Minggu, 01 Februari 2009

Kisah Seekor Anak Singa

KISAH SEEKOR ANAK SINGA

Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerak-gerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.

Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan kehangatan dan penuh kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, si bayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.

Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya. Tingkah lakunya juga persis layaknya kambing. Bahkan anak singa mulai beranjak besar pun mengeluarkan suara layaknya kambing. Ia mengembik bukan mengaum!

Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.

Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor srigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi srigala.

“Kamu singa, cepat hadapi srigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan srigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.

Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari srigala.

Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan srigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah,

“Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya kamu bisa mengusir srigala yang jahat itu!”

Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tak faham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada srigala sebagaimana kambing-kambing yang lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Hari berikutnya srigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing itu untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh srigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat yang telah dianggap sebagai ibunya dicengkeram srigala. Dengan nekad ia lari dan menyeruduk srigala itu. Srigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa dihadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya.

Srigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!

Dengan kemarahan luar biasa anak singa itu berteriak keras,

“Emmbiiiik…!”

Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang-ancang untuk menyeruduk lagi.

Melihat tingkah anak singa itu, srigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang dihadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.

Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu!

Saat anak singa itu menerjang dengan menyerundukkan kepalanya layaknya kambing, sang srigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, srigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya.

Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan srigala. Bukankah singa adalah raja hutan?

Tanpa memberi ampun sedikitpun srigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh. Srigala itu siap menghabisi nyawa anak singa. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang srigala. Sang srigala terpelanting. Anak singa bangun.

Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat!

Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang srigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa.

Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari. Singa dewasa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing! Ia mengejar anak singa itu dan berkata,

“Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!”

Namun anak singa it uterus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa ketakutan,

“Jangan bunuh aku, ampuun!”

“Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”

Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, “Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!”

Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.

Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing danbermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa.

Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, “Oh rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa si raja hutan!”

“Ya, karena sebenarnya kamu anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.

“Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”

Ya, kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa.

Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetakan seantero hutan. Tak jauh dari situ srigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu.

Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, “Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”

Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya….

Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan-jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya.

Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa-biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.

Kita amati orang-orang di sekitar kita. Diantara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang ia lalui adalah prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk menaklukkannya.

Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau “Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis,

“Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”

Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ‘mengalir bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ‘seekor singa’ tapi tidak tahu kalau dirinya ‘seekor singa’. Mereka menganggap dirinya adalah ‘seekor kambing’ sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing. Bisa jadi mereka sebenarnya memiliki potensi yang besar, kemampuan yang besar, kekuatan yang besar. Tapi mereka tidak tahu, mereka menganggap dirinya sama dengan kebanyakan orang, kerdil, berfikiran sempit, hidup hanya untuk sekarang. Yang penting hari ini saya senang dan hari ini saya kenyang, tidak peduli dengan hari esok dan masa datang. Berfoya-foya dengan kesenangan semu yang pada akhirnya ia terombang-ambing dengan lingkungannya sendiri. Ia pasrahkan hidupnya pada keadaan sekarang dan tidak mau berubah….

Dimana-mana, kita lebih banyak menemukan orang-orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya, Orang-orang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera.

Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing, meskipun sebenarnya mereka adalah singa!

Banyak yang minder dengan negeri lain, seperti mindernya anak singa bermental kambing pada srigala dalam kisah di atas. Padahal sebenarnya, bangsa ini adalah bangsa yang besar! Sekolah SMA 81 adalah sekolah yang besar!

Tiga ratus peserta TO kali ini adalah tiga ratus singa, penguasa belantara dunia! Itulah yang seharusnya. Sayangnya, tiga ratus yang seharusnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa! Lebih memperihatinkan lahi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya adalah singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!

Yang lebih memperihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab mereka tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh!

Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai manusia di muka bumi, makhluk terbaik diantara makhluk-makhluk yang lain. Dan kita dimasukkan ke dalam salah satu sekolah terbaik di negeri ini. Oleh karena itu marilah kita menjadi orang yang bermental terbaik di negeri ini, dan mempunyai cita-cita terbaik di jagad ini……

(Sumber bacaan: KCB, Habiburrahman ES)

Tidak ada komentar: