. Saya sering mengibaratkan Romadhon itu : Bagaikan kita mendapat 'hadiah' di sebuah pusat perbelanjaan. Kita diberi kesempatan untuk mengambil semua barang belanja di dalamnya, namun hanya dalam waktu sepuluh menit ! Allah SWT menggambarkannya dalam Al-Qur'an : " (yaitui) dalam beberapa hari yang tertentu" ( QS Al-Baqarah 184)
Semua kita, jika diberi kesempatan 'gratisan' semacam itu, pasti segera meloncat lalu berlari menuju rak-rak belanjaan untuk segera mengambil barang-barang, dari yang termahal hingga termurah. Nyaris tanpa henti hingga waktunya selesai. Lelah berkeringat bukan masalah. Apa yang dalam pikiran kita adalah ini kesempatan berharga.. Sekali lengah atau berhenti bisa berarti kerugian yang tak terbayangkan.
Apa makna dari gambaran tersebut ? Arti yang harus kita pahami bahwa Ramadhan memang benar-benar berbeda. Perlu interaksi, konsentrasi dan energi yang berbeda pula dalam menyikapinya. Jangan sekali-sekali menyamakan Ramadhan dengan sebelas bulan yang lainnya. Berbeda dan sungguh berbeda.
Ini berarti, dalam bulan Ramadhan juga diperlukan sebuah kemesraan yang berbeda. Apa sajakah ?
Mesra dalam Mendulang Pahala
Sebagaimana program-program sebelumnya, kita selalu berusaha menyisipkan 'misi romantis' dalam setiap hal yang kita lakukan. Begitu juga saat Ramadhan, dimana banyak rangkaian program ibadah yang cukup ketat disyariatkan. Disitulah kita dituntut untuk lebih kreatif. Mencari celah-celah yang memungkinkan untuk investasi romantis. Tanpa mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Tanpa mengotori ketulusan niat kita dalam beribadah. Namun justru dalam kerangka saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah SWT berfirman : " Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran " (QS Al Maidah 2)
Mari kita lihat sejenak peluang-peluang romantis yang ada dalam bulan agung ini. Untuk mendulang pahala sekaligus menguatkan ikatan mesra antara suami istri.
1. Makan Sahur, ada Keberkahan ada Kemesraan
Keheningan sebelum fajar pasti menggoda setiap insan untuk lebih mesra. Bahkan munajat di sepertigamalam yang terakhir selalu saja menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Di saat-saat yang romantis itulah saat untuk bersahur tiba. Perjuangan membangunkan pasangan sudah menjanjikan banyak celah untuk mesra. Belum lagi jika ditambah dengan menyiapkan hidangan sahur bersama-sama. Menyantapnya berdua atau bersama keluarga pun akan menghadirkan keakraban yang berbeda dari biasanya. Waktu sahur hati kita terasa begitu lapang.Beban pikiran belum terlalu banyak berdesakan di kepala kita. Inilah saat yang tepat untuk mendulang mesra. Lebih jauh lagi, ada keberkahan yang sudah seharusnya kita mendapatkannya dengan sahur bersama. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda : Bersahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahan ( HR Bukhori dan Muslim)
2. Kegembiraan Saat Berbuka
Rasulullah SAW bersabda : " Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan juga saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka " ( Hadits Bukhori & Muslim )
Setiap hari sepanjang bulan Ramadhan, ada kegembiraan yang layak untuk dirayakan. Hidangan buka puasa –apapun bentuknya- selalu ditunggu-ditunggu. Saat maghrib benar-benar menjelang, tidak ada alasan untuk segera menikmatinya. Mengejar keberkahan yang dijanjikan. Dari Sahl bin Sa'd, Rasulullah SAW bersabda : " Manusia senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka " ( HR Bukhori dan Muslim)
Diantara kegembiraan dan keberkahan itulah, tercipta sebuah nuansa kemesraan yang baru. Tidak sekedar makan dan minum bersama untuk mengembalikan kekuatan raga. Cobalah juga beberapa hal yang menguatkan jiwa mesra Anda berdua. Berbukalah dengan satu suapan kurma dari tangan pasangan Anda. Atau berbukalah dengan ciuman tanpa kata-kata. Bahkan sesederhana air putih pun bisa menjadi lambang kemesraan, jika diminum segelas berdua. Jangan lupa untuk mengawali semua mesra itu dengan doa. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, Rasulullah SAW bersabda : " Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak akan tertolak " (HR Ibnu Majah)
3. Panen Kemesraan dalam Doa
Rasulullah SAW : Ada tiga orang yang tidak tertolak doa mereka : " Orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang terdzalimi " ( HR Tirmidzi)
Dalam bulan Ramadhan ada istilah 'Manajemen Doa'. Artinya bagaimana mengoptimalkan kesempatan yang ada untuk berdoa. Doa bagi semua orang. Dari yang terdekat, hingga yang terjauh dibelahan bumi yang lain. Dari yang paling dicintai, hingga yang paling dibenci. Semuanya layak untuk di doakan. Suami istri juga berhak punya doa-doa khusus yang lebih mesra jika diungkapkan bersama. Tentang harapan datangnya buah hati, harapan tumbuh shaleh dan sehatnya sang buah hati, harapan tercurahnya rizki, harapan cinta sekaligus pertemuan abadi di akhirat nanti. Berdoalah dengan semangat. Hindari keraguan dan jauhi kemalasan. Berdoalah dengan penuh harapan dan ketamakan juga kemewahan ! Sesungguhnya dalam doa ada motivasi untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya. Lihatnya betapa percaya dirinya Istri Fir;aun dengan meminta sebuah bangunan khusus di sisi Rabb-nya : " Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga " (QS At-Tahriim : 11)
Berdoalah, karena Allah SWT begitu dekat dan mengetahui setiap yang terlintas dalam hati dan benak kita. Allah SWT berfirman : " Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadaku tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran." ( QS Al-Baqoroh 186)
4. Mesra Saat Tarawih
Salah satu keunikan saat Ramadhan adalah banyak orang yang bisa bisa sholat malam berturut-turut sebulan penuh. Sementara pada malam sebelas bulan yang lainnya, hal ini sama sekali tidak terbayangkan. Sholat malam ramadhan yang akrab disebut dengan shalat tarawih, adalah salah satu peluang penghapus dosa-dosa kita sebelumnya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Barang siapa yang mendirikan (sholat) Romadhon dengan keimanan dan penuh pengharapan, akan Allah akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu " ( HR Ahmad dan Ashabu Sunan)
Kemesraan saat tarawih jangan diartikan sepasang suami istri bersenang-senang dengan 'tarawih keliling' dari satu masjid ke masjid yang lain. Bukan pula kemesraan 'sekedar' berjalan kali bersama saat berangkat dan pulang tarawih. Meski hal itu juga cukup mahal dan berharga bagi pasangan suami istri yang sebagian besar memilih berangkat sendiri-sendiri. Mesra saat tarawih adalah ketika sesekali Anda mengajaknya untuk sholat tarawih berjamaah di rumah. Istri selalu bangga jika berjalan berduaan dengan suaminya. Begitu pula sholat, ada kemesraan yang tercipta saat suami tercinta menjadi imam sholatnya. Kebanggaan untuk menjadi makmum bagi sang kepala rumah tangganya. Kemesraan dan kebanggaan ini akan berpadu menjadi sebuah kenangan. Dan inilah karakter khas Ramadhan, selalu menciptakan kenangan-kenangan. Ini pula yang membuat Ramadhan selalu dirindukan.
5. Mesra dalam Tadarus Al-Quran.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Bulan yang seharusnya menuntut kita semua untuk lebih dekat pada Al-Quran. Memenuhi kewajiban-kewajiban kita terhadap Al-Qur'an. Mulai dari membaca, menghafal, mentadabburi dan lebih-lebih mengamalkan dan mengajarkan (mendakwahkan) isi kandungan Al-Quran. Kerja-kerja semacam ini membutuhkan kesungguhan dan semangat yang berlebih. Apalagi saat terik mentari membakar dan raga dipenuhi letih. Nyaris Al-Quran menjadi jarang tersentuh. Maka disinilah peluang baru tercipta. Kesempatan emas untuk mendulang pahala sekaligus meraih mesra. Setiap pasangan tampil untuk menyemangati yang lainnya. Saling mengingatkan tentang sebuah keutamaan. Bahwa Ramadhan begitu mahal untuk terlewatkan begitu saja. Mulailah dengan tadarus. Tilawah bersama secara bergantian sebulan penuh. Target khatam sekali sebulan akan menjadi lebih ringan Insya Allah.
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : Ia (Jibril) mendatangi beliau (Rasulullah SAW) setiap malam di bulan Ramadhon, dan mengajarkannya pada beliau Al-Quran (tadarus ) (HR Bukhori),
6. Sepuluh Hari yang Menentukan
Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim)
Melepas Ramadhan biasanya diliputi kesedihan. Namun jangan sampai kesedihan ini berbuah kemalasan. Karena sedih dalam arti menyesal dan menangis tidak banyak menghasilkan pahala. Melepas Ramadhan justru dengan semangat yang berlipat ganda untuk mengejar pahala. Ada lalilatul qadar award yang senantiasa membayang dalam impian kita. Perburuan malam seribu bulan itu akan lebih semangat jika dilakukan bersama-sama. Saling berlomba dan saling mengingatkan. Baik di rumah ataupun saat itikaf di masjid. Rasulullah telah mencontohkan. Beliau membangunkan istrinya untuk bersama-sama mengejar kemuliaan. Ini memang bukan saatnya egois untuk memesan rumah di surga sendirian. Sementara lahan kosong di surga begitu luas terbentang. Wallahu a'lam.
Menjaga Mesra dengan Elegan
Begitu elegan syariat Islam memperlakukan manusia dengan sifat kemanusiaannya. Kita tidak dipaksa menjadi malaikat dengan beribadah terus menerus. Tidak pula kita dibiarkan tenggelam menjadi hewan yang sibuk makan dan bersetubuh saja. Begitu pula dalam Ramadhan. Puasa tidak lantas menutup semua celah bagi suami istri untuk saling berbagi rindu. Ada malam-malam Ramadhan yang bisa menjadi saksi mesra dan gairah antara suami istri. Ini bukan sekedar halal namun juga sebuah pengakuan. Pengakuan atas sisi kemanusiaan kita yaitu nafsu. Sebuah ayat menyatakan dengan penuh sindiran tentang hal ini.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)
Serangkaian kemesraan pada malam hari Ramadhan begitu indah digambarkan: suami istri menjadi pakaian bagi yang lainnya. Bahasa sederhananya adalah saling menutupi, saling melindungi, dan akhirnya saling memberi ketenangan. Puncak aktifitas mesra pada malam Ramadhan –tentu saja – adalah jimak. Halal. Pembahasan tentang jimak sudah kita bahas sebelumnya, dan rasa-rasanya tidak terlalu jauh berbeda antara Jimak di malam Ramadhan dan yang selainnya. Karenanya kita akan lebih konsen pada kemesraan-kemesraan yang mungkin tercipta di siang hari Ramadhan. Mungkinkah ?
Alhamdulillah. Menjaga mesra di siang Ramadhan dengan penuh elegan sudah sejak lama dicontohkan. Beliaulah –SAW- yang senantiasa proporsional dalam setiap aktifitasnya. Bahkan kemesraan-kemesraan yang beliau ciptakan sama sekali tidak mengganggu kekhusyukan. Lebih jauh lagi, tidak membatalkan puasanya. Mari kita belajar mesra dari qudwah dan junjungan kita.
Apa saja prestasi mesra beliau di bulan puasa.
1. Tetap Mesra di Malam Ramadhan
Dari Abu Bakr bin Abdurrahman, Ummu Salamah berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bangun pagi dalam keadaan junub karena bersetubuh, bukan karena mimpi. Namun beliau tidak berbuka dan tidak mengqadha (mengganti) puasanya “. (HR Muslim (III/138)
Begitulah Rasulullah SAW sebagai pedoman. Malam Ramadhan bukan berarti menjauh dari istri atas nama kekhusuyukan. Mengingkari sebuah kebutuhan yang telah dihalalkan. Jadikan malam Ramadhan penuh kenangan yang beragam. Kenangan dalam ibadah juga kenangan dalam berlabuh mesra bersama pasangan. Tinggal pandai-pandai memanajen waktu yang ada. Antara habis tarawih dan sebelum sahur. Agar di siang hari syahwat kita tidak terlunta-lunta.
2. Tetap Mencium mesra saat berpuasa
Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mencium dan memeluk (istrinya) padahal beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling dapat mengendalikan nafsu seksualnya diantara kamu } HR Bukhori (V/51) dan Muslim (III/135)
Ternyata siang hari Ramadhan tidak selalu diliputi kehausan. Bagi sebagian pemburu mesra waktu apapun akan dijadikan ladang pahala mesra. Apalagi jika Rasulullah SAW telah mencontohkan. Seolah mengisyaratkan bahwa beliau sangat paham, bahwa ada sebagian umatnya yang juga tetap romantis di saat puasa.
Mencium mesra saat dahaga melanda adalah bagai guyuran air hujan yang sejuk dari langit sana. Mencium mesra saat puasa memang membutuhkan manajemen potensi syahwat yang ketat dan luar biasa. Sekali saja tergelincir penyesalan menjadi tiada guna. Karenanya, berlatihlah mencium untuk menghias mesra saja, tanpa perlu syahwat ikut bergelora. Ciuman sayang, ciuman kasih, banyak yang bisa kita lakukan selain ciuman syahwati. Seperti ketika sang suami pulang dan mendapati istrinya tidur. Lalu ia mencium kening istrinya dengan pelan agar tak terjaga. Inilah ciuman mesra yang penuh kasih. Tak ada campur tangan syahwat dan gairah.
Jika Anda ingin lebih dari sekedar mencium. Pastikan bahwa rambu-rambu batasan harus telah jelas terpancang. Pastikan pula bahwa agenda ibadah dan kekhusyukan jangan sampai hilang tanpa kesan. Jika mau bersabar, setelah maghrib episode mesra akan lebih berkesan insya Allah.
3. Tetap Mesra Saat I'tikaf
I'tikaf adalah aktifitas berdiam diri di dalam masjid, memenuhi waktu-waktunya untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Dilihat dari artinya, maka itikaf seolah tidak menyisakan celah bagi kita untuk romantis. Apalagi isyarat ini dikuatkan dengan antisipasi awal dalam Al Quran, dimana Allah SWT berfirman : " Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya " ( QS Al-Baqarah : 187 ). Walhasil, lengkap sudah alasan bagi kita untuk sejenak menutup pintu romantis lalu menata konsentrasi kita untuk lebih utuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun uniknya, kenyataan siroh yang indah mencatat banyak hal romantis yang dilakukan Rasullah SAW bersama istri-istri beliau, sekalipun dalam masa itikaf. Sekali lagi ini bukti keselarasan syariah Islam dengan para perindu romantis sepanjang masa. Ia tidak menutup satu pintu romantis kecuali membuka pintu-pintu yang lainnya. Inilah peluang-peluang yang harus utuh terbaca oleh setiap pemburu romantis.
Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW ketika sedang beri'tikaf, beliau menjulurkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisir (rambut)nya, dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk sebuah keperluan " ( HR Bukhori 1889 , Muwatho' (605), Muslim (445), Abu Daud (2111) Tirmidzi (733)
Dari Shafiyyah binti Huyay, Ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan itikaf, pada suatu malam aku datang mengunjunginya, lalu saya berbicara dengan beliau, kemudian saya berdiri untuk pulang. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku pulang, sedangkan tempat tinggalnya saat itu di kampung Usamah bin Zaid ( HR Bukhari dan Muslim dan Abu Daud )
Duh romantisnya ketika sedang itikaf, sang istri datang dan ikut merawat suaminya. Membersihkan wajah, menata rambut atau sekedar menyemprotkan minyak wangi misalnya. Mencari tempat yang tidak membuat pandangan para mu'takifin terlena meski sebentar. Ada pula peluang lain yang tak kalah berpahala ; menyiapkan logistik sang suami saat itikaf. Pastikan dia yang tercinta tak kelaparan saat tak bermalam dengannya. Makanan kesukaannya pasti sudah sama-sama hafal diluar kepala, apalagi saat ditambah bumbu rindu, maka semoga ini menambah semangat sang suami dan kekuatannya dalam memburu kemuliaan seribu bulan.
Dan pada akhirnya, langkah -langkah sang suami dalam mengantar kepulangan istri ke rumahnya, bisa berubah menjadi investasi pahala yang tak kalah menarik dengan aktifitasnya di dalam masjid. Jika bukan diniatkan mengikuti sunnah, apa lagi ? Seperti Ibnu Umar yang sangat idealis dalam meniru setiap gerak-gerik rasulullah SAW. Atas dasar kecintaan yang abadi.
Awas, hati-hati provokasi !
Bulan Romadhon sejatinya adalah bulan tempat kita bisa mengintip surga. Merasakan kedekatan dengan surga melalui amal-amal terbaik kita. Pintu-pintunya pun terbuka. Bahkan syaitan sang penggoda harus diikat kuat tak berkutik. Lalu tinggalah kader-kader syaitan dari jenis manusia yang masih merajalela. Kita biasa menyebutnya dengan nafsu. Nah, nafsu inilah –jika kita tidak hati-hati- akan merubah program romadhon romantis kita berubah menjadi tidak keruan. Dari janji pahala menjadi ancaman dosa. Dari mesra yang berpahala menjadi kemenangan sang durjana.
Banyak produk-produk provokasi syetan yang difollow up dengan baik oleh sang nafsu mampu menghancurkan pahala puasa kita. Yang paling semu mungkin adalah ketika mesra kita justru ternoda dengan kata-kata kotor dan keji. Bermesraan di siang Romadhan sungguh perlu intensitas pengendalian diri yang cukup. Karena ketika mesra kita justru menjadi parade kata-kata seronok dan vulgar, jangan ada sesal ketika lapar dahaga kita menjadi tiada guna. Naudzu billah.
Dari Abu Hurairah ra : Rasulullah SAW bersabda : "Tidak puasa itu dari (menahan) makan dan minum saja. Akan tetapi puasa dari hal yang sia-sia dan kata-kata keji " (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim : Sohih dengan syarat Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah, Nisa'i, Hakim : Shohih dengan syarat Bukhori)
Produk provokasi setan yang lebih hebat lagi adalah ketika nafsu kita begitu menggelora di siang ramadhan, lalu melampiaskannya begitu saja pada sang istri trecinta. Akibatnya sungguh berbahaya. Serentetan hukuman menunggu kita, jadi itu sangat menyulitkan dunia dan akhirat kita. Ini bukan kasus baru, salah seorang sahabat ada yang jauh keasyikan melampaui mesra hingga menjimak istrinya di siang ramadhan.
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Seseorang datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Sungguh celaka aku ya Rasulullah ! Beliau SAW berkata : Apa yang membuatmu celaka ? Laki-laki itu menjawab : " Aku menjimak istriku di siang romadhon " . Lalu Rasulullah SAW bersabda : " Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk membebaskan budak?" Ia menjawab : " Tidak". Nabi bertanya kembali, " Apakah kamu mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut ? ". Ia menjawab ," Tidak". Kemudian ia duduk dan Nabi datang dengan sekantung besar kurma,Beliau SAW bersabda : Bersedekahlah dengan ini !. Laki-laki itu bertanya : " Apakah untuk yang paling miskin di antara kami ? Tidaklah ada diantara penduduk kampung yang lebih membutuhkan itu daripada kami ". Maka Nabi SAW pun tertawa hingga terlihat gerahamnya, lalu beliau bersabda : Pergilah dan berilah makan keluargamu ! " ( HR Jamaah)
Begitulah, kisah di atas menjadi semacam kontrol bagi kita, sebelum, sesudah, dan ketika akan bermesraan di siang bolong ramadhan. Mesra boleh saja, namun tolong secukupnya saja. Tidak bertaburan kata-kata penuh berahi, apalagi dilakukan di atas ranjang dan kamar tertutup yang berarorama wangi. Secukupnya saja, karena kita harus menyimpan energi romantis kita untuk nanti selepas maghrib. Saat berbuka dan seterusnya adalah momentum mesra yang sah-sah saja. Sebuah kemurahan Allah atas fitrah kita yang selalu ingin mesra.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)
Sumber : indonesiaoptimis.com
Sebelum berbicara lebih jauh tentang kemesraan selama bulan Ramadhan, ada sebuah hadits yang perlu kita renungkan terlebih dahulu. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda ketika Ramadhan datang menjelang : " Sungguh telah datang padamu sebuah bulan yang penuh berkah dimana diwajibkan atasmu puasa di dalamnya, (bulan) dibukanya pintu-pintu surga, dan ditutupnya pintu-pintu neraka jahannam, dan dibelenggunya syaitan-syaitan, Di dalamnya ada sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Barang siapa diharamkan dari kebaikannya, maka telah diharamkan (seluruhnya) "(HR Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi)
Ramadhan sering datang dengan tiba-tiba, dan berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ia adalah momentum termahal yang pernah kita punya untuk mendulang pahala. Ini mirip bulan promosi dan besar-besaran yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Kebaikan nilai pahalanya menjadi berlipat-lipat, semua orang berburu memborongnya. Saya sering mengibaratkan Romadhon itu : Bagaikan kita mendapat 'hadiah' di sebuah pusat perbelanjaan. Kita diberi kesempatan untuk mengambil semua barang belanja di dalamnya, namun hanya dalam waktu sepuluh menit ! Allah SWT menggambarkannya dalam Al-Qur'an : " (yaitui) dalam beberapa hari yang tertentu" ( QS Al-Baqarah 184)
Semua kita, jika diberi kesempatan 'gratisan' semacam itu, pasti segera meloncat lalu berlari menuju rak-rak belanjaan untuk segera mengambil barang-barang, dari yang termahal hingga termurah. Nyaris tanpa henti hingga waktunya selesai. Lelah berkeringat bukan masalah. Apa yang dalam pikiran kita adalah ini kesempatan berharga.. Sekali lengah atau berhenti bisa berarti kerugian yang tak terbayangkan.
