Kamis, 01 Januari 2009

The Winner & The Looser

The Winner & The Looser

Seekor kelinci sedang bersantai di tepi pantai. Tiba-tiba datang seekor rubah besar yang hendak memangsanya.

Lalu kelinci itu berkata : “ Kalau kamu memang berani, mari kita berkelahi di lubang kelinci. Yang kalah akan menjadi makanan yang menang, dan saya yakin saya akan menang.”

Rabbit&Tiger

Sang rubah jantanpun tertantang dan berkata: “ Ok, saya setuju…masa rubah kalah oleh kelinci..” Dan mereka pun masuk ke lubang kelinci.

Sepuluh menit kemudian, kelinci keluar sambil membawa sepotong daging rubah.

Sang Kelinci bersantai kembali di tepi pantai sambil memakai kaca mata hitamnya, tiba-tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya.

Lalu kelinci berkata: “ Kalau kamu berani, mari berkelahi di lubang kelinci, yang kalah akan menjadi makanan yang menang dan saya yakin saya akan menang.”

Beruang merasa tertantang dan berkata: “ Baik, saya setuju. Masa Beruang kalah dengan kelinci…”

Mereka pun masuk ke dalam lubang kelinci. Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar dari lubangnya sambil membawa daging beruang.

Hari pun semakin gelap, kemudian sang kelinci melongok ke dalam lubangnya dan berkata : “ Hai Harimau…cepat keluar..kita lanjutkan lagi besok..!”

Harimau pun berkata :” Kerja sama kita sukses hari ini, kita makan kenyang dan aku tidak perlu mencari dan mengejar-ngejar mangsa.”

The winner selalu berpikir mengenai kerja sama, sementara The Looser selalu berpikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.

Cerita diambil dari hasil seminar-seminar yg diikuti

Keputusan Tanpa Kebimbangan

Keputusan Tanpa Kebimbangan

Oleh Mukhamad Najib

Ini cerita tentang Lukman dan anaknya, yang mungkin sudah sering kita dengar. Kisah ini menarik bagi mereka yang selalu dilemma dalam mengambil keputusan, selalu bimbang dalam menentukan pilihan, atau selalu bingung dengan pertanggungjawaban ketika keputusan telah ditetapkan.

Lukman bukanlah seorang nabi, tapi Allah begitu memuliakannya, sehingga kisahnya, perkataannya, dan ajarannya banyak diabadikan dalam Alqur’an. Bahkan Allah swt memberinya gelar Al Hakim, yang artinya bijaksana. Lukman diabadikan dalam alquran sebagai manusia yang bijaksana dan penuh hikmah, yang bisa kita jadikan teladan bersama.

Suatu hari Lukman ingin mengajarkan sebuah hikmah pada anaknya, lalu ia mengajak anaknya ke pasar untuk menjual keledainya. Berangkatlah Lukman, anaknya, dan keledai itu. Lukman naik diatas keledai, sementara anaknya berjalan menuntun keledai. Ditengah jalan mereka berpapasan dengan sekelompok orang. Orang-orang itu mencibir Lukman, ”dasar orang tua mau enaknya sendiri, umur banyak tapi otak sedikit, lihat, ia enak-enakkan di atas keledai sedangkan anaknya ngos-ngosan berjalan di tengah padang pasir yang terik.”

Mendengar kritik pedas ini, Lukman turun, menyuruh anaknya menggantikan posisinya di atas keledai. Bapak dan anak ini lalu melanjutkan perjalanan. ”Anak tak tau diri, ia santai di atas keledai sementara orang tuanya berjalan kaki. Anak durhaka!” kata seorang yang sedang duduk di sebuah warung yang mereka lewati. Mereka berhenti sejenak, berfikir, akhirnya sepakat naik keledai bersama. Perjalanan berlanjut. ”Hahahahaha…dasar edan, tak punya pri-kebinatangan, tak punya rasa kasihan. Binatang begini kecil, begini ringkih, dinaikki dua orang yang sebesar gajah!? apa kata dunia?” cela seorang yang melihat mereka berdua diatas keledai.

Lalu mereka turun dari keledai. Anaknya mengusulkan bagaimana kalau keledai itu digotong saja. Lukman setuju. Diikatlah kaki keledai, yang depan dan belakang. Kemudian diantara kaki keledai itu mereka masukkan sebatang kayu untuk menggotong. Mereka berjalan lagi. Keledai itu sekarang terbalik posisinya, kaki diatas kepala dibawah, meronta-ronta dalam gotongan Lukman dan anaknya. Melihat hal ini, orang semakin pedas omongnya. ”Apa kalian memang benar-benar gila? Keledai hidup kok digotong seperti mati?”

Lalu mereka menurunkan keledai dan melepas ikatannya. Sekarang Lukman, anaknya, dan keledai berjalan bersama. Apa yang terjadi? Seorang yang mereka temui malah berkomentar, ”Dasar bapak dan anak sama bodoh dengan keledainya. Ada kendaraan kok gak dinaiki?”

Kisah mengenai Lukman di atas mungkin juga sering kita alami. Kita sering mengahadapi situasi yang serba salah. Maju kena mundur kena, begitu kira-kira. Dikantor misalnya, terlalu aktif mengundang kecemburuan rekan kerja, terlalu pasif menyebabkan respek atasan berkurang. Berbuat baik juga begitu. Terang-terangan dibilang pamer, sembunyi-sembunyi malah mengundang fitnah.

Elit-elit politik Islam saat ini juga mengalami kebimbangan-kebimbangan dalam menentukan pilihan. Memajukan calon sendiri dibilang nekat dan eksklusif, terlibat dalam koalisi dibilang terlalu ambisi pada kursi. Menghadapi partner koalisi yang sewenang-wenang juga bimbang. Berteriak dibilang emosional dan sekedar cari sensasi, diam dibilang tidak memiliki bargaining dan harga diri. Dalam menentukan partner koalisi juga bimbang, ikut calon yang berpeluang menang paling besar kader dan konstituen kecewa, ikut calon yang keluarganya "islami" takut tidak dapat posisi karena peluang menangnya jauh dari pasti.

Sebenarnya kebimbangan-kebimbangan ini tidak perlu terjadi jika nasihat Lukman terhadap anaknya diteladani. Dari kisah di atas, Lukman mengajarkan hikmah pada anaknya mengenai bagaimana seharusnya mengambil keputusan dan bagaimana bersikap atas keputusan yang telah diambil. Kepada anaknya Lukman mengatakan ,“wahai anakku, sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang-orang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang harus menjadi pertimbangannya”.

Menjadikan Allah sebagai satu-satunya pertimbangan sesungguhnya membuat jiwa tenang dan jauh dari kebimbangan. Bukankan setiap keputusan kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Nya? Bukankan hanya Allah yang kuasa atas baik dan buruk, bahagia dan bencana, sulit dan mudah maupun tenang dan gelisah? Bukankan Allah sendiri telah memberikan Al kitab yang didalamnya tidak ada keraguan petunjuk bagi orang-orang yang beriman?

Sayid Qutb dalam bukunya “ma’alim fi thariq (petunjuk jalan)” mengatakan “tidak ada dilemma bagi mereka yang memiliki nilai dan prinsip yang jelas”. Saya sepakat dengan hal ini, bahwa hanya mereka yang tidak punya prinsip yang selalu bingung dan bimbang oleh berbagai pilihan dan hanya mereka yang tidak punya nilai yang selalu gelisah oleh berbagai tawaran. Dan Lukman telah mengajarkannya, bukan hanya untuk anaknya, melainkan juga untuk kita semua.

Sebagai mana dikatakan Lukman "Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang harus menjadi pertimbangannya”. Persoalannya sejauh mana mereka mengenal dan menggunakan pertimbangan kebenaran? wallahu'alam

Tak Perlu Malu, Jadilah Diri Sendiri

Tak Perlu Malu, Jadilah Diri Sendiri

Seorang putri sopir kendaraan umum ingin sekali menjadi penyanyi.Tapi memiliki wajah buruk,mulutnya besar dan giginya mrongos.Ketika pertama kalinya menyanyi di depan umum di sebuah klub malam ,ia mencoba menarik bibir atasnya ke bawah unutuk menutupi giginya yang mrongos.Ia mencoba tampil percaya diri dan bergaya.Hasilnya ,ia ditertawakan.

Tapi ada seseorang lelaki yang mendengarkan suara nyayianya dan tahu bahwa ia memliki bakat yang hebat dalam menyanyi,lalu lelaki ini mendekati putri sopir itu dan berkata "Saya tadi menyaksikan penampilan kamu,dan saya tahu apa yang kamu ingin sembunyikan,kamu malu atas gigimu!" Gadis itu menjadi malu sekali,Lelaki itu melanjutkan,"Kenapa malu?Apa yang salah mempunyai gigi mrongos?Jangan coba menyembunyikannya !Bukalah mulutmu,dan pendengar akan senag kalau melihat kau tidak malu.Bahkan gigi yang kau coba sembunyikan itu mugkin bisa mendatangkan kemujuran"

Dia adalah Cass Daley .Semenjak itu ,ia hanya memikirkan pendengarnya .Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan beryanyi penuh suka cita dan semangat sampi menjadi tenar sebai artis film dan radio.

Kesempatan Dalam Kehidupan

Di sebuah ladang yang subur, terdapat 2 buah bibit tanaman yang terhampar. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku sangat dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, serta kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”

Dan bibit yang pertama inipun tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan memakannya segera.

***

Teman, memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.
Sahabat, tiap pilihan selalu ada resiko yang mengiringinya. Namun jangan sampai ketakutan, keraguan dan kebimbangan, menghentikan langkah kita.

ps. “Bukalah setiap pintu kesempatan yang datang mengetuk, sebab, siapa tahu, pintu itu tak mengetuk dua kali.” (Hilman, Lupus I)

Keteguhan

Ketika Raja Louis XVI digulingkan dari takhtanya dan dijebloskan ke dalam penjara, puteranya yang merupakan pangeran penerus takhta kerajaan diculik oleh orang-orang yang mengkudeta kerajaan.

Sang pangeran dihadapkan pada hal-hal yang paling menjijikan secara moral. Mereka pikir, jika sang pangeran terpengaruh pada godaan duniawi maka ia tidak akan bisa mencapai takdirnya sebagai raja.

Setiap hari, sang pangeran disuguhi berbagai makanan yang mewah yang jumlahnya sangatlah banyak, minuman anggur, para pelacur yang sangat erotis, bahkan kata-kata jorok dan kasar yang tidak layak diucapkan oleh bangsawan seperti dia.

Hari berganti hari, hingga akhirnya setelah enam bulan, mereka menyerah. Sang pangeran ternyata tidak tergoda sedikit pun terhadap godaan dunia. Mereka pun bertanya kenapa sang pangeran begitu teguh. Sang pangeran berujar, ”Aku tidak mungkin melakukan hal-hal menjijikan seperti itu, karena sejak dilahirkan Aku telah ditakdirkan sebagai seorang raja“.

Kita harus mempunyai keteguhan dalam mempertahankan impian kita. Tidak dapat dimungkiri bahwa perjalanan menuju ke tangga sukses penuh onak dan duri.

Lantas bagaiamana kita bisa memiliki keteguhan? Yang terpenting kita harus mempunyai paradigma atau citra diri yang positif kepada diri kita. Siapakah kita? Apa takdir kita di dunia ini?

Diri Anda andalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Takdir Anda adalah mengabdikan dirinya. Menyerukan namanya di dunia ini. Apapun impian Anda, berjuanglah atas nama Dia. Maka, rintangan apapun tidak akan bisa menghalangi Anda.

Jika Dia hendak mengangkat Anda, tidak ada seorang pun yang bisa menjatuhkan Anda. Begitupun jika Dia hendak menjatuhkan Anda, maka tak seorang pun di dunia ini yang bisa mengangkat Anda.


Dikirim oleh Ace Ruhyat, Self Development
www.biorevolution.co.cc

Pay It Forward

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik Editkepada orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.

Percobaanpun dimulai : Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman
keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.
Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD, MOM”

Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT FORWARD, MOM”

Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.

Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”

Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan:”PAY IT FORWARD”

Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut, jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.

Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.

Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.

Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu)”

Bawaan Lahir atau Bisa Dipelajari ?

Bawaan Lahir atau Bisa Dipelajari?
by Obor Motivasi


Pertanyaan-pertanyaan berikut cukup menarik dan banyak menjadi bahan pemikiran para ahli. Apakah seseorang memang dilahirkan sebagai penjahat?. Sungguh adakah orang yang dilahirkan sebagai pemimpin?. Bila anda terlahir pemalu, bukankah itu berarti anda menjadi pemalu selamanya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu juga berkembang di berbagai bidang psikologi, seperti misal, apakah intelegensi sudah ada sejak lahir – sebagai sifat bawaan si anak – atau dapat berkembang melalui pola pengasuhan yang tepat. Silang pendapat ini dikenal sebagai perdebatan “bawaan – perkembangan (nature – nurture)”. Semua jawaban yang pernah diberikan tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun demikian, dalam kaitannya dengan bersikap positif ini kita mengetengahkan empat asumsi yang merupakan tema pembicaraan.

- Sikap Positif bukan bawaan lahir;
– Sikap Positif bisa dipelajari;
– Sikap Positif adalah pilihan;
– Kita bisa mempraktekkan sikap positif, bisa juga tidak – itu pilihan anda.

Keempat asumsi ini penting bagi pembahasan kita, karena jika anda tidak sependapat bahwa sikap positif merupakan sesuatu yang adapat anda pilih, maka kecil kemungkinan bagi anda untuk berubah.

Bila anda masih ragu-ragu, cobalah mengerjakan latihan berikut ini:

1. Renungkan sejumlah aspek kehidupan anda. Berilah jawaban, apakah sikap anda sekarang ini memang karena anda terlahir demikian; atau semata-matamerupakan hasil pelajaran atau
2. Pengaruh yang anda terima
3. Atau merupakan campuran antara sikap bawaan lahir dan perkembangan kehidupan anda ?

* Cara anda mengambil keputusan [1] [2] [3]
* Sikap anda terhadap uang [1] [2] [3]
* Sikap anda terhadap ras [1] [2] [3]
* Pendapat anda mengenai masalah lingkungan [1] [2] [3]
* Rasa humor anda [1] [2] [3]
* Selera musik anda [1] [2] [3]
* Semangat dan energi anda [1] [2] [3]
* Surat kabar yang anda baca [1] [2] [3]

Pada dasarnya, cara anda berpikir, selera dan sikap politik anda adalah hasil belajar dan akan terus berkembang selama hidup. Sedangkan rasa humor, semangat dan energi anda – yang merupakan sedikit campuran antara bawaan lahir dan pilihan – merupakan pengecualian.

Mungkin anda berpendapat bahwa semua ini agak ekstrim. Bila anda yakin bahwa sikap positif atau negatif adalah bawaan sejak lahir, dan kebetulan anda sendiri atau karyawan anda mempunyai sikap negatif, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Sebenarnya tidaklah demikian.
Memang faktor genetis juga berperan. Sebagian besar orang bisa menyanyi, namun sedikit sekali yang mampu melantunkan lagu sekaliber Ruth Sahanaya. Banyak orang bisa menggambar, namun hanya segelintir orang yang mampu menggambar sebagus Basuki Abdullah. Semua orang bisa berlari, namun hanya sedikit sekali yang bisa menjadi pelari kelas dunia.

Sekali pun demikian, melalui praktek dan latihan kita akan mampu menyanyi lebih baik, menggambar lebih baik atau berlari lebih cepat. Jadi dengan bersikap positif, anda akan dapat menjadi semakin baik dalam hal-hal yang anda geluti. Sebagai langkah awal, anda perlu bersikap positif pada kemungkinan terjadinya perubahan.

Sikap positif dalam manajemen merupakan suatu sifat yang dapat meningkatkan setiap atau semua bentuk kecakapan manajemen. Namun demikian, sikap positif tidak dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu sikap positif berkaitan timbal balik dengan berbagai bentuk kecakapan manajemen.

Mari kita tutup sesi ini dengan mengandaikan anda sebagai manajer personalia yang sedang menghadapi pemogokan karyawan. Bagaimana kecakapan anda dalam menangani masalah tersebut dikaitkan dengan ciri-ciri bersikap positif yang pernah kita bahas di sesi 2? Berilah skor pada setiap ciri mulai dari
negatif hingga positif:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1. Sangat tidak netral———————————-Netral

2. Tidak mampu menguasai———–Mampu menguasai

3. Tidak berpikir kreatif——————-Berpikir Kreatif

4. Pesimis———————————————Optimis

5. Tidak efektif berkomunikasi—Efektif Berkomunikasi

Tentu saja kita tidak bisa memberi angka yang pasti untuk mengukur tingkat sikap positif anda. Namun, pada taraf tertentu anda harus menilai seberapa positif sikap anda pada saat ini, dan apakah ada hal yang harus diubah agar anda dapat mengingkatkan sikap positif anda. Boleh jadi anda berpikir ada indikasi yang menjadi ciri-ciri lain bersikap positif dan itu sah-sah saja. Yang penting di sini, semakin tinggi nilai yang anda berikan pada latihan di atas atau ciri-ciri lain yang anda tambahkan, maka semakin besar kemungkinannya anda dapat bersikap positif dalam manajemen anda.

Roda

Roda
by Obor Motivasi


touchdream.jpeg Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia, tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?
Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.
Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei….semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.
Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka zkini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.
Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.
Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.
Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.
***
Sobat, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.
Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.
Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Sobat, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.
Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!!

Teknik Karet Gelang Merah

Teknik Karet Gelang Merah
by Obor Motivasi


gelang karetTeknik sederhana ini saya pelajari dari Robert G. Allen, milyuner dari New York dan pengarang buku best seller “Road to Wealth”. Allen mengatakan, bahwa dalam setiap tindakan kita, selalu ada pikiran positif dan negatif. Bahkan jika kita berdiam diri pun juga ada kedua pikiran tersebut, misalnya pikiran positif akan berkata “Ayo,kita mulai bekerja”.

Sedangkan pikiran negatif berkata “Ah, nanti saja. Sedang enak nih duduk-2nya”. Kedua pikiran ini sama kekuatannya. Jadi terkadang positif yang menang, saat lain negatif yang menang. Lalu, jika memang kekuatannya 50 : 50, bagaimana caranya agar positif bisa lebih dominan ?

Jika memang kekuatannya sama, maka harus ada perangsang dari luar yang bisa mencegah, ketika pikiran negatif keluar. Allen menggunakan karet gelang merah di pergelangan tangan kirinya. Setiap saat ada pikiran negatif sekecil apapun yang melintas di pikirannya, dia langsung menjepret tangannya dengan karet gelang tersebut. Sepintas memang tampak lucu. Tapi pengaruhnya ke alam bawah sadar (ABS) anda luar biasa besar. Apabila anda konsisten dengan menjepretkan kareng gelang setiap kali anda berpikir negatif, maka ABS anda akan merekamnya menjadi suatu kebiasaan yang harus dihindari.

Saya sendiri telah menggunakannya selama 2 bulan. Pada awalnya memang tangan kiri saya banyak garis-2 merah karena sering dijepret. Namun semakin lama semakin berkurang. Saya juga memvariasikan teknik ini, dengan memberitahukan Rekan-2 Resensinet sekitar saya, tentang apa yang saya lakukan. Sehingga mungkin suatu saat ketika anda sedang tidak sadar berbicara negatif, dan teman anda mengetahuinya, dia bisa mengingatkan anda dengan menjepretkan karet di tangan anda.

Ada satu pertanyaan yang mengelitik, yaitu mengapa mesti karet yang berwarna merah .. Bukankah karet gelang ada beragam warna ? Atau mungkin juga pertanyaan mengapa mesti ditangan kiri, bukan di kanan, atau di kaki ?

Robert G. Allen mengatakan, hal-2 ini kelihatannya remeh, tapi mengandung makna yang besar. Banyak orang yang mengatakan ingin berubah menjadi lebih baik .. Tapi begitu diberikan satu petunjuk, biasanya petunjuk ini lalu DITAWAR. Ini masalah komitmen. Apabila anda mau BERUSAHA mencari karet yang berwarna merah, dan memasangnya di tangan kiri, itu sudah membuktikan anda mempunyai komitmen yang tinggi untuk berubah. Apabila untuk hal kecil ini saja sudah anda tawar, mungkin komitmen anda untuk berubah baru di tahap coba-coba saja.

Hal lain yang sering menjadi pertanyaan disini adalah, sebenarnya apakah yang disebut pikiran negatif itu ? Karena banyak orang tidak sadar bahwa dia melakukan atau memikirkan hal negatif. Nah, dibawah ini ada daftar hal negatif yang harus anda `jepret’ ketika anda mengalaminya

Menunda, malas, marah, lesu, curiga, malu, ragu-2, rendah diri, sombong, egois, minder, kuatir, berkata-kata kotor, cemburu, patah hati, takut, berpikir jorok, dengki, iri, sirik, dendam, sinis, cemberut, pesimis, takut gagal, resah, takut memulai, cuek, acuh, pasif, cemas, menipu, merajuk, murka, fitnah, menang sendiri, bergosip ria, merasa tak pernah salah, berbohong, berprasangka buruk, meremehkan, dan lain sebagainya. Anda bisa tambahkan disini tindakan-2 anda sendiri yang menurut anda negatif, dan perlu `dijepret’.
Selamat mencoba !

Mengapa Orang Pintar Bisa Gagal ?

Mengapa Orang Pintar Bisa Gagal?
by Obor Motivasi


Carole Hyatt dan Linda Gottlieb

Alangkah besar apa yang bisa diajarkan oleh kegagalan hidup tentang diri
kita! Mereka yang memetik pelajaran dari kesalahannya bisa kembali dengan
keadaan yang lebih kuat daripada sebelumnya.