Apa makna dari gambaran tersebut ? Arti yang harus kita pahami bahwa Ramadhan memang benar-benar berbeda. Perlu interaksi, konsentrasi dan energi yang berbeda pula dalam menyikapinya. Jangan sekali-sekali menyamakan Ramadhan dengan sebelas bulan yang lainnya. Berbeda dan sungguh berbeda.
Ini berarti, dalam bulan Ramadhan juga diperlukan sebuah kemesraan yang berbeda. Apa sajakah ?
Mesra dalam Mendulang Pahala
Sebagaimana program-program sebelumnya, kita selalu berusaha menyisipkan 'misi romantis' dalam setiap hal yang kita lakukan. Begitu juga saat Ramadhan, dimana banyak rangkaian program ibadah yang cukup ketat disyariatkan. Disitulah kita dituntut untuk lebih kreatif. Mencari celah-celah yang memungkinkan untuk investasi romantis. Tanpa mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Tanpa mengotori ketulusan niat kita dalam beribadah. Namun justru dalam kerangka saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah SWT berfirman : " Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran " (QS Al Maidah 2)
Mari kita lihat sejenak peluang-peluang romantis yang ada dalam bulan agung ini. Untuk mendulang pahala sekaligus menguatkan ikatan mesra antara suami istri.
1. Makan Sahur, ada Keberkahan ada Kemesraan
Keheningan sebelum fajar pasti menggoda setiap insan untuk lebih mesra. Bahkan munajat di sepertigamalam yang terakhir selalu saja menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Di saat-saat yang romantis itulah saat untuk bersahur tiba. Perjuangan membangunkan pasangan sudah menjanjikan banyak celah untuk mesra. Belum lagi jika ditambah dengan menyiapkan hidangan sahur bersama-sama. Menyantapnya berdua atau bersama keluarga pun akan menghadirkan keakraban yang berbeda dari biasanya. Waktu sahur hati kita terasa begitu lapang.Beban pikiran belum terlalu banyak berdesakan di kepala kita. Inilah saat yang tepat untuk mendulang mesra. Lebih jauh lagi, ada keberkahan yang sudah seharusnya kita mendapatkannya dengan sahur bersama. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda : Bersahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahan ( HR Bukhori dan Muslim)
2. Kegembiraan Saat Berbuka
Rasulullah SAW bersabda : " Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan juga saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka " ( Hadits Bukhori & Muslim )
Setiap hari sepanjang bulan Ramadhan, ada kegembiraan yang layak untuk dirayakan. Hidangan buka puasa –apapun bentuknya- selalu ditunggu-ditunggu. Saat maghrib benar-benar menjelang, tidak ada alasan untuk segera menikmatinya. Mengejar keberkahan yang dijanjikan. Dari Sahl bin Sa'd, Rasulullah SAW bersabda : " Manusia senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka " ( HR Bukhori dan Muslim)
Diantara kegembiraan dan keberkahan itulah, tercipta sebuah nuansa kemesraan yang baru. Tidak sekedar makan dan minum bersama untuk mengembalikan kekuatan raga. Cobalah juga beberapa hal yang menguatkan jiwa mesra Anda berdua. Berbukalah dengan satu suapan kurma dari tangan pasangan Anda. Atau berbukalah dengan ciuman tanpa kata-kata. Bahkan sesederhana air putih pun bisa menjadi lambang kemesraan, jika diminum segelas berdua. Jangan lupa untuk mengawali semua mesra itu dengan doa. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, Rasulullah SAW bersabda : " Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak akan tertolak " (HR Ibnu Majah)
3. Panen Kemesraan dalam Doa
Rasulullah SAW : Ada tiga orang yang tidak tertolak doa mereka : " Orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang terdzalimi " ( HR Tirmidzi)
Dalam bulan Ramadhan ada istilah 'Manajemen Doa'. Artinya bagaimana mengoptimalkan kesempatan yang ada untuk berdoa. Doa bagi semua orang. Dari yang terdekat, hingga yang terjauh dibelahan bumi yang lain. Dari yang paling dicintai, hingga yang paling dibenci. Semuanya layak untuk di doakan. Suami istri juga berhak punya doa-doa khusus yang lebih mesra jika diungkapkan bersama. Tentang harapan datangnya buah hati, harapan tumbuh shaleh dan sehatnya sang buah hati, harapan tercurahnya rizki, harapan cinta sekaligus pertemuan abadi di akhirat nanti. Berdoalah dengan semangat. Hindari keraguan dan jauhi kemalasan. Berdoalah dengan penuh harapan dan ketamakan juga kemewahan ! Sesungguhnya dalam doa ada motivasi untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya. Lihatnya betapa percaya dirinya Istri Fir;aun dengan meminta sebuah bangunan khusus di sisi Rabb-nya : " Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga " (QS At-Tahriim : 11)
Berdoalah, karena Allah SWT begitu dekat dan mengetahui setiap yang terlintas dalam hati dan benak kita. Allah SWT berfirman : " Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadaku tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran." ( QS Al-Baqoroh 186)
4. Mesra Saat Tarawih
Salah satu keunikan saat Ramadhan adalah banyak orang yang bisa bisa sholat malam berturut-turut sebulan penuh. Sementara pada malam sebelas bulan yang lainnya, hal ini sama sekali tidak terbayangkan. Sholat malam ramadhan yang akrab disebut dengan shalat tarawih, adalah salah satu peluang penghapus dosa-dosa kita sebelumnya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Barang siapa yang mendirikan (sholat) Romadhon dengan keimanan dan penuh pengharapan, akan Allah akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu " ( HR Ahmad dan Ashabu Sunan)
Kemesraan saat tarawih jangan diartikan sepasang suami istri bersenang-senang dengan 'tarawih keliling' dari satu masjid ke masjid yang lain. Bukan pula kemesraan 'sekedar' berjalan kali bersama saat berangkat dan pulang tarawih. Meski hal itu juga cukup mahal dan berharga bagi pasangan suami istri yang sebagian besar memilih berangkat sendiri-sendiri. Mesra saat tarawih adalah ketika sesekali Anda mengajaknya untuk sholat tarawih berjamaah di rumah. Istri selalu bangga jika berjalan berduaan dengan suaminya. Begitu pula sholat, ada kemesraan yang tercipta saat suami tercinta menjadi imam sholatnya. Kebanggaan untuk menjadi makmum bagi sang kepala rumah tangganya. Kemesraan dan kebanggaan ini akan berpadu menjadi sebuah kenangan. Dan inilah karakter khas Ramadhan, selalu menciptakan kenangan-kenangan. Ini pula yang membuat Ramadhan selalu dirindukan.