Anda mungkin pernah gagal dalam karier anda. Satu-satunya cara untuk
menghindari kegagalan adalah tidak pernah berusaha mengejar sukses; tetap
tinggal di tempat anda sekarang. Sebenarnya anda bisa memetik pelajaran dari
kegagalan, memikirkan apa yang tidak beres dan memperbaikinya. Anda
mempunyai kekuatan untuk berubah. Bahkan seorang yang sukses seperti Samuel
Beckett, penulis lakon sandiwara paling terkemuka di abad kedua puluh ini,
pernah menulis bahwa dia merasa tidak asing lagi dengan kegagalan, “setelah
bernafas dalam-dalam dengan udaranya yang menggairahkan hidup.”

Penelitian cermat terhadap kekalahan sangat penting. Anda harus menghadapi
kegagalan untuk menghindari kemungkinan mengulanginya. Berdasarkan wawancara
dengan hampir 200 orang yang telah berhasil mengatasi kegagalan karier yang
besar, berikut ada enam alasan paling umum untuk kegagalan. Siapa pun anda,
mungkin anda menemukan diri anda dalam daftar ini.

1–Kurangnya Ketrampilan Sosial.

Kebanyakan orang yang kurang memiliki ketrampilan sosial beralasan bahwa
“politik kantor”-lah penyebab kegagalan mereka. Namun, politik kantor tak
lebih dari interaksi normal antara para karyawan. Bila anda mendapat
kesulitan dengan “politik kantor”, mungkin anda benar-benar mempunyai
kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Kebanyakan karier melibatkan
orang lain. Seberapa pun hebatnya intelegensi akademis anda, tetaplah anda
perlu memiliki intelegensi sosial, (misal, kemampuan mendengarkan, peka
terhadap perasaan orang lain, memberi dan menerima kritik dengan baik).
Orang yang memiliki intelegensi sosial tinggi mengakui kesalahan mereka,
berjalan terus dan tahu bagaimana membina dukungan tim. Intelegensi sosial
adalah ketrampilan yang bisa diperoleh dengan banyak berlatih.

2–Tidak Cocok.

Mungkin anda sama sekali tidak gagal, hanya menderita suatu kasus
ketidakcocokan. Sukses memerlukan kecocokan antara kemampuan, kepentingan,
kepribadian, daya dan nilai-nilai dalam pekerjaan anda. Bila anda merasa
tidak cocok, maka jangan ragu untuk meninjau perilaku pekerjaan dan
menyesuaikan atau mengubah pekerjaannya. Bagi beberapa orang, pokok
persoalannya adalah seberapa besar resiko yang berani diambil.

3–Tidak Adanya Komitmen.

Sesuatu yang dilakukan setengah-setengah meningkatkan kemungkinan gagal.
Khayalan ketakutan akan kegagalan yang menimpa orang yang tidak punya
komitmen dapat menyebabkan ia menghindari kegagalan dengan tidak melibatkan
diri secara emosional. Selain itu, kurangnya penghargaan pada diri sendiri
merupakan penyebab dasar kegagalan. Untuk bisa ambil bagian dalam sukses,
anda harus yakin bahwa anda bisa melakukannya.

4–Fokus yang Terlalu Tersebar.

Beberapa orang melakukan terlalu banyak kegiatan sehingga akhirnya tidak
melakukan satu pun secara baik. Fokuskan kembali diri anda pada apa yang
paling baik dilakukan. Sadarilah keterbatasan anda, tetapkan prioritas, dan
susun organisasi usaha anda, merupakan hal-hal pokok untuk mencapai suskes.

5–Rintangan Tersembunyi

Kadang-kadang banyak rintangan tersembunyi yang sulit diperangi. Misal,
umur, diskriminasi jenis kelamin dan ras. Anda harus meninjau kembali,
berdasarkan analisa yang benar mengenai situasi, untuk merebut kembali
kontrol atas kehidupan dan masa depan anda.

6–Kemalangan.

Kadang-kadang suatu peristiwa terjadi dan anda tidak bisa menghindarinya.
Apa yang dapat anda lakukan? Pertama, jangan menyalahkan diri sendiri kalau
peristiwa itu terjadi. Kedua, ingat bahwa anda selalu memiliki pilihan,
walaupun pilihan itu tidak terlihat jelas.

Kesempatan datang silih berganti, dan arah yang anda tetapkan mungkin bisa
berubah lagi. Tetapi kalau anda bisa berpikir jernih mengenai kegagalan,
kalau anda meyadari bahwa anda adalah seorang yang selalu punya pilihan,
maka anda akan bisa mengatasi sebuah pelajaran yang berharga.

Mengapa orang yang pintar pun bisa gagal? Mereka bisa saja gagal karena
banyak alasan. Tetapi kegagalan bukanlah yang menjadi pokok persoalan. Orang
yang paling baik punbbisa mengalami kegagalanb,. Yang penting adalah
bagaimaan kita ememtik pelajaran dari kegagalan kita. Apa ciri khas yang
menonjol dari orang yang ebnar-benar pintar? Mereka memetik pelajaran.
(diadaptasi dari “Mengapa Orang Pintar Bisa Gagal”, Carole Hyatt dan Linda
Gottlieb)

Menahan Sejenak, itulah Pengendalian Diri

Menahan Sejenak, itulah Pengendalian Diri


1. Takdir itu di urutan ke-6 bukan ke-1

165 adalah konsep yang utuh, the way of life yang tidak bisa ditawar-tawar, itulah kenapa di Jepang banyak yang menerapkan hanya 155 menjadi banyak yang bunuh diri. Iya, karena tidak ada prinsip ke-6, prinsip meyakini adanya Qodho dan Qodhar, maka permasalahan diselesaikan dengan hara-kiri (bunuh diri untuk kehormatan diri).

Berbeda dengan di Indonesia, prinsip Qodho dan Qodhar mah diyakini dengan baik. Lalu apa masalahnya? Masalahnya adalah salah penempatan urutan, bukannya ditempatkan di urutan ke-6 sebagaimana mestinya, eh ditaruh di urutan pertama, jadi belum juga berusaha, sudah bilang “yah, bagaimana lagi, takdir saya begini.”
Itu kira-kira penjelasan Pa Ary kemarin.

2. Manusia Fast Track

Sebetulnya kedewasaan seseorang dapat dilihat dari otaknya, bagaimana sinyal-sinyal respon beroperasi. Seperti kita ketahui, otak memiliki bagian-bagian, diantaranya adalah limbic system (otak primitive) yang ada di sebelah tengah otak dan dibelakangnya ada neokorteks.

Orang kalau melihat ular atau anjing akan langsung bereaksi menghindar atau spontan memukuli karena perintah dari otak primitive. Tentu itu adalah penanganan yang tepat, artinya otak primitive memang dianugerahkan kepada manusia untuk pertahanan dirinya, bayangkan kalau ada ular berbisa otak masih menganalisis dulu, berapa menit baru merespon, matilah kita.

Namun, dalam banyak kasus yang membutuhkan kedewasaan, tidak semestinya otak primitive lah yang kita jadikan panduan perintah, adakalanya kita harus membiarkan respon melewati otak primitive untuk terus menjalar kebelakang, sehingga perintah yang muncul dari neo korteks.

Misalnya ketika seseorang membuat kesal kita, kalau kita termasuk tipe manusia fast track, langsung begitu respon baru sampai di otak primitive yang muncul adalah perintah marah-marah. Tetapi, kalau kita mau menahan sejenak, membiarkan respon mengalir ke belakang hingga sampai di neokortex, sehingga perintah yang muncul solutif, bukannya marah-marah.

3. Percobaan anak TK

Sekelompok anak TK dieksperimen dengan permen kesukaan mereka, mereka diminta memilih, mereka boleh saja memakan permen itu, tetapi kalau mau menahannya sampai beberapa waktu, mereka akan mendapatkan dua kali lipat.

Nah, percobaan dilanjutkan 25 tahun kemudian, walhasil, ternyata ada perbedaan ketika mereka besar, yang bisa menahan diri untuk tidak makan permen itu dan mendapat dua kali lipat sesudahnya, mereka cenderung lebih sukses, pandai bersosialisasi, tahan mengatasi masalah atau dapat dikatakan bahwa tingkatan kualitas pribadi mereka lebih tinggi ketimbang yang dulu tidak bisa menahan diri untuk memakan permen.

Kualitas pribadi yang lebih baik dihasilkan karena dia menguatkan diri untuk menahan, sehingga perintah yang muncul bukannya dari limbic system tetapi dari neo-kortex. Kalau dihubungkan dengan untuk apa puasa itu diperintahkan, untuk apa coba? “…supaya kamu bertaqwa”, betul? Nah, apa itu taqwa? bukankah taqwa dalam Islam dikenal sebagai kualitas pribadi yang lebih tinggi dari lainnya?

Ilmu puasa diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dari Wahyu Allah SWT jauh-jauh abad sebelum teori “menahan sejenak” untuk kualitas yang lebih baik ditemukan. Itulah salah satu mukjizat Al Quran.

Yakinlah Anda Bisa

by Obor Motivasi


Ingatlah ketika Anda masih kecil, dan mencoba belajar berjalan. saya yakin anda mengalami seperti ini:

Pertama Anda harus belajar untuk berdiri: sebuah proses yang melibatkan seluruh tubuh, jatuh lalu kembali berdiri. Anda kadang tertawa serta tersenyum, tapi dilain waktu anda menangis dan meringis karena sakit. Entah, seperti ada tekad dan keyakinan dalam diri Anda bahwa Anda akan berhasil, apa pun dan bagaimanapun. Anda punya motivasi dalam diri Anda

Setelah banyak berlatih akhirnya Anda mengerti bagaimana keseimbangan diri Anda, sebuah persyaratan untuk kejenjang berikutnya. Anda menikmatinya dan seolah-olah punya kekuatan baru, punya motivasi baru. Anda akan berdiri dimana Anda suka – di tempat Anda, di sofa, di pangkuan ibu Anda, Bapak anda, atau pun seseorang. Itu adalah waktu yang menggembirakan – Anda melakukannya! Anda dapat mengontrol diri Anda. Anda tersenyum dan tertawa lucu, puas akan keberhasilan Anda. Sekarang – langkah berikutnya – berjalan. Anda melihat orang lain melakukannya – ini keliatannya tidak terlalu sulit – hanya memindahkan kaki Anda saat Anda berdiri, kan?

Salah – ternyata lebih kompleks daripada yang Anda bayangkan. Anda berurusan dengan rasa frustasi. Tapi Anda terus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi dan lagi sampai Anda tahu bagaimana berjalan. Anda selalu ingin kedua tangan anda diberi pegangan saat berjalan.

Jika orang melihat Anda berjalan, mereka akan bertepuk tangan, mereka tertawa, mereka akan memberi semangat, “Ya Tuhan, lihatlah apa yang dia lakukan”. “Oh anakku sudah bisa berdiri”. “pandainya anakku, pintarnya anakku” dan lain-lain. Dorongan ini memicu Anda; dorongan itu menambah rasa percaya diri Anda. Dorongan itu memotivasi Anda

Namun meski begitu, Andapun mencoba berjalan saat tak ada yang melihat Anda, saat tak ada yang bersorak-sorai? Setiap peluang ada, Anda berlatih untuk berjalan. Anda tidak bisa menunggu seseorang untuk memotivasi Anda untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Anda belajar bagaimana untuk memotivasi diri sendiri.

Jika kita bisa mengingat hal ini tentang diri kita di hari ini.

Ingat bahwa kita bisa melakukan apapun yang kita pikiran. Kita mampu mengatur jika kita mau dan bersedia melewati proses, seperti ketika kita belajar berdiri, seperti ketika kita belajar berjalan. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk memotivasi kita, kita perlu memotivasi diri kita sendiri.

Jika Anda sudah lupa bagaimana melakukan hal ini, atau merasa seperti beku, kaku dan gamang. Maka Anda membutuhkan motivasi, ambillah kembali perjalanan singkat dalam hidup Anda yang telah lewat – Lihatlah prestasi Anda, tidak peduli prestasi besar atau prestasi kecil – atau saat-saat dimana Anda bertemu dengan tantangan dan menemukan cara untuk berhasil. Ulanglah keberhasilan itu saat ini, saat anda menghadapi permasalahan yang sedang anda hadapi.

Fokus pada semua hal yang Anda pikir Anda tidak bisa lakukan, kemudian lakukanlah. Lihatlah buah hati anda. Mereka tidak pernah menyerah. Dan mereka yakin serta percaya terhadap anda, bahwa anda mampu dan bisa. Mereka percaya di dalam semua kehidupan Anda!

Sekarang Anda harus percaya pada diri Anda! Yakinkan pada hati Anda Bahwa Anda pasti bisa.

“Ingat, hari ini adalah hari terbaik dalam hidup Anda, milikilah masa depan yang indah, dengan membuat perubahan hari ini!

Marlene – Resensi.net

Percaya Kemampuan Diri Sendiri

Percaya Kemampuan Diri Sendiri
August 6, 2008 · Filed Under Artikel Motivasi, Cerita Motivasi, Sosok Motivasi by Obor Motivasi


WAKTU masih kecil, Anda mungkin pernah mendengar kisah adaptasi ‘The Little Engine That Could’? Buku itu bercerita tentang kereta api yang bergerak ke bukit dengan perlahan dan tersendat. Lokomotifnya berkata pada diri sendiri, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa.” Kereta pun terus bergerak perlahan naik hingga tiba di bukit dengan selamat.

Pelajaran sederhana yang dapat diberikan ialah: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Seandainya lokomotif itu tidak percaya akan kemampuannya tiba di atas bukit, bisa jadi kisah dalam buku itu berakhir menyedihkan.

Bukan hanya lokomotif itu saja yang dapat mengatakan, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa”, tetapi Anda pun dapat melakukan yang sama. William Arthur Ward, penulis kondang asal Amerika mengatakan, ”Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.” Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.

Kisah heroik lokomotif itu dalam dunia nyata dibuktikan sendiri oleh Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia. Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. Tapi Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa ia percaya kemampuannya dan belumlah habis. Hendrawan masih percaya bahwa ia dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, dan diiringi kerja keras yang tidak lelah, Hendrawan menunjukkan kepada dunia bahwa ia memang mampu meraih prestasi luar biasa.

Hendrawan membuktikan kemampuannya telah sempat dinyatakan sudah habis. Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Juga ia menjuarai Singapura Terbuka. Kemudian di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner up Jepang Terbuka. Dan pada tahun 2001, ia menjadi Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar yang menjadi idaman pebulutangkis manapun di dunia. Tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.

Percaya kemampuan diri sendiri tak harus ditunjukkan oleh mereka yang berprofesi sebagai atlet, yang bekerja di kantoran, yang mempunyai stamina fisik yang prima, atau mereka yang masih muda dan memiliki semangat menggebu-gebu. Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal pekerjaan, status, umur, dan jenis kelamin.

Generasi sekarang mungkin hanya mengenal nama Mak Erot. Seorang tokoh pengobatan khusus laki-laki yang telah tiada. Nama lain yang tak kalah kesohornya yang hampir mirip adalah Mak Eroh. Generasi sekarang mungkin tak mengenal nama ini. Tahun 1988, nama Mak Eroh sempat menyedot publik nasional. Saat itu, semua orang ramai memperbincangkannya . Mak Eroh, waktu itu berumur 50 tahun, perempuan dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memang telah mengukir prestasi besar.

Apa yang membuat nama Mak Eroh melambung? Mak Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Mak Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air sepanjang 47 hari. Ketika pertama kali Mak Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Mak Eroh percaya akan kemampuan nya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda. Seorang wanita yang mustinya menikmati hari tuanya dengan menimang atau bermain dengan cucu.

Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.

Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan. Berhentikah tindakan Mak Eroh mengebor tebing cadas? Belum. Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Bukan main! Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Mak Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.

Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.

Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, ”Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda benar.” Percaya akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif, dan teruslah bergerak untuk maju. (210708)

“Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda.”
– Marie von Ebner-Eschenbach, penulis, 1830-1916

Sumber: Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Sebuah Kisah Tentang Kehidupan

Alkisah di suatu desa di tepi hutan tinggal seorang kakek tua dengan putra tunggalnya. Mereka hidup dari beternak kuda yang diambil susu dan dagingnya. Sang putra kerjanya sehari-hari menggembalakan beberapa ekor kuda yang mereka miliki ke padang rumput.

Suatu hari seperti biasa putranya membawa kuda-kuda merumput ke lapangan. Karena kelelahan dia tertidur di bawah sebatang pohon rimbun. Saat terbangun, dia terkejut karena dia mendapati kuda-kudanya tidak di lapangan lagi, tetapi entah hilang ke mana. Dia mencari-cari mereka, tetapi berakhir dengan sia-sia. Akhirnya, dengan langkah gontai, dia pulang ke rumah.

Berita kakek tua kehilangan kuda-kuda peliharaannya membuat gempar desa kecil tersebut. Para tetangga segera berdatangan menyatakan duka mendalam atas kemalangan yang menimpa keluarga kakek itu. Seorang tetangga sambil menenangkan kakek tua berkata, “Sungguh malang nasibmu, Pak Tua. Semua kudamu telah tiada. Sia-sia jerih payahmu selama ini. Sungguh malang nasibmu.”

Kakek tua terdiam sejenak, lalu menjawab, “Saya tidak merasa kemalangan, hal ini biasa saja. Semua ini hanya bagian dari kehidupan.”

Para tetangga bingung dengan tanggapan kakek tua, dan merasa kasihan karena dia mungkin hanya sekedar menghibur diri. Lalu mereka semua meninggalkan keluarga kakek tua untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk menenangkan diri.

Beberapa hari berlalu. Dan suatu pagi, terjadi kegemparan. Ternyata pada malam sebelumnya kuda-kuda kakek tua kembali lagi ke kandangnya. Dan bersama dengan mereka ikut segerombolan kuda liar dari hutan. Dalam sekejap mata kakek tua memiliki banyak kuda.

Berita ini kembali menggemparkan seisi desa. Para tetangga datang memberikan selamat atas keberuntungan ini. Semua memuji bahwa nasib kakek semakin baik di hari tuanya. Mereka berucap, “Sungguh beruntung nasibmu, Pak Tua. Sekarang kamu memiliki kuda paling banyak dan menjadi orang paling kaya di desa kita.” Kakek tua hanya menggelengkan kepala sambil menjawab, “Saya merasa biasa-biasa saja. Ini hanya sekedar satu peristiwa dalam hidup saya. Semua ini hanya bagian dari kehidupan.”

Para tetangga semakin bingung dengan sikap kakek tua yang agak aneh itu. Mereka menganggapnya orang yang tidak tahu bersyukur dalam hidup. Lalu mereka meninggalkan kakek tua yang semakin membingungkan mereka itu.

Beberapa hari berlalu. Seperti biasa, putra kakek tua secara berkala mencari kayu bakar di hutan untuk keperluan memasak. Pagi-pagi putranya berangkat ke hutan, dan sesampainya di sana, mulai menebang pohon untuk mengambil batang kayunya. Karena kurang hati-hati, suatu ketika kapak yang dia ayunkan ke batang pohon meleset dan menebas kaki kanannya. Kakinya mengalami pendarahan dan luka yang parah. Dia akhirnya diselamatkan oleh penduduk desa yang kebetulan lewat.

Berita tentang kecelakaan putra kakek tua kembali menggemparkan desa. Beramai-ramai mereka datang ke rumah kakek tua untuk membesuk putranya. Mereka merasa kasihan dan berusaha menghibur kakek tua karena putranya bakal menderita cacat seumur hidup. “Sungguh malang nasibmu, Pak Tua. Putra satu-satumu sekarang cacat. Siapa lagi sekarang yang membantu dan menjagamu?” Kakek tua hanya diam membisu, tertegun merenung, lalu menjawab, “Bagi saya ini hal yang biasa. Demikianlah yang seharusnya terjadi. Semua ini hanya bagian dari kehidupan.”

Para tetangga semakin bingung dengan jawaban kakek tua. Kali ini mereka menganggap kakek tua ini bukan saja orang yang aneh, tetapi mungkin sudah hampir gila. Lalu, mereka tanpa banyak bicara meninggalkan kakek yang mereka anggap lain dari biasa itu.

Beberapa hari berlalu. Suatu hari desa itu kedatangan tentara kerajaan yang sedang mencari pemuda-pemuda sehat untuk diikutsertakan berperang karena kerajaan sedang diserang musuh. Semua pemuda yang sehat dari desa itu diambil paksa untuk ikut kewajiban membela kerajaan. Berhubung putra kakek tua cacat maka dia tidak ikut dibawa pergi. Maka kakek tua tetap dapat hidup tenang di masa tuanya dengan ditemani putra tunggalnya.

Cerita di atas memberikan inspirasi kepada kita tentang hakekat kehidupan. Jika Anda pernah mendengar atau membaca sebelumnya, biarlah cerita ini mengingatkan Anda kembali untuk menghayati hidup dengan cara yang baru.

Moral cerita di atas begitu sederhana. Hidup ini penuh dengan serangkaian peristiwa yang datang silih berganti. Ada yang kita sukai dan menyenangkan kita, ada yang tidak kita sukai dan mengantarkan penderitaan bagi kita. Begitulah kehidupan, dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang terkadang memberi keberuntungan, terkadang membawa kemalangan. Dan dengan cara demikianlah kita memberi label atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup.

Moral yang lain, ketika kemalangan datang menghampiri, kita tidak perlu terlalu bersedih hati. Tersenyumlah, mungkin saja keberuntungan sedang dalam perjalanan mengunjungi kita. Dan ketika keberuntungan mengetuk di pintu kehidupan, kita tidak perlu merasa senang dan bahagia berlebihan. Siapkanlah hati, mungkin saja kemalangan sedang mengintai, menunggu saat lengah untuk menerkam kita.

Kisah di atas sangat mempengaruhi cara pandang saya terhadap kehidupan. Saya berharap hal yang sama terjadi terhadap Anda juga. Semoga.

Penulis adalah trainer pengembangan diri tinggal di Jakarta, dapat dihubungi di www.gimhok.com

Kenangan

Kenangan

Sejenak mari kita berjalan mundur, kembali ke 6 tahun yang lalu. Dari tahun 2004 sampai saat ini, berapa banyak kah peristiwa yang dapat tersimpan dan berkesan bagi Anda. Berapa banyak kenangan yang tersimpan di album hati Anda?