5. Mesra dalam Tadarus Al-Quran.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Bulan yang seharusnya menuntut kita semua untuk lebih dekat pada Al-Quran. Memenuhi kewajiban-kewajiban kita terhadap Al-Qur'an. Mulai dari membaca, menghafal, mentadabburi dan lebih-lebih mengamalkan dan mengajarkan (mendakwahkan) isi kandungan Al-Quran. Kerja-kerja semacam ini membutuhkan kesungguhan dan semangat yang berlebih. Apalagi saat terik mentari membakar dan raga dipenuhi letih. Nyaris Al-Quran menjadi jarang tersentuh. Maka disinilah peluang baru tercipta. Kesempatan emas untuk mendulang pahala sekaligus meraih mesra. Setiap pasangan tampil untuk menyemangati yang lainnya. Saling mengingatkan tentang sebuah keutamaan. Bahwa Ramadhan begitu mahal untuk terlewatkan begitu saja. Mulailah dengan tadarus. Tilawah bersama secara bergantian sebulan penuh. Target khatam sekali sebulan akan menjadi lebih ringan Insya Allah.
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : Ia (Jibril) mendatangi beliau (Rasulullah SAW) setiap malam di bulan Ramadhon, dan mengajarkannya pada beliau Al-Quran (tadarus ) (HR Bukhori),
6. Sepuluh Hari yang Menentukan
Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim)
Melepas Ramadhan biasanya diliputi kesedihan. Namun jangan sampai kesedihan ini berbuah kemalasan. Karena sedih dalam arti menyesal dan menangis tidak banyak menghasilkan pahala. Melepas Ramadhan justru dengan semangat yang berlipat ganda untuk mengejar pahala. Ada lalilatul qadar award yang senantiasa membayang dalam impian kita. Perburuan malam seribu bulan itu akan lebih semangat jika dilakukan bersama-sama. Saling berlomba dan saling mengingatkan. Baik di rumah ataupun saat itikaf di masjid. Rasulullah telah mencontohkan. Beliau membangunkan istrinya untuk bersama-sama mengejar kemuliaan. Ini memang bukan saatnya egois untuk memesan rumah di surga sendirian. Sementara lahan kosong di surga begitu luas terbentang. Wallahu a'lam.
Menjaga Mesra dengan Elegan
Begitu elegan syariat Islam memperlakukan manusia dengan sifat kemanusiaannya. Kita tidak dipaksa menjadi malaikat dengan beribadah terus menerus. Tidak pula kita dibiarkan tenggelam menjadi hewan yang sibuk makan dan bersetubuh saja. Begitu pula dalam Ramadhan. Puasa tidak lantas menutup semua celah bagi suami istri untuk saling berbagi rindu. Ada malam-malam Ramadhan yang bisa menjadi saksi mesra dan gairah antara suami istri. Ini bukan sekedar halal namun juga sebuah pengakuan. Pengakuan atas sisi kemanusiaan kita yaitu nafsu. Sebuah ayat menyatakan dengan penuh sindiran tentang hal ini.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)
Serangkaian kemesraan pada malam hari Ramadhan begitu indah digambarkan: suami istri menjadi pakaian bagi yang lainnya. Bahasa sederhananya adalah saling menutupi, saling melindungi, dan akhirnya saling memberi ketenangan. Puncak aktifitas mesra pada malam Ramadhan –tentu saja – adalah jimak. Halal. Pembahasan tentang jimak sudah kita bahas sebelumnya, dan rasa-rasanya tidak terlalu jauh berbeda antara Jimak di malam Ramadhan dan yang selainnya. Karenanya kita akan lebih konsen pada kemesraan-kemesraan yang mungkin tercipta di siang hari Ramadhan. Mungkinkah ?
Alhamdulillah. Menjaga mesra di siang Ramadhan dengan penuh elegan sudah sejak lama dicontohkan. Beliaulah –SAW- yang senantiasa proporsional dalam setiap aktifitasnya. Bahkan kemesraan-kemesraan yang beliau ciptakan sama sekali tidak mengganggu kekhusyukan. Lebih jauh lagi, tidak membatalkan puasanya. Mari kita belajar mesra dari qudwah dan junjungan kita.
Apa saja prestasi mesra beliau di bulan puasa.
1. Tetap Mesra di Malam Ramadhan
Dari Abu Bakr bin Abdurrahman, Ummu Salamah berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bangun pagi dalam keadaan junub karena bersetubuh, bukan karena mimpi. Namun beliau tidak berbuka dan tidak mengqadha (mengganti) puasanya “. (HR Muslim (III/138)
Begitulah Rasulullah SAW sebagai pedoman. Malam Ramadhan bukan berarti menjauh dari istri atas nama kekhusuyukan. Mengingkari sebuah kebutuhan yang telah dihalalkan. Jadikan malam Ramadhan penuh kenangan yang beragam. Kenangan dalam ibadah juga kenangan dalam berlabuh mesra bersama pasangan. Tinggal pandai-pandai memanajen waktu yang ada. Antara habis tarawih dan sebelum sahur. Agar di siang hari syahwat kita tidak terlunta-lunta.
2. Tetap Mencium mesra saat berpuasa
Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mencium dan memeluk (istrinya) padahal beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling dapat mengendalikan nafsu seksualnya diantara kamu } HR Bukhori (V/51) dan Muslim (III/135)
Ternyata siang hari Ramadhan tidak selalu diliputi kehausan. Bagi sebagian pemburu mesra waktu apapun akan dijadikan ladang pahala mesra. Apalagi jika Rasulullah SAW telah mencontohkan. Seolah mengisyaratkan bahwa beliau sangat paham, bahwa ada sebagian umatnya yang juga tetap romantis di saat puasa.
Mencium mesra saat dahaga melanda adalah bagai guyuran air hujan yang sejuk dari langit sana. Mencium mesra saat puasa memang membutuhkan manajemen potensi syahwat yang ketat dan luar biasa. Sekali saja tergelincir penyesalan menjadi tiada guna. Karenanya, berlatihlah mencium untuk menghias mesra saja, tanpa perlu syahwat ikut bergelora. Ciuman sayang, ciuman kasih, banyak yang bisa kita lakukan selain ciuman syahwati. Seperti ketika sang suami pulang dan mendapati istrinya tidur. Lalu ia mencium kening istrinya dengan pelan agar tak terjaga. Inilah ciuman mesra yang penuh kasih. Tak ada campur tangan syahwat dan gairah.
Jika Anda ingin lebih dari sekedar mencium. Pastikan bahwa rambu-rambu batasan harus telah jelas terpancang. Pastikan pula bahwa agenda ibadah dan kekhusyukan jangan sampai hilang tanpa kesan. Jika mau bersabar, setelah maghrib episode mesra akan lebih berkesan insya Allah.