Ok, kita tutup lembaran lama itu. Tidak baik berlama-lama dimasa lalu. Karena waktu geraknya selalu maju.

Sepuluh tahun dari sekarang. Apa yang akan anda ingat tentang HARI INI…? Apakah pakaian yang anda pakai, atau yang anda santap saat makan siang, atau yang anda tonton nanti malam? Mungkin tidak satupun dari itu.

Adakah sesuatu dari HARI INI yang akan anda ingat? ataukah semuanya hanya akan jadi rangkaian kabur deretan hari setelah satu dua minggu seperti deretan tahun-tahun yang lalu.

Pikirkan hal-hal yang dapat anda kerjakan SEKARANG, sehingga anda dapat memiliki kenangan akan HARI INI. Hal yang anda akan ingat dengan bangga karena anda telah mengerjakannya.

Ada orang yang dengan mereka anda bisa mencapai sesuatu.
Ada tujuan yang bisa anda rintis hari ini.
Ada masalah yang bisa anda selesaikan hari ini.
Ada kebaikan yang anda bisa berikan pada orang lain hari ini
Ada hal baru yang bisa anda pelajari hari ini.
Ada kesempatan yang dapat anda nikmati hari ini.

Apakah anda akan mengingat hari ini, dalam sepuluh tahun ke depan..? Mungkin tidak. Tetapi bayangkan betapa berartinya hidup anda, bila anda mencoba membuat setiap hari anda memiliki suatu kenangan.

Semoga sukses bersama saya dan Anda…. Amin

Sikap Kita Menciptakan Takdir Kita

Sikap Kita Menciptakan Takdir Kita

Cerita berikut menggambarkan bahwa dengan hanya mengubah sikap ternyata dunia disekeliling kita juga berubah jadi lebih baik. Cerita yang aslinya berasal dari negri Tiongkok saya sadur jadi versi Indonesia.


Si Tigor akhirnya mempersunting Juminten, seorang kembang desa yang telah lama di pacarinya. Setelah menggelar resepsi dan liburan sebentar, Tigor harus kembali bekerja. Pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan. Karena mereka belum mampu untuk beli rumah sendiri, jadi sementara menumpang di rumah ibunya Tigor yang memang tinggal sendirian. Biar Juminten nggak kesepian kalau siang dan sekalian jagaiin ibu, demikian pikir si Tigor.

Ibunya si Tigor sebetulnya nggak setuju anaknya nikah dengan Juminten, tadinya ia berharap Tigor mau nikah sama si Butet yang masih paribannya. Dasar Tigor dah kadung cinta mati sama Juminten, malah ngancam akan bunuh diri kalau nggak nikah sama bunga desa itu. Ibunya yang nggak mau terulangnya tragedi Romeo Juliet nggak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan anak semata wayangnya ini.

Ibunya si Tigor juga dah kadung nggak suka sama Juminten. Dia selalu mencari-cari kesalahan Juminten. Kayaknya puas kalau bisa ngomelin Juminten sekecil apapun salahnya. Itung-itung melampiaskan uneg-uneg,syukur-syukur si Juminten langsung minta cerai.

Awalnya Juminten masih bisa tahan denger omelan pedes ibu mertuanya. Tapi dia kan juga manusia. Makin lama omelan-omelannya makin nggak jelas alasannya. Masak cuma gara-gara Juminten nggak sengaja kesandung kursi aja si ibu mertua udah nyentak nyolot : "Bah! Kaow taro' dimana Kaow punya mata,Taruh di belakang ****** ?". Belum lagi omelan nggak bisa masaklah,nyapu ngak bersihlah,kebanyakan tidurlah. Akhirnya Juminten udah nggak tahan lagi. Hingga terbersitlah di benaknya sebuah rencana jahat !

Dengan alasan kangen orang tua Juminten minta ijin pulang kampung pada suaminya.
"Tapi aku kan nggak bisa libur sayang, masak kamu mau pulang sendiri". Kata Tigor agak keberatan. "Nggak apa bang, Juminten bisa kok pulang sendiri. Tinggal naik kereta nanti minta jemput bapak di stasiun". Ujarnya merengek. Dengan berat hati Tigor pun mengabulkan permintaan istrinya yang cuma satu-satunya ini. (ya iyalah emangnya mau berapa).

Sesampainya di kampung tanpa berlama-lama Juminten langsung meluncur ke rumah mbah Karjo, tabib desa yang kebetulan masih saudara dekatnya.
"Mbah Juminten mau minta tolong". Katanya memelas.
"Ono opo to nduk ?". Mbah Karjo bertanya bingung.
"Juminten mau minta ramuan racun mbah". Katanya tegas.
"Hah racun? Untuk apa to nduk?". Mbah Karjo terkaget.
"Ya untuk ngeracuni wong to mbah".
"Wong sopo? Kamu ini waras ora?".
"Ya waras mbah. Juminten mau bunuh ibu mertuaku. Abis aku sudah ndak tahan tiap hari di marahi terus walau aku nggak buat salah". Satu-satunya jalan ibu mertuaku harus di bunuh. Dengan semangat berkobar-kobar Juminten menceritakan semua yang dialaminya.
Mbh Karjo cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam panjang. "Ayolah mbah, mau kan nolongin aku?". Juminten kembali merengek.

"Yo wis tunggu sebentar". kata mbah Karjo dengan berat hati. Dia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar membawa botol kecil berisi bubuk putih. "Nduk, ini bubuk racun yang kamu minta. Racun ini bekerja dengan perlahan tapi pasti. Taburkan di makanan dan minumannya. Karena bubuk ini tidak ada rasa jadi tidak ada orang yang akan tahu".
"Mbah makasih ya". Kata Juminten senang. "Eh tunggu dulu ada syaratnya".Mbah Karjo buru-buru menimpali.
"Apa syaratnya mbah?". kata Juminten nggak sabar.
"Untuk menghindari kecurigaan orang lain dan ibu mertuamu,selama proses peracunan ini kamu harus berbuat baik dan melayani ibu mertuamu". "Lho kok gitu mbah?". protes Juminten.
"Semua untuk menghindari kecurigaan orang lain. Jadi saat ibu mertuamu nanti berhasil mati nggak ada orang yang curiga semua itu akibat racunmu. Layanilah ibu mertuamu sebaik-baiknya. Masaklah semua makanan-makanan kesukaannya. Jangan pernah membantahnya. pokoknya hanya berbuat baik saja ya nduk, paham?". "Paham mbah !".

Mulailah Juminten melaksanakan misinya. Setiap pagi ia selalu bangun awal menyiapkan sarapan, membersihkan rumah dan mencuci pakaian.Setelah itu ia pergi ke pasar mencari bahan-bahan masakan kesukaaan ibu mertuanya. Sebelum matahari sampai di puncak, makan siang yang lezat sudah siap saji di meja makan untuk si ibu mertua, tentu dengan campuran bubuk racun. Menjelang sore teh hangat dan kue-kue yang menggoda juga sudah terhidang mantap di meja makan. Makan malam sudah selalu siap sesaaat setelah mentari pulang ke peraduannya.Juminten selalu mengumbar senyum di depan mertuanya dan tak pernah terlihat mengeluh bila di suruh apapun.

Ibu mertuanya yang melihat sikap Juminten jadi luluh hatinya. Ia merasa sudah terlalu kasar sama menantunya ini. Padahal Juminten selalu berbuat baik dan rajin. Pada tetangga-tetangganya ia kini selalu memuji-muji Juminten. Ia pun mulai sering mengajak Juminten mengunjungi teman2 atau saudara2nya. Dan pastinya nggak lupa membanggakan Juminten setinggi langit di depan mereka. Kini juminten di akuinya sebagai menantu yang sangat sopan dan berbakti.

Giliran Juminten yang bingung melihat perubahan pada ibu mertuanya. Disatu sisi dia masih selalu memberikan racun pada makanan dan minumannya. Tapi disisi lain ia kini juga mulai sayang pada ibu mertuanya. Aku harus segera bertindak ! pikirnya.

"Lho belum lama kan kau sudah pulang kampung. Masak sekarang mau pulang lagi?". Tanya si Tigor bingung. "Iya ada apa sih nak? Apa orang tuamu sakit?". Ibu mertua menambahkan.
"Bukan bu, tapi saya benar-benar harus segera pulang. Saya janji cuma sehari saja di kampung, lalu akan balik lagi kemari". Juminten memohon.
"Apa perlu ibu temani kamu?". "Oh jangan bu, saya nggak mau ngerepotin siapa-siapa, biar saya sendiri saja. Lagian kan cuma sehari kok".

Begitu turun dari kereta Juminten langsung tancap gas menuju rumah mbah Karjo. Tanpa basa-basi langsung membangunkan si mbah yang sedang tidur-tiduran di bale bambu.
"Mbah bangun...tolongi Juminten lagi mbah". Katanya setengah teriak.
Mbah Karjo kaget sekaget-kagetnya. Hampir copot jantungnya. "Ono opo Nduk? Hampir berhenti jantung mbah". Katanya ikut tersengal-sengal.
"Mbah Juminten minta penawar racun yang tempo hari mabha kasih itu".
"Racun yang tempo hari? Oh gimana sudah mati ibu mertuamu?". Kata si mbah mulai menguasai keadaan.
"Waaaaaaaaaaa mbah aku nggak jadi mau bunuh dia, cepat mbah minta penawar racunnya biar dia nggak jadi mati" Juminten mulai menangis.
"Lho memangnya kenapa to nduk?".
"Ibu mertuaku sekarang sudah baik sama aku mbah. Aku juga dah sayang sama dia sekarang. Aku nggak mau dia mati karena racun itu hu hu hu ...". tangis Juminten.
Sambil menghela nafas mbah Karjo berkata : "Ya sudah nduk. Ibu mertuamu nggak akan mati karena bubuk putih itu".
"Maksud mbah". Juminten tak mengerti.
"Bubuk putih yang mbah kasih itu bukan racun. Tapi ramuan tumbuhan racikan mbah sendiri, yang berkhasiat untuk menyehatkan dan menyegarkan tubuh. kamu lihat kan, Ibu mertuamu sekarang jadi lebih sehat dan segar he he he ..." Si mbah tertawa senang.

Gubrakkk !!! Juminten pun terjatuh pingsan.

Sumber : Blog of Seezqo

Jangan Menyerah pada Kelemahan Anda

Di Hawai, ada seorang cacat yang tidak punya tangan kanan sejak lahir, namun tangan kirinya normal. Sewaktu masih kecil, ia sering dihina dan diolok-olok oleh teman2nya. Ia menjadi rendah diri (minder) karena kecacatannya itu.

Pada suatu hari, dia bertemu seorang guru beladiri (di Hawai banyak orang keturunan Jepang yang ahli beladiri), dan Guru itu bertanya kepadanya “Apakah kamu mau kalau saya mengajarimu ilmu beladiri supaya kamu menjadi percaya diri?” Jawabnya dengan semangat “Mau, saya sangat mau!”


Akhirnya, orang cacat itu diajari satu jurus kuncian dan ia diminta untuk terus mempraktikkannya. Hingga berminggu2 lamanya, murid itu terus menerus mempraktikkan satu jurus itu saja. Pada minggu ke-16 murid itu merasa sudah pandai. Ia lalu berkata “Guru, tolong ajarkan kepada saya jurus yang lainnya.” Gurunya menjawab “Praktikkan jurus itu lagi, sekarang belajar lebih cepat, dan lebih kuat!” Setelah beberapa minggu, ketika muridnya mengatakan “Guru saya sudah ahli.” Gurunya menjawab, “Kamu harus lebih kuat dan lebih cepat lagi, kamu harus banyak lawan tanding!” Gurunya bertanya “Apakah kamu sudah ahli?” Kalau memang sudah ahli selanjutnya kamu bisa mempraktikannnya dengan lawan tandingmu.” Ternyata jurusnya bekerja dengan sempurnya dan ia bisa mengalahkan pada lawan tandingnya dengan mudah.

Gurunya puas dengan hasil tersebut, dan berkata. “Baiklah, sekarang kamu akan saya daftarkan dalam pertandingan bela diri berkelas.” Namun si murid berteriak, “Guru! Saya kan baru bisa menguasai satu jurus, tapi mengapa anda sudah mendaftarkan saya?” Gurunya menjawab “Tidak masalah!” Kemudian sang murid berpikir, “Oh, kalau saya didaftarkan ke suatu pertandingan, mungkin saya akan diajarkan jurus yang baru karena pertandingan masih 8 minggu lagi.” Ternyata tidak, dia hanya tetap diajari satu jurus yang sama, satu jurus kuncian, terus menerus hanya diajari satu jurus itu. Dalam latih tanding dia dapat mengalahkan semua lawan tandingnya. Lalu ia berkata “Guru, apakah saya harus mengikuti pertandingan hanya berbekal satu jurus ini?” Gurunya menjawab, “Sudahlah, yang penting kamu terus praktik lawan tanding yang lebih cepat dan lebih kuat untuk menyempurnakannya.” Murid yang cacat itu bertanya lagi, “Apakah saya tidak diajari jurus lainnya?” Gurunya berkata dengan lantang. “Tidak!” Kemudian murid itu berkata “Guru, kalau nanati saya kalah, saya akan menjadi sangat malu.” Gurunya memberikan semangat, “Tidak masalah, kamu ikut saja.”

Tibalah hari pertandingan itu. Si murid tersebut tetap hanya menggunakan satu jurus untuk bertarung dengan semua lawannya. Ketika menghadapi lawan pertama, dengan cepat ia bisa mengunci lawannya dan dengan cepat pula lawan itu tidak bisa bergerak sama sekali dan menyerah. Demikian seterusnya hingga babak ketiga, dia hanya menggunakan satu jurus dan berhasil mengalahkan semua lawannya dengan cepat. Kemudian dia masuk babak semi final, dan dia berkata kepada gurunya, “Waduh guru….., sudah tiga kali saya menggunakan jurus ini, nanti saya akan ketahuan oleh lawan saya selanjutnya, please, tolong saya diajarkan jurus sakti yang lainnya agar saya bisa menang lagi”. Gurunya menjawab dengan tegas “Sudahlah, kamu pakai jurus itu saja dengan lebih cepat dan lebih kuat.”

Akhirnya. Dengan sedikit terpaksa murid itu maju ke babak semifinal dengan tetap menggunakan satu jurus tadi, dan ternyata lawannya dapat dikunci dengan cepat dan menyerah kalah. Ia berteriak merayakan kemenangannya
Akhirnya ia mencapai babak final. Kali ini lawannya adalah juara bertahan selama tujuh kali berturut2. Secara spontan ia berkata lagi kepada gurunya, “Waduh Guru….,, Kali ini saya benar2 tidak berkutik, dia juara bertahan dengan rekor tujuh kali mempertahankan gelarnya. Saya empat kali menang hanya menggunakan satu jurus yang sama terus-menerus, bagaimana saya bisa menang melawan juara ini?” Murid itu tampak mulai tertekan dan berkata, “Tolong…, ajari saya jurus sakti yang baru, tolonglah saya guru!” Gurunya menjawab, “Tidak! Kamu tetap masuk final hanya dengan satu jurus itu dengan lebih cepat dan lebih kuat lagi!”

Dan ketika akhirnya ia berhadapan dengan juara bertahan itu dengan hanya menggunakan satu jurus yang digunakan sebelumnya, ternyata dalam waktu singkat juara bertahan itu dapat terkunci dan menyerah kalah. Kemudian dia merayakan kemenangannya dengan kegembiraan yang luar biasa. Malam harinya ketika murid tersebut pulang, ia disambut dengan pesta yang sangat meriah. Dan ketika semua sudah pulang dari pestanya, yang masih tinggal hanya dia dan gurunya. Mereka duduk di tepi panta melihat ombak yang menderu dan memecah di tepian pantai dalam sinar cerah bintang dan rembulan.

Kemudian si murid bertanya kepada gurunya, “Guru, saya tidak habis pikir, mengapa saya bisa jadi juara dengan hanya satu jurus?” Gurunya menjawab, “Ada dua hal mengapa kamu bisa menjadi pemenang. Pertama , Teknik kuncianmu itu adalah teknik kuncian yang paling hebat di dunia beladiri, sangat sulit diantisipasi, apalagi kalau kamu jalankan dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Kedua, teknik kuncian kamu ini sebenarnya ada penawarnya atau ada cara menghindarinya. Tetapi untuk melakukan nya lawanmu harus memegang tangan kananmu, dan kamu tidak punya tangan kanan…….!!”

Marketing Revolution. Tung Desem Waringin

Akulah Temen Sejatimu

Akulah Teman Sejatimu

Aku adalah teman sejatimu.

Aku adalah penolongmu yang paling hebat, Juga adalah bebanmu yang paling berat.

Aku akan mendorongmu maju atau menyeretmu kedalam kegagalan.

Aku sepenuhnya tunduk pada perintahmu.

Sembilan puluh persen (90%0 hal yang kamu perbuat boleh kamu serahkan kepadaku dan
aku akan dapat mengerjakan secara cepat dan tepat.

Aku mudah diatur, tunjukkanlah kepadaku bagaimana persisnya kamu menghendaki
sesuatu dikerjakan dan setelah beberapa kali aku akan mengerjakannya secara
otomatis.

Aku adalah hamba semua orang hebat dan sayangnya juga hamba semua orang pecundang.

Aku bukan mesin, walaupun aku bekerja dengan presisi mesin ditambah intelegensi manusia.

Kamu bisa menjalankan aku demi meraih keuntungan atau malah hancur, tidak ada bedanya bagiku.

Ambillah aku, latihlah aku, bersikaplah tegas terhadapku, maka aku akan menempatkan dunia dibawah kakimu.

Bersikap longgarlah terhadapku maka aku akan menghancurkanmu.

Siapakah aku?

Aku adalah “Kebiasaan”.

Kebiasaan-kebiasaan yang baik harus dipegang erat-erat dengan kuat dengan
komitmen yang tinggi.

Terlepas bagaimana perasaan anda saat itu, setiap keputusan yang dikuatkan
oleh kehendak anda untuk mengambil tindakan sesuai dengan komitmen anda akan
mendatangkan hasil-hasil yang mengagumkan dalam waktu yang relatif singkat.

Raja Baik dan Raja Jahat

Raja Baik dan Raja Jahat

Alkisah ada seorang Raja yg baik hati dan di cintai rakyat nya di sebuah Negri nan jauh disana, dan dizaman yg sama hidup pula seorang Raja jahat yg suka menindas rakyat nya di sebuah Negri yg berbeda. Suatu ketika kedua orang Raja ini tiba-tiba jatuh sakit, Raja yg baik hati divonis oleh sang Tabib akan meninggal jika tidak makan seekor ikan tertentu, begitu pula dgn Raja yg jahat. Rakyat dari Raja yg baik hati itu sangat yakin ikan tsb mudah untuk di temukan krn emang udah musim nya, namun rakyat dari raja yg jahat merasa pesimis krn bkn musim nya ikan itu ada di negri tsb.
Namun Taqdir berkata lain, sang Raja yg baik hati itu akhirnya meninggal dunia krn tdk mendapatkan ikan yg dimksd oleh sang tabib, namun sang raja yg jahat malah sembuh krn mendapat ikan yg di mksd oleh sang tabib. Malaikat yg menyaksikan kejadian itu sangat heran dgn kebijakan Tuhan. Akhirnya sang malaikat memberanikan diri untuk bertanya langsung kpd Tuhan. ” Wahai Tuhanku mengapa Engkau mentaqdirkan kematian kpd Raja yg baik hati Namun Engkau biarkan hidup Raja yg Zholim kpd rakyat nya?” kata si malaikat. Tuhan menjawab,

“Wahai malaikat ku, Aku mentaqdirkan Raja yg baik hati itu meninggal krn dia pernah melakukan suatu dosa pd suatu hari, Aku ingin dia menghadap Ku tanpa membawa Dosa tsb. maka Aku langsung balas Dosa nya di dunia. Sedangkan Raja yg jahat itu suatu ketika pernah berbuat kebaikan, maka Aku balas kebaikan nya langsung di dunia sehingga ketika dia menghadap Ku nanti tidak ada amal kebaikan nya barang sedikit pun dan Aku pun tidak ragu-ragu memasukan nya ke dalam Neraka.” Sekarang mengertilah si Malaikat atas hikmah kebijaksanaan dari Tuhan nya, si malaikat pun berseru” Maha Suci Engaku Wahai Tuhanku, Engkau lah yg Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana.”
ditutup dgn sebuah Ayat yg berbunyi, ” Boleh jadi engkau menyukai suatu hal padahal ia buruk untuk mu, dan boleh jadi engkau membenci suatu hal padahal ia baik untuk mu.” [Al-Qur'an]

ket :
cerita ini untuk orang dan hamba-hamba Allah yg sering berburuk sangka dgn ketetapan Allah (Taqdir), mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menutupi aib kita didunia dan akhirat. Amin,,,,

http://my.yahoo.com/
http://reader.google.com/
http://360.yahoo.com/

Ketika Pak Muchlas Menghadapi Ujian Naik Tingkat

(Penulis : Ibu Iswanti AD)

Hari Sabtu siang kemarin, senang sekali saya bisa bertemu dengan rekan-rekan guru di sebuah sekolah di mana saya pernah mengajar. Kebetulan saya suka berkomunikasi lewat fesbuk dengan sebagian guru yang masih aktif mengajar di sana. Maka suasana silaturahim saya ke sekolah diselingi dengan acara menusuk, karena ternyata ada guru yang berani uji nyali diakupunktur hehe.

Pak Muchlas adalah guru yang berani uji nyali diakupunktur. Keluhan beliau adalah kaku di leher, pundak dan punggung atas. Saya tidak percaya ketika ia menyebutkan penyebab keluhannya itu. Ia menyebutkan bahwa keluhannya datang setelah ia mengalami goncangan jiwa akibat suatu masalah yang ia hadapi. Setelah selesai penusukan, saya sampaikan ketidakpercayaan saya itu padanya. Bagi saya aneh sekali bila seorang Pak Muchlas yang begitu semangat dan penuh dengan rasa optimisme bisa mengalami keadaan yang rasanya hanya dimiliki orang yang sangat lemah hatinya.