3. Tetap Mesra Saat I'tikaf
I'tikaf adalah aktifitas berdiam diri di dalam masjid, memenuhi waktu-waktunya untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Dilihat dari artinya, maka itikaf seolah tidak menyisakan celah bagi kita untuk romantis. Apalagi isyarat ini dikuatkan dengan antisipasi awal dalam Al Quran, dimana Allah SWT berfirman : " Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya " ( QS Al-Baqarah : 187 ). Walhasil, lengkap sudah alasan bagi kita untuk sejenak menutup pintu romantis lalu menata konsentrasi kita untuk lebih utuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun uniknya, kenyataan siroh yang indah mencatat banyak hal romantis yang dilakukan Rasullah SAW bersama istri-istri beliau, sekalipun dalam masa itikaf. Sekali lagi ini bukti keselarasan syariah Islam dengan para perindu romantis sepanjang masa. Ia tidak menutup satu pintu romantis kecuali membuka pintu-pintu yang lainnya. Inilah peluang-peluang yang harus utuh terbaca oleh setiap pemburu romantis.
Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW ketika sedang beri'tikaf, beliau menjulurkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisir (rambut)nya, dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk sebuah keperluan " ( HR Bukhori 1889 , Muwatho' (605), Muslim (445), Abu Daud (2111) Tirmidzi (733)
Dari Shafiyyah binti Huyay, Ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan itikaf, pada suatu malam aku datang mengunjunginya, lalu saya berbicara dengan beliau, kemudian saya berdiri untuk pulang. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku pulang, sedangkan tempat tinggalnya saat itu di kampung Usamah bin Zaid ( HR Bukhari dan Muslim dan Abu Daud )
Duh romantisnya ketika sedang itikaf, sang istri datang dan ikut merawat suaminya. Membersihkan wajah, menata rambut atau sekedar menyemprotkan minyak wangi misalnya. Mencari tempat yang tidak membuat pandangan para mu'takifin terlena meski sebentar. Ada pula peluang lain yang tak kalah berpahala ; menyiapkan logistik sang suami saat itikaf. Pastikan dia yang tercinta tak kelaparan saat tak bermalam dengannya. Makanan kesukaannya pasti sudah sama-sama hafal diluar kepala, apalagi saat ditambah bumbu rindu, maka semoga ini menambah semangat sang suami dan kekuatannya dalam memburu kemuliaan seribu bulan.
Dan pada akhirnya, langkah -langkah sang suami dalam mengantar kepulangan istri ke rumahnya, bisa berubah menjadi investasi pahala yang tak kalah menarik dengan aktifitasnya di dalam masjid. Jika bukan diniatkan mengikuti sunnah, apa lagi ? Seperti Ibnu Umar yang sangat idealis dalam meniru setiap gerak-gerik rasulullah SAW. Atas dasar kecintaan yang abadi.
Awas, hati-hati provokasi !
Bulan Romadhon sejatinya adalah bulan tempat kita bisa mengintip surga. Merasakan kedekatan dengan surga melalui amal-amal terbaik kita. Pintu-pintunya pun terbuka. Bahkan syaitan sang penggoda harus diikat kuat tak berkutik. Lalu tinggalah kader-kader syaitan dari jenis manusia yang masih merajalela. Kita biasa menyebutnya dengan nafsu. Nah, nafsu inilah –jika kita tidak hati-hati- akan merubah program romadhon romantis kita berubah menjadi tidak keruan. Dari janji pahala menjadi ancaman dosa. Dari mesra yang berpahala menjadi kemenangan sang durjana.
Banyak produk-produk provokasi syetan yang difollow up dengan baik oleh sang nafsu mampu menghancurkan pahala puasa kita. Yang paling semu mungkin adalah ketika mesra kita justru ternoda dengan kata-kata kotor dan keji. Bermesraan di siang Romadhan sungguh perlu intensitas pengendalian diri yang cukup. Karena ketika mesra kita justru menjadi parade kata-kata seronok dan vulgar, jangan ada sesal ketika lapar dahaga kita menjadi tiada guna. Naudzu billah.
Dari Abu Hurairah ra : Rasulullah SAW bersabda : "Tidak puasa itu dari (menahan) makan dan minum saja. Akan tetapi puasa dari hal yang sia-sia dan kata-kata keji " (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim : Sohih dengan syarat Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah, Nisa'i, Hakim : Shohih dengan syarat Bukhori)
Produk provokasi setan yang lebih hebat lagi adalah ketika nafsu kita begitu menggelora di siang ramadhan, lalu melampiaskannya begitu saja pada sang istri trecinta. Akibatnya sungguh berbahaya. Serentetan hukuman menunggu kita, jadi itu sangat menyulitkan dunia dan akhirat kita. Ini bukan kasus baru, salah seorang sahabat ada yang jauh keasyikan melampaui mesra hingga menjimak istrinya di siang ramadhan.
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Seseorang datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Sungguh celaka aku ya Rasulullah ! Beliau SAW berkata : Apa yang membuatmu celaka ? Laki-laki itu menjawab : " Aku menjimak istriku di siang romadhon " . Lalu Rasulullah SAW bersabda : " Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk membebaskan budak?" Ia menjawab : " Tidak". Nabi bertanya kembali, " Apakah kamu mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut ? ". Ia menjawab ," Tidak". Kemudian ia duduk dan Nabi datang dengan sekantung besar kurma,Beliau SAW bersabda : Bersedekahlah dengan ini !. Laki-laki itu bertanya : " Apakah untuk yang paling miskin di antara kami ? Tidaklah ada diantara penduduk kampung yang lebih membutuhkan itu daripada kami ". Maka Nabi SAW pun tertawa hingga terlihat gerahamnya, lalu beliau bersabda : Pergilah dan berilah makan keluargamu ! " ( HR Jamaah)
Begitulah, kisah di atas menjadi semacam kontrol bagi kita, sebelum, sesudah, dan ketika akan bermesraan di siang bolong ramadhan. Mesra boleh saja, namun tolong secukupnya saja. Tidak bertaburan kata-kata penuh berahi, apalagi dilakukan di atas ranjang dan kamar tertutup yang berarorama wangi. Secukupnya saja, karena kita harus menyimpan energi romantis kita untuk nanti selepas maghrib. Saat berbuka dan seterusnya adalah momentum mesra yang sah-sah saja. Sebuah kemurahan Allah atas fitrah kita yang selalu ingin mesra.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)
Sumber : indonesiaoptimis.com
Senin, 02 Maret 2009
ZAKAT FITRAH
Diterjemahkan oleh Latifa Munawarah (Mahasiswa S2 Syari'ah Univ Kuwait)
dari kitab Fiqhul Manhaji, terbitan Awqaf Kuwait
Published:
Sandi Effendi
Definisi:
Takaran harta tertentu yang wajib dikeluarkan ketika waktu terbenamnya matahari pada hari terakhir dari bulan Ramadhan dengan syarat-syarat tertentu bagi setiap mukallaf dan orang-orang yang wajib dinafkahinya.
Pensyaratannya:
Zakat fitrah diwajibkan pada tahun ke-2 hijriyah, pada tahun diwajibkannya puasa. Dalil diwajibkannya zakat fitrah ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abdulla bin Umar ra, bahwasa Rasulullah mewajibkan zakat fitrah dapa bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma atau gandum, diwajibkan kepada tia orang, merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan., atau 2,5 kg takaran sekarang.