Sedikit tentang Pak Muchlas, beliau ini sebenarnya kerja di sebuah perusahaan swasta dan jabatannya sudah berada di level atas. Karena dedikasi dan rasa tanggung jawabnya pada dunia pendidikan, maka setiap hari Sabtu beliau relakan waktu liburnya untuk mengajar di sekolah dengan bayaran yang tentu saja tidak berarti bila dibandingkan dengan gajinya di kantor.

Pak Muchlas lalu menceritakan pengalamannya ini pada saya dan pada 2 rekan guru yang lain. Dulu Pak Muchlas merasa tidak pernah menyangka hidupnya akan susah. Masa-masa sekolah yang indah, masa kuliah yang penuh gairah dan kebanggaan karena sudah bisa membayar uang kuliah dengan hasil keringat sendiri sehingga menjadikan hidupnya penuh dengan rasa percaya diri.

Suatu masa dalam hidupnya ia pernah tinggal di Palembang. Dengan segala pencapaiannya ia menargetkan hidupnya agar bisa berada pada level teratas, namun ia menemui suatu kegagalan. Ia mengalami pukulan diakibatkan targetnya yang tinggi tapi tidak tercapai, malah segala usahanya hancur berantakan. Lalu Muchlas yang hidup dengan rasa percaya diri yang prima ini akhirnya ambruk. Orangtuanya tidak percaya anak yang mereka banggakan bisa mengalami depresi.

Pada saat down ini, seorang temannya rajin mengirimkan tulisan-tulisan penyemangat baginya. Ternyata tulisan-tulisan yang ditulis secara sederhana ini menyentuh hatinya dan menjadi obat baginya untuk berdiri tegak kembali. Ia rajin mengumpulkan tulisan-tulisan ini yang akhirnya ia didaulat teman-temannnya menjadi seorang motivator.

Apakah cobaan baginya sudah selesai sampai di situ? Ternyata ia masih harus mengikuti ujian agar ia bisa naik level yang lebih tinggi lagi di mata Allah.

Di awal tahun 2009 kembali ia didera cobaan disaat keadaan kehidupannya sudah berada di ambang normal. Mungkin karena terlalu percaya pada orang lain, di tahun itu ia pernah tertipu uang dengan jumlah nominal yang sangat besar. Sebagian dari uang itu adalah uang saham dari rekanan kantornya, maka ia pun kelimpungan untuk menggantikan nilai nominal yang sangat besar itu.

Saat berada pada titik terendah, tiba-tiba istrinya menelponnya memberitahukan tubuh anak bungsunya tersiram air bakso. Menurut keterangan dari RS di Bogor, hanya ada 2 rumah sakit di Jakarta yang sanggup menangani keadaan putra bungsunya ini. Dengan ketiadaan uang di rekeningnya, ia bawa anaknya ke RS swasta yang disebut pihak RS Bogor. Ternyata hari itu juga Pak Muchlas diminta menyediakan uang sebesar 150 juta untuk biaya operasi anaknya. Ketika Pak Muchlas meminta tenggang waktu 3 hari, pihak RS swasta itu dengan teganya tanpa tedeng aling-aling menutup telepon. Saat itu dunia terasa begitu menghimpitnya. Namun ia yakin Allah tidak akan membebani beban yang tidak sanggup ia pikul.

Bagi Pak Muchlas, didera cobaan yang bertubi-tubi ternyata membuat dirinya hidup penuh dengan energi. "Karena cobaan itu saya jadi tambah giat bekerja, Bu. Saya coba mencari bisnis lain yang bisa memenuhi kebutuhan saya akan uang. Dan akhirnya saya bisa bekerja di kantor sambil jualan sekarang. Alhamdulillah Allah memudahkan jalan saya," katanya.

Dengan segala pengalamannya dalam menghadapi badai, Pak Muchlas terlihat begitu tenang menghadapi hidup. Ia merasa Allah mengingatkannya karena ia pernah lupa pada-Nya. Dulu hidupnya selalu dipenuhi ambisi untuk mengejar dunia dengan melupakan akhirat. Ibarat seseorang yang selalu mengingatkan orang yang ia kasihi dengan ucapan namun peringatan itu tidak didengarnya, maka lemparan batu di kepala yang menyakitkan ternyata mampu membuat orang yang bersangkutan sadar dan menoleh siapa yang menegurnya itu.

Kini Pak Muchlas hidup bekerja di dunia untuk mencari kebahagiaan akhirat. Dan dari hikmah segala ujiannya itu, ia selalu ingin menebarkannya pada orang-orang sekitarnya, termasuk pada para muridnya, mengenai tujuan penciptaan kita di dunia ini. Selamat ya Pak, Bapak sudah naik tingkat :)

Jawaban Sederhana Penuh Makna

Jawaban Sederhana PENUH MAKNA


Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus
tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang
sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik - rintik
selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit
berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang
bakso dorong lewat.

Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan
beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau
bakso ?

“Mauuuuuuuuu. ..”, secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu
disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue
semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkali
ada tujuan ?”

“Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang
sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya
ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak Orang
lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan
iman “.

“Maksudnya.. .?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan
sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup
sehari - hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk
melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi
tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya
yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama
yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu,
untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang
besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di
setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan
sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17
tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan
ibadah haji.

Hatiku sangat…sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah
jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki
nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu
memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali
berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya
melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut :
“Iya memang bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.

Iya menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal
mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau
pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi “mampu” adalah sebuah
definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.
Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka
mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau
kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka insya Allah dengan segala
kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.

“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.

Sahabat….
Cerita ini sangat sederhana. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan
kita. Amin

oleh : Dede Farhan Aulawi
http://my.yahoo.com/
http://reader.google.com/
http://360.yahoo.com/

Chatting dengan Tuhan

TUHAN : Kamu memanggilKu ?

AKU: Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-
bincang denganmu.

AKU: Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih
baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU: Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang
sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah
menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi
produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu,
produktifitas membebaskan waktu.

AKU: Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting
seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu
beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium
yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.

AKU: OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang
membuatnya jadi rumit.

AKU: Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu
merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi
kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU: Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu
banyak ketidakpastian.

TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran
adalah sebuah pilihan.

AKU: Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah
sebuah pilihan.

AKU: Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu
menderita?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat
dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa
menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik
bukan sebaliknya.

AKU: Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru
pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU: Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa
kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN : Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan
kekuatan mental (Purposeful Roadblocks Offering Beneficial Lessons
(to)Enhance Mental Strength). Kekuatan dari dalam diri bisa keluar
dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU: Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu
kemana harus melangkah…

TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana
kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati
memberimu arah.

AKU: Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang
dapat saya lakukan?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan
perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau
sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain
bekejaran dengan waktu.

AKU: Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada
masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau
syukuri,jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

AKU: Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”. Jika
mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”.

AKU: Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi
apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan
itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU: Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini
dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU: Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak
dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya
adalah TIDAK.

AKU: Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup
adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

TUHAN has signed out.

sumber : http://juragantea.blogspot.com/search/label/renungan

Hidup, Semangat dan Perjuangan

Hidup, Semangat dan Perjuangan


sepedamotorKetika dalam perjalanan pulang setelah mengikuti kegiatan rutin, di samping kiri aku melihat seorang bapak mengendarai sepeda motor dengan gerobak disampingnya. Nampaknya dia sudah selesai berjualan dan hendak pulang.

Awalnya, aku tidak peduli….sampai aku melihat sesuatu yang menurutku ganjil.

Oh Tuhan…Kakinya tidak menapak pada “pancatan” (aku ga tahu apa namanya) sepeda motor. Kakinya hanya menggantung kecil ….kira2 hanya berjarak 40cm dr pangkal pahanya. Diujung kaki itu, dikenakan sebuah sepatu yg bagus..bersih…dan arah sepatu itu terbalik…ujung jari yg seharusnya ke depan…ini justru ke belakang.

Sejenak aku merasa miris. Aku kagum dengan semangat bapak itu. Walau keadaannya seperti itu, dia tetap semangat bekerja. Dia tidak meminta-minta. Dia tidak berpakaian kusut supaya dikasihani, tp justru berpakaian rapi dan bersepatu. Dan dia bekerja sampai semalam ini (pkl 21.30)

Aku terus menatap bapak itu sampai hilang dr pandanganku….

Aku merenung. Adakah aku lebih semangat dr bapak itu? Aku lebih sempurna secara fisik. Lebih banyak hal yg bisa aku lakukan. Tapi sampai seberapa mampu aku mengolah segala yang aku miliki. Sering kali aku memoles diri supaya dikasihani…menempatkan diri sebagai sosok yang menderita..memiliki persoalan hidup terberat…memasang muka masam…dan putus asa untuk berusaha.

Tapi…seorang bapak yang tidak kukenal …malam ini telah mengajar aku … bahwa apapun keadaan diri kita, jgn kita berputus asa. Semua ada jalan…asal kita mau berusaha. Teruslah bersemangat.. Tampilah sebagai orang yang pantas dihargai..bukan dikasihani.

Terima kasih Tuhan…

Salam,
Lia Krisna

Terima kasih atas kirimannya saudara Lia Krisn(Emmelia Gracia Krisna)

Percaya Kemampuan Diri Sendiri

Percaya Kemampuan Diri Sendiri


WAKTU masih kecil, Anda mungkin pernah mendengar kisah adaptasi ‘The Little Engine That Could’? Buku itu bercerita tentang kereta api yang bergerak ke bukit dengan perlahan dan tersendat. Lokomotifnya berkata pada diri sendiri, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa.” Kereta pun terus bergerak perlahan naik hingga tiba di bukit dengan selamat.

Pelajaran sederhana yang dapat diberikan ialah: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Seandainya lokomotif itu tidak percaya akan kemampuannya tiba di atas bukit, bisa jadi kisah dalam buku itu berakhir menyedihkan.

Bukan hanya lokomotif itu saja yang dapat mengatakan, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa”, tetapi Anda pun dapat melakukan yang sama. William Arthur Ward, penulis kondang asal Amerika mengatakan, ”Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.” Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.

Kisah heroik lokomotif itu dalam dunia nyata dibuktikan sendiri oleh Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia. Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. Tapi Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa ia percaya kemampuannya dan belumlah habis. Hendrawan masih percaya bahwa ia dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, dan diiringi kerja keras yang tidak lelah, Hendrawan menunjukkan kepada dunia bahwa ia memang mampu meraih prestasi luar biasa.

Hendrawan membuktikan kemampuannya telah sempat dinyatakan sudah habis. Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Juga ia menjuarai Singapura Terbuka. Kemudian di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner up Jepang Terbuka. Dan pada tahun 2001, ia menjadi Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar yang menjadi idaman pebulutangkis manapun di dunia. Tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.

Percaya kemampuan diri sendiri tak harus ditunjukkan oleh mereka yang berprofesi sebagai atlet, yang bekerja di kantoran, yang mempunyai stamina fisik yang prima, atau mereka yang masih muda dan memiliki semangat menggebu-gebu. Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal pekerjaan, status, umur, dan jenis kelamin.

Tahun 1988, nama Mak Eroh sempat menyedot publik nasional. Saat itu, semua orang ramai memperbincangkannya . Mak Eroh, waktu itu berumur 50 tahun, perempuan dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memang telah mengukir prestasi besar.

Apa yang membuat nama Mak Eroh melambung? Mak Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Mak Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air sepanjang 47 hari. Ketika pertama kali Mak Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Mak Eroh percaya akan kemampuan nya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda. Seorang wanita yang mustinya menikmati hari tuanya dengan menimang atau bermain dengan cucu.

Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.

Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan. Berhentikah tindakan Mak Eroh mengebor tebing cadas? Belum. Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Bukan main! Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Mak Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.

Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.

Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, ”Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda benar.” Percaya akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif, dan teruslah bergerak untuk maju.

“Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda.”
– Marie von Ebner-Eschenbach, penulis, 1830-1916

Sumber : resensi.net

Makin Terjepit Makin Melejit

Makin Terjepit Makin Melejit
Penulis : Victor Asih

Mengapa sampai kini Albert Einstein dianggap sebagai orang yang paling jenius di dunia? Bukankah banyak orang yang memiliki IQ lebih tinggi dari Einstein? Akan saya ceritakan suatu kisah (sebut saja behind the history) yang mungkin bisa menjawabnya.

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel saya yang berjudul "Mengapa pohon kelapa banyak tumbuh di pantai?". Dari cerita ini kita akan belajar bagaimana mengubah situasi terjepit menjadi melejit dan mengubah "batu sandungan" menjadi "batu loncatan" untuk dapat melejit lebih tinggi.

Seperti yang saya janjikan diakhir artikel yang lalu, bahwa saya akan bercerita tentang tokoh Albert Einstein.

Pada saat Albert Einstein baru menemukan teori relativitas, beliau bekeliling dari satu universitas ke universitas lainnya untuk mempresentasikan rumus relativitas E=mc2 yang ditemukannya. Setiap kali pergi presentasi, beliau selalu didampingi oleh seorang supir yang hanya lulusan setingkat sekolah dasar.

Setiap kali Einstein melakukan presentasi, sang supir ini selalu memperhatikannya walau pun tidak mengerti materi apa yang dipresentasikan. Maka setelah puluhan kali melihat presentasi, sang supir menjadi hafal dengan semua materi yang dipresentasikan walau pun dia tidak mengerti artinya.

Pada suatu saat, Einstein merasa lelah sekali setelah melakukan beberapa kali presentasi sekaligus. Di tengah perjalanan menuju universitas yang terakhir, tubuh ringkihnya tidak sanggup menahan keletihan.

Einstein merasakan bahwa dia dapat saja sewaktu-waktu pingsan kelelahan ditengah-tengah acara presentasi terakhir nanti. Dia mengeluhkan hal ini kepada supirnya. Sang supir yang memahami keadaan majikannya menawarkan suatu bantuan.

Katanya, "Bukankah orang-orang di sana belum mengenal wajah Pak Einstein?" (karena saat itu Einstein belum terkenal seperti sekarang)

"Saya telah hafal semua materi yang Bapak sering presentasikan. Walau pun saya sama sekali tidak mengerti artinya."

"Kalau saya mengaku sebagai Pak Einstein, tidak akan ada orang lain di sana yang mengetahuinya", kata si supir.

"Pak Einstein, bagaimana kalau saya membantu menggantikan Bapak untuk presentasi di universitas terakhir ini?", kata si supir.

"Memangnya kau yakin bisa?", tanya Einstein.

"Saya yakin Pak! Dan hal ini akan lebih baik dari pada kemungkinan Bapak gagal presentasi karena pingsan", jawab sang supir.

"Bagus juga usul mu itu. Saya setuju!", jawab Einstein setelah berpikir sebentar.

Universitas yang terakhir yang akan dikunjungi adalah Syracuse University di New York. Universitas yang terkenal memiliki banyak pakar jenius matematika.

Akhirnya, sesaat sebelum sampai di universitas tersebut mereka bertukar posisi. Einstein menyamar menjadi supir dan sang supir menyamar menjadi Einstein.

Sesampainya di universitas, sang supir yang dikira Einstein disambut dengan tepuk tangan meriah dan duduk di kursi VIP. Sementara Einstein asli yang dikira supir duduk di bagian belakang penonton sambil beristirahat.

Tiba saatnya presentasi, sang supir naik ke panggung dengan percaya diri dan mulai mempresentasikan teori relativitas. Einstein beristirahat sambil mengamati dengan tegang dari kursi belakang. "Benarkah supir saya telah hafal dengan semua rumus yang biasa saya presentasikan?", tanyanya dalam hati.

Sang supir menulis di papan tulis persis seperti Einstein menulis dan berbicara dengan gaya mirip Einstein. Rupanya sang supir telah hafal dengan materi yang biasa Einstein presentasikan di universitas-universitas sebelumnya. Hal ini karena sudah puluhan kali sang supir mengamatinya walau pun tidak mengerti artinya. Einstein pun mengangguk-angguk dan merasa kagum pada sang supir.

Selesai presentasi, tepuk tangan membahana dari para penonton. Dan sang supir pun turun dari panggung dengan hati merasa lega.

Sesaat kemudian moderator berkata, "Maaf, Pak Einstein. Silahkan naik lagi ke atas panggung."

"Ada yang mau bertanya?", teriaknya kepada para penonton.

Sang supir terkejut, karena biasanya setelah Einstein selesai melakukan presentasi langsung turun dari panggung disertai ditepuk-tangan dan acara presentasi pun selesai. Sambil merasa was-was dia berdoa dalam hati, "Mudah-mudahan tidak ada penonton yang bertanya karena sudah jelas dengan apa yang dipresentasikan".

Tiba-tiba seorang pria berdiri dan berkata, "Saya tidak mau bertanya."

"Saya selamat....", kata supir dalam hati.

"Saya hanya ingin menyanggah! Rumus matematika yang dipresentasikan tadi salah!", seru pria tersebut.

"Celaka...!", kata supir dalam hati.

"Saya mana mengerti tentang rumus matematika?", jeritnya dalam hati.

"Silahkan dijelaskan, Pak Einstein", kata moderator.

Dalam keadaan terjepit sang supir berpikir mencari satu jalan keluar. Akhirnya dia berbicara kembali.

"Siapakah Bapak?", tanya sang supir.

"Saya Profesor George, Pakar Matematika di universitas ini", jawabnya.

"Celaka tiga belas!", jerit sang supir dalam hati.

Tadinya dia berpikir, jika yang bertanya adalah mahasiswa maka sang supir akan menjawab, "Silahkan bertanya saja pada dosen matematika anda".

Dan jika yang bertanya ternyata adalah dosen, maka dia akan menjawab "Silahkan bertanya saja pada Profesor Matematika anda".

Tapi ternyata yang bertanya adalah Profesornya. Akan bertanya kepada siapa?

Keadaan sang supir makin terjepit. Tetapi sang supir tidak kekurangan akal. Dia selalu mencari satu jalan keluar.

"Pak George adalah Profesor Matematika di universitas yang terkenal dengan para pakar matematikanya ini..?!", serunya dengan mimik wajah terheran-heran.

"Hemmm...."

"Sunggung memalukan!"

"Masak... rumus matematika sederhana seperti ini saja tidak paham?"

"Lha..! Supir saya saja paham kok!"

"Maju, Pir! Terangin nih pada profesor...", katanya sambil melambaikan tangan kepada Einstein yang sedang duduk istirahat di kursi belakang.

Majulah Einstein yang dikira supir menuju ke panggung dan menerangkan rumus tersebut dengan sejelas-jelasnya.

Semakin terkagumg-kagumlah para penonton terhadap Einstein. Ternyata, supirnya saja bisa diajari oleh Einstein menjadi lebih pintar dari pada profesor. Apalagi sang Einsteinnya?

Itulah sebabnya mengapa Einstein sampai saat ini dianggap orang yang paling jenius di dunia.

Mengenai kelanjutan dan lebih terinci bagaimana membuat prestasi melejit dalam situasi terjepit dan serba sulit dapat anda baca di buku "8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit". "Buku Ajaib", demikian komentar banyak orang yang telah membacanya.

[Victor Asih, Founder Sekolah Bisnis Gratis USB, Mentor, Entrepreneur, Inspirator, Motivator, Software Engineer & Information Technology Consultant, Kolumnis, Penulis Buku Unik Bestseller "8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit"]Penulis bisa dihubungi melalui email victorasih@yahoo.co.id atau website www.usbschool.com atau blog usbschool.blogspot.com

Filosofi Memanah

Filosofi Memanah

Alkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.

Setibanya di pinggir hutan, raja memutuskan beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah. Dengan tergopoh-gopoh, si pemburu menyambut kedatangan raja beserta rombongannya.

Setelah berbasa-basi, tiba-tiba si pemburu berkata, "Maaf baginda, sepertinya baginda sedang jengkel dan tidak bahagia. Apakah hasil buruan hari ini tidak memuaskan baginda?"

Bukannya menjawab pertanyaan, sang raja malah beranjak menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan. "Pemburu, kenapa busurmu tidak terpasang talinya? Apakah engkau sudah tidak akan memanah lagi?" tanya sang raja dengan nada heran dan terkejut.

"Bukan begitu baginda, tali busur memang sengaja hamba lepas agar busur itu bisa ‘istirahat'. Jadi, ketika talinya hamba pasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontarkan anak panahnya. Karena berdasarkan pengalaman hamba, tali busur yang tegang terus menerus, tidak akan bisa dipakai untuk memanah secara optimal".

"Wah, hebat sekali pengetahuanmu! Ternyata itu rahasia kehebatan memanahmu selama ini ya," kata baginda.

"Memang, kami turun temurun adalah pemburu. Dan pelajaran seperti ini sudah ada sejak dari dulu. Untuk memaksimalkan alat berburu, kebiasaan seperti itulah yang harus hamba lakukan. Mohon maaf baginda, masih ada pelajaran lainnya yang tidak kalah penting yang biasa kami lakukan."

"Apa itu?" tanya baginda penasaran.

"Menjaga pikiran. Karena sehebat apapun busur dan anak panahnya, bila pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal untuk bisa mencapai sasaran buruan yang kita inginkan".

Mendengar penjelasan si pemburu, tampak sang raja terkesima untuk beberapa saat. Tiba-tiba tawa sang raja memenuhi ruangan. "Terima kasih sobat. Terima kasih. Hari ini rajamu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari seorang pemburu yang hebat."

Setelah cukup beristirahat, raja pun berpamitan pulang dengan perasaan gembira. Dan timbul keyakinan, lain kali pasti akan berhasil lebih baik.
--------

Kita butuh keahlian dalam mengatur irama kerja dan saat kapan kita harus beristirahat, agar keefektivitasan kerja tetap terjaga. Dan, kemampuan (untuk) fokus dalam melakukan segala kegiatan harus mampu kita bina dan tumbuh kembangkan.
Dengan kemampuan mengunakan dua kekuatan tadi, tentu kita akan menjadi manusia yang efektif dalam menggeluti usaha dan pasti (hasilnya) akan maksimal dan memuaskan.