Syarat-syarat kewajibannya:
Zakat fitrah wajib dengan tiga syarat
Pertama:
Islam. Maka tidak wajib bagi orang kafir untuk mengeluarkan zakat fitrah di dunia, tetapi akan dihisab di akhirat karena tidak mau menerima Islam.
Kedua:
Terbenamnya matahari pada hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari pada hari tersebut, maka telah wajib zakat fitrah baginya. Adapun orang yang meninggal sebelum matahari terbenam pada hari tersebut maka tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah.
Ketiga:
Ia mempunyai harta yang lebih untuk nafkah bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib atasnya nafkah untuk malam dan hari idul fitri.
Jika hartanya tidak mencukupinya untuk nafkah pada malam dan hari id juga tidak mencukupi orang-orang yang wajib dinafkahinya maka tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah. Tetapi jika ia mempunyai nafkah tetapi tidak cukup untuk nafkah setelah hari id, maka kewajiban zakat fotrah tidak gugur, dan ia berkewajiban untuk mengeluarkan zakat fitrah.
Mengenai janin terjadi Khilaf, para ulama ada yang mengatakan wajib dan tidak wajib. jika mempunyai cukup harta untuk makan pada hari pertama Ied dan malam Ied, maka sudah diwajibkannya zakat fitrah.
Orang-orang yang wajib bagi mukallaf untuk mengeluarkan zakat bagi mereka:
Bagi yang telah terpenuhi ketiga syarat diatas maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang yang wajib dinafkahinya seperti istri, anak, orang tua.
Tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi anaknya yang telah baligh dan mampu bekerja, tidak juga bagi saudara/ karib/keluarganya yang tidak wajib dinafkahinya bahkan jika ia mengeluarkan zakat baginya maka hal ini tidak sah kecuali dengan izinnya.
Jika hartanya tidak mencukupi untuk mengeluarkan zakat bagi semua orang-orang yang wajib dinafkahinya, maka ia mendahulukan untuk dirinya sendiri, kemudian istrinya, lalu anaknya yang kecil, lalu bapaknya, ibunya, dan anaknya yang besar yang tidak mampu untuk bekerja.
Jenis dan kadar zakat fitrah:
Jenis zakat fitrah yaitu jenis makanan pokok dari daerah tempat mukimnya mukallaf. Adapun kadarnya yaitu satu sha’ sesuai dengan hadits dari ibnu umar yang telah lalu.
Satu sha’ yaitu 4 mud. Satu mud yaitu ukuran telapak tangan orang dewasa. Satu sha’ kira-kira sama dengan 2,4 kg.
Menurut madzhab syafi’I tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan satu sha’ makanan pokok, tetapi harus dengan ukuran 1 sha’ makanan pokok. Tetapi tidak mengapa jika ia mengikuti madzhab Hanafi dalam hal ini yang membolehkan untuk mengeluarkan uang sebagai ganti makanan pokok, hal ini karena uang lebih bermanfaat bagi si fakir pada masa sekarang ini, dan hal itu lebih dekat untuk merealisasikan tujuan mensyariatan zakat fitrah.
Waktu mengeluarkan zakat fitrah:
Waktu kewajibannya yaitu mulai terbenamnya matahari pada hari terakhir dari bulan Ramadhan. Sedangkan waktu yagn mubah untul mengeluarkan zakat fitrah yaitu selama bulan Ramadhan dan padi dari hari idul fitri.
Disunnahkan mengeluarkan zakat fitrah pada pagi hari idulfitri ketika keluar untuk menunaikan sholat idul fitri.
Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah setelah sholat eid. Jika diakhirkan setelah sholat id, maka ia berdosa, dan wajib mengqadha’nya
dari kitab Fiqhul Manhaji, terbitan Awqaf Kuwait
Published:
Sandi Effendi
Definisi:
Takaran harta tertentu yang wajib dikeluarkan ketika waktu terbenamnya matahari pada hari terakhir dari bulan Ramadhan dengan syarat-syarat tertentu bagi setiap mukallaf dan orang-orang yang wajib dinafkahinya.
Pensyaratannya:
Zakat fitrah diwajibkan pada tahun ke-2 hijriyah, pada tahun diwajibkannya puasa. Dalil diwajibkannya zakat fitrah ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abdulla bin Umar ra, bahwasa Rasulullah mewajibkan zakat fitrah dapa bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma atau gandum, diwajibkan kepada tia orang, merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan., atau 2,5 kg takaran sekarang.
Syarat-syarat kewajibannya:
Zakat fitrah wajib dengan tiga syarat
Pertama:
Islam. Maka tidak wajib bagi orang kafir untuk mengeluarkan zakat fitrah di dunia, tetapi akan dihisab di akhirat karena tidak mau menerima Islam.
Kedua:
Terbenamnya matahari pada hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari pada hari tersebut, maka telah wajib zakat fitrah baginya. Adapun orang yang meninggal sebelum matahari terbenam pada hari tersebut maka tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah.
Ketiga:
Ia mempunyai harta yang lebih untuk nafkah bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib atasnya nafkah untuk malam dan hari idul fitri.
Jika hartanya tidak mencukupinya untuk nafkah pada malam dan hari id juga tidak mencukupi orang-orang yang wajib dinafkahinya maka tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah. Tetapi jika ia mempunyai nafkah tetapi tidak cukup untuk nafkah setelah hari id, maka kewajiban zakat fotrah tidak gugur, dan ia berkewajiban untuk mengeluarkan zakat fitrah.
Mengenai janin terjadi Khilaf, para ulama ada yang mengatakan wajib dan tidak wajib. jika mempunyai cukup harta untuk makan pada hari pertama Ied dan malam Ied, maka sudah diwajibkannya zakat fitrah.
Orang-orang yang wajib bagi mukallaf untuk mengeluarkan zakat bagi mereka:
Bagi yang telah terpenuhi ketiga syarat diatas maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang yang wajib dinafkahinya seperti istri, anak, orang tua.
Tidak wajib baginya untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi anaknya yang telah baligh dan mampu bekerja, tidak juga bagi saudara/ karib/keluarganya yang tidak wajib dinafkahinya bahkan jika ia mengeluarkan zakat baginya maka hal ini tidak sah kecuali dengan izinnya.
Jika hartanya tidak mencukupi untuk mengeluarkan zakat bagi semua orang-orang yang wajib dinafkahinya, maka ia mendahulukan untuk dirinya sendiri, kemudian istrinya, lalu anaknya yang kecil, lalu bapaknya, ibunya, dan anaknya yang besar yang tidak mampu untuk bekerja.
Jenis dan kadar zakat fitrah:
Jenis zakat fitrah yaitu jenis makanan pokok dari daerah tempat mukimnya mukallaf. Adapun kadarnya yaitu satu sha’ sesuai dengan hadits dari ibnu umar yang telah lalu.
Satu sha’ yaitu 4 mud. Satu mud yaitu ukuran telapak tangan orang dewasa. Satu sha’ kira-kira sama dengan 2,4 kg.
Menurut madzhab syafi’I tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan satu sha’ makanan pokok, tetapi harus dengan ukuran 1 sha’ makanan pokok. Tetapi tidak mengapa jika ia mengikuti madzhab Hanafi dalam hal ini yang membolehkan untuk mengeluarkan uang sebagai ganti makanan pokok, hal ini karena uang lebih bermanfaat bagi si fakir pada masa sekarang ini, dan hal itu lebih dekat untuk merealisasikan tujuan mensyariatan zakat fitrah.
Waktu mengeluarkan zakat fitrah:
Waktu kewajibannya yaitu mulai terbenamnya matahari pada hari terakhir dari bulan Ramadhan. Sedangkan waktu yagn mubah untul mengeluarkan zakat fitrah yaitu selama bulan Ramadhan dan padi dari hari idul fitri.
Disunnahkan mengeluarkan zakat fitrah pada pagi hari idulfitri ketika keluar untuk menunaikan sholat idul fitri.
Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah setelah sholat eid. Jika diakhirkan setelah sholat id, maka ia berdosa, dan wajib mengqadha’nya
DIMENSI KEIKHLASAN (IBADAT HAJI dan IDUL QURBAN)
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah"
(QS. Ali Imran, 3:97)
Ibadat Haji dan Kain Ihram
RATUSAN ribu, bahkan jutaan manusia muslim, hari-hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai memenuhi panggilan Allah s.w.t. untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok duni, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya (QS. Al-Haj,22:27).
Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya. Di sana tak ada lagi diskripsi kerena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun ststus sosial. Yang ada hanyalah pertujukan secara komunal kebrsamaan dan yang memegang peranan dalam pertunujkan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama. Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzul-Hijjah, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Tanpa wukuf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah idadah hajinya. Rasulullah s.a.w.menegaskan dalam sabdanya :
"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
Suasana klimaks selanjutnya ialah pada tanggal 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni ketika mereka mabit di Muzdalifah, melontar jumrah di Mina, dan melaksanakan thawaf ifhadah dan sa’I di Masjidil Haram di Mekkah.
Pakaian dipakai saat wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah di Mina, hanyalah kain ihram, yakni dua helai kain putih yang tak berjahit yang satu helai diselendangkan di bahu sebelah kiri, dan yang satu lagi dililitkan dipinggang sebagai sarung. Kenapa pakaian yang mereka bawa dari tanah air diganti dan dilepas? Karena pada lazimnya, pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pola, pangkat, status dan perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan timbulnya perbedaan dan perpecahan. Dari perpecahan ini biasanya timbul adan lahirlah diskriminasi, dan selanjutnya munculnya konsep aku bukan lagi kita. Aku dipergunakan dalam konteks-konteks seperti suku-ku, golongan-ku, kedudukan-ku, keluarga-ku, kelompok-ku. Aku berbeda dengan kamu, aku lebih super dari kamu, aku lebih hebat dari kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak, takabur, adigang-adigung-adiguna, bukan lagi aku sebagai manusia.
Dalam konteks inilah, maka setiap pelaku ibadah haji ini, sewaktu melaksanakan prosesi haji harus melepaskan pakaian kotor mereka, yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakaiankelicikan dan pakaian perbudakan, yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter mereka. Dan kini yang harus mereka pakai hanyalah kain ihram, berwarna putih yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya.
Hikmah Ibadah Qurban
SETIAP ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturunkan-Nya. Hikmah-hikmah Allah sendiri tersebut ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama-sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)
Di antara hikmah ibadah Qurban, ialah untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran:
"… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu,Mudah-mudahan kamu bersyukur" (QS Al-Haj, 22:36)
Hikmah selanjutnya adalah dalam rangka menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya yang emenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).
Dan hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.
Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)
Di samping itu semua, Hari Raya Q urbanpun merupakan Hari Rayayang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.
Dimensi Keikhlasan Setiap Ibadah
AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlalah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)
Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.
Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah s.w.t. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya. Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.
Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. Oleh karenanya orang Islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemasyarakatan, dianggapsebagai pendusta agama(QS Al-Ma’un, 107:1-3). Karena ibadah haji dan Idul Qurban kali ini datang di saat sebagian besar kaum muslimin sedang dalam kesulitan ekonomi, maka mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.
Wallahu a’lam bishshawab
H. Abdullah Faqih.
(QS. Ali Imran, 3:97)
Ibadat Haji dan Kain Ihram
RATUSAN ribu, bahkan jutaan manusia muslim, hari-hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai memenuhi panggilan Allah s.w.t. untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok duni, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya (QS. Al-Haj,22:27).
Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya. Di sana tak ada lagi diskripsi kerena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun ststus sosial. Yang ada hanyalah pertujukan secara komunal kebrsamaan dan yang memegang peranan dalam pertunujkan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama. Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzul-Hijjah, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Tanpa wukuf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah idadah hajinya. Rasulullah s.a.w.menegaskan dalam sabdanya :
"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
Suasana klimaks selanjutnya ialah pada tanggal 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni ketika mereka mabit di Muzdalifah, melontar jumrah di Mina, dan melaksanakan thawaf ifhadah dan sa’I di Masjidil Haram di Mekkah.
Pakaian dipakai saat wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah di Mina, hanyalah kain ihram, yakni dua helai kain putih yang tak berjahit yang satu helai diselendangkan di bahu sebelah kiri, dan yang satu lagi dililitkan dipinggang sebagai sarung. Kenapa pakaian yang mereka bawa dari tanah air diganti dan dilepas? Karena pada lazimnya, pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pola, pangkat, status dan perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan timbulnya perbedaan dan perpecahan. Dari perpecahan ini biasanya timbul adan lahirlah diskriminasi, dan selanjutnya munculnya konsep aku bukan lagi kita. Aku dipergunakan dalam konteks-konteks seperti suku-ku, golongan-ku, kedudukan-ku, keluarga-ku, kelompok-ku. Aku berbeda dengan kamu, aku lebih super dari kamu, aku lebih hebat dari kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak, takabur, adigang-adigung-adiguna, bukan lagi aku sebagai manusia.
Dalam konteks inilah, maka setiap pelaku ibadah haji ini, sewaktu melaksanakan prosesi haji harus melepaskan pakaian kotor mereka, yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakaiankelicikan dan pakaian perbudakan, yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter mereka. Dan kini yang harus mereka pakai hanyalah kain ihram, berwarna putih yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya.
Hikmah Ibadah Qurban
SETIAP ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturunkan-Nya. Hikmah-hikmah Allah sendiri tersebut ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama-sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)
Di antara hikmah ibadah Qurban, ialah untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran:
"… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu,Mudah-mudahan kamu bersyukur" (QS Al-Haj, 22:36)
Hikmah selanjutnya adalah dalam rangka menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya yang emenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).
Dan hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.
Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)
Di samping itu semua, Hari Raya Q urbanpun merupakan Hari Rayayang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.
Dimensi Keikhlasan Setiap Ibadah
AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlalah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)
Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.
Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah s.w.t. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya. Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.
Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. Oleh karenanya orang Islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemasyarakatan, dianggapsebagai pendusta agama(QS Al-Ma’un, 107:1-3). Karena ibadah haji dan Idul Qurban kali ini datang di saat sebagian besar kaum muslimin sedang dalam kesulitan ekonomi, maka mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.
Wallahu a’lam bishshawab
H. Abdullah Faqih.
Langganan:
Postingan (Atom